Langsung aja kan ya...
Ini dia...
******
Kejadian itu sudah berlalu seminggu, dan suasana kembali normal. Terlihat Jimin sangat nyaman di divisi yang ia tempati, selain para yeoja yang menyayangi nya, para namja yang terlihat melindungi Jimin dan para yeoja lainnya.
Seperti sekarang, mereka ada tugas ke divisi yang nyaris di penuhi oleh para namja, divisi perencanaan. Para namja langsung pasang badan jika saja ada namja yang terlihat ingin menggoda yeoja mereka.
"Kalian bisa berbicara dengan kami...sunbae, tak perlu mendekati mereka..kami sudah hapal luar kepala masalah yang kalian tanyakan" ujar Joshua dengan aura gentle membuat para namja tak bisa berucap.
Itu salah satu contoh, dan masih banyak contoh yang lain.
Kalau pada nanya Taehyung gimana??? Jawabannya, gak gimana-gimana..namja Kim itu biasa aja sih, kalau ketemu teman sekantor Jimin saat menjemput yeoja park itu. Biasa datar, beda kalo ketemu Jimin. Aura protektifnya keluar dan itu selalu membuat yang memandang tak percaya dengan status keduanya yang katanya sahabat.
"Jim...temanin Mingyu ya menghadap Jeon sajangnim..." Scoup mendatangi meja Jimin,
"Iya oppa..." Jawaban yang simple dari Jimin karena dia tak ada alasan untuk mengatakan tidak.
"Sekalian, Jimin yang berbicara. Itung-itung latihan..ya" ujar scoup lagi
"Iya oppa..." Ujar Jimin lagi.
"Gyu... sekarang ya..." Mingyu mengacungkan jempolnya dan langsung berdiri, berjalan mendekat kearah Jimin.
"Hwaiting, Jimin manis..." Lisa memberikan semangat pada Jimin.
Yeoja bermarga park dan namja bermarga kim berjalan menuju lantai teratas, dimana atasan tertinggi berada. Jimin berjalan dengan santai begitupun mingyu.
"Jim, nanti jangan gugup kalau tatapan Jeon sajangnim menatap lurus padamu ya..." Ujar Mingyu
"Kenapa begitu, oppa???"
"Jeon sajangnim itu kalau menatap orang, tajam. Dan selalu disalah artikan oleh banyak orang. Kadang karena tatapannya yang mengintimidasi membuat pikiran rada blank...pahamkan maksud aku,???" Jimin diam untuk beberapa saat dan tak lama dirinya mengangguk paham.
Ting....
Lift terbuka, keduanya keluar dari kita bergerak itu dan berbelok kearah kanan. Diujung koridor terdapat satu meja melingkar dan ada kursi ditengahnya dengan yeoja yang duduk dikursi.
"Noon... Jeon sajangnim ada???" Yeoja itu mengangkat kepalanya dan menatap mingyu serta Jimin dengan tatapan datar.
"Ada, dia sudah menunggu kalian. Masuk aja..." Ujar yeoja itu santai
"Gumawo, Yoongi noona..." Ujar Mingyu
"Kamsahamnida.. Yoongi-ssi" ujar Jimin sopan, senyum tipis terlihat dari bibir yeoja bermarga Min.
Tok..tok...
"Masuk...."
Suara yang menginterupsi keduanya, Mingyu mendorong pintu dengan ukiran unik dan aestetik.
"Selamat siang, sajangnim..." Ujar Mingyu dengan memakai nada hormat. Bagaimana pun, namja yang duduk ditengah.ruangan itu adalah atasannya, di luar persahabatan mereka.
"Mingyu...aku tak suka kau memanggil ku dengan sebutan itu.." ujar namja yang masih fokus membaca berkas di meja miliknya
"Ahahha...baiklah kook,.. terserah mu saja..." Ujar Mingyu. Namja kim itu geleng kepala melihat sahabatnya yang tak pernah berubah jika terlalu fokus.
KAMU SEDANG MEMBACA
kepercayaan..
Romansayeoja mungil yang sangat membenci namja yang merupakan ayah kandungnya, karena sakit yang diderita oleh sang ibu. membuat dia tak pernah percaya dengan yang namanya namja. yeoja itu, Jimin. dia yeoja yang kuat karena dia belajar dari sang ibu, Byun...
