Lana membuang pandangannya ke luar jendela. Saat ini ia dalam perjalanan menuju Bandung. Lana mengulur waktu untuk memberitahu Nessy tentang kepulangannya.
Ia sudah memikirkan dengan serius dan memutuskan untuk vakum sementara waktu dari pekerjaannya. Sudah waktunya ia pulang.
***
Gissel menyambut kedatangan putrinya dengan pelukan yang hangat. Menciumi seluruh bagian wajah anaknya dan membelai wajah yang tampak lelah itu. Rasa rindunya pecah berbaur dengan rasa hangat dan kelegaan.
Lega melihat anaknya sudah pulang, lega karna bisa melihat keadaan anaknya dengan matanya sendiri. Ia bersyukur Lana memilih segera pulang ketimbang mengurung diri di apartmen. Ia bisa saja menyakiti dirinya sendiri jika tidak ada seseorang yang menemaninya.
"Kamu sehat nak?"
"Iya, mama sehat?"
"Sehat, mama sekarang suka jogging kalau pagi-pagi"
"Nanti mama capek"
"Kalau capek mama berenti kok, gak dipaksain"
"Mama jogging sama siapa?"
"Sama Ibu Rukma, mantan calon mertua kamu"
"Kenapa panggilannya jadi begitu?"
"Hehe jadi mau dipanggil apa dong?"
"Ya sebut aja Ibu Rukma, gak usah pake embel-embel mantan calon mertua"
"Kamu itu, gitu aja ngambek, pantes gak ada pria yang berani ngelamar"
"Gak nyambung mah, udah ah Lana capek mau mandi"
"Ya udah, tapi jangan tidur dulu ya, makan dulu"
"Iya" Gissel menutup pintu rumah, lalu bergegas ke dapur untuk menyiapkan makan malam untuknya dan Lana.
***
Noah berjalan ke arah mobilnya yang terparkir tidak jauh dari lobby. Kakinya terasa berat sampai ia harus menyeretnya untuk tetap berjalan. Sementara Keenan memperhatikan Noah dari dalam mobil, ia bingung melihat Noah yang berjalan seperti zombie, padahal tadi baik-baik saja.
Noah membuka pintu kemudinya dengan malas. Duduk lalu memasang sabuk pengamannya dengan tidak bersemangat.
"Kok cepet banget Nuh?" Tanya Keenan di sampingnya. Noah menghela nafas berat.
"kata security Lana ke luar kota"
Keenan mengerutkan dahinya. Jadi planning mereka gagal?
"Lo udah check ke unitnya? Siapa tahu yang security maksud itu Nessa bukan Lana "
"Udah gue check, gak ada yang bukain pintu, ada security yang yang kebetulan lewat trus nyamperin gue, nanya gue cari siapa"
"Dia bilang Lana baru pergi kemarin, jadi unitnya kosong gak ada orangnya"
Noah menyenderkan kepalanya yang terasa berat. Tiba-tiba ia menjadi sangat lemas seperti belum makan seharian.
Baru saja ia ingin menyelesaikan masalahnya dengan Lana. Tapi wanita itu sudah kembali kabur duluan sebelum ia datang. Kenapa wanita itu suka sekali kabur?
"Security gak bilang Lana pergi kemana?"
"Dia cuma dikasih tahu, kalau Lana pergi ke luar kota, gak jelas keluar kotanya kemana" Noah memutar kuncinya, menjalankan mobilnya dengan kecepatan lambat.
Keenan mengambil ponselnya di dalam saku celana. Mencari nomor yang ingin ia hubungi.
"Halo Ness, lagi sibuk gak?"
"Ehm lo tahu gak Lana dimana?"
"Iya, tapikan gue gak bisa 24 jam sama dia Ness, ini gue lagi di apartmen lo terus kata security Lana keluar kota, gue pikir lo tahu"
"Ya udah, kabarin gue ya, gue siap jemput dia kalau dibutuhin"
"Okay" Keenan menutup sambungannya.
"Nessa juga gak tahu Lana kemana, lo percaya Lana beneran keluar kota?"
Noah menatap aneh ke arah sahabatnya.
"Ya ngapain juga security bohong Ken?" Noah menggeleng-gelengkan kepala. Pupus sudah harapannya hari ini.
Padahal ia sudah menyusun kata-kata untuk bicara baik-baik dengan Lana.
"Nuh, turunin gue di Mall Akasia ya, lo gak apa kan gue tinggal?" Noah mengangguk. Ia justru merasa lebih baik jika Keenan pergi menjauh.
Entah mengapa ia butuh menyendiri saat ini. Noah menghentikan mobilnya di tepi jalan.
"Sorry gue gak bisa temenin lo, kalo butuh apa-apa hubungin gue" Noah tidak menjawab, hanya menganggukkan kepalanya dengan ekspresi tak bersemangat. Ia kembali melajukan mobilnya setelah Keenan keluar dari mobilnya.
Ia tidak tahu apa yang dilakukan Keenan di Mall sendirian. Apalagi tanpa membawa mobilnya. Tapi Noah tidak berniat bertanya. Pikirannya hanya penuh dengan Lana, Lana dan Lana.
Kemana kira-kira Lana pergi?
***
Lana menyesap lemon tea hangat pesanannya. Suasana hatinya sudah lumayan membaik dari pada kemarin. Itu berkat kehangatan Ibunya, juga pria di hadapannya yang ikut memberinya penghiburan.
"Kamu masih suka minum lemon ya? kirain jadi model terkenal ngerubah kesukaan kamu dulu"
"Lemon tuh sehat Gas, untuk menambah imun kamu"
"Ya ya ya, aku udah sering denger itu dulu" Lana terkekeh.
Bagas emang gak pernah berubah, selalu bisa membuatnya tertawa meski perasaannya sedang galau.
"Eh Gas, kata mama kalau pagi dia suka jogging sama ibu kamu, benet ya?" Bagas meletakan cangkir kopinya.
"Iya, baru akhir-akhir ini sih, kenapa?"
"Kirain mama bohong, soalnya dia gak pernah olahraga apapun selama ini"
"Orang bisa aja berubah Lan, emangnya kamu gitu-gitu aja"
"Enak aja, aku kan sekarang udah jadi model, apanya yang gitu-gitu aja?"
"Iya deh yang model, aku mah apa atuh" Lana melempar tisu ke wajah itu.
Bagas tertawa geli melihat wajah Lana yang memerah dan menahan tawa tapi gengsi.
Bagas mengambil tisu yang terjatuh di lantai itu.
"Kamu tambah cantik tau! Yakin gak punya pacar di Jakarta?"
"Emangnya kalau cantik harus punya pacar?" Jawabnya dengan wajah yang masih memerah.
Lana tahu Bagas hanya ingin menggodanya.
"Setahu aku cewek cantik sayang dianggurin, minimal kamu dikerubungin banyak cowok kaya kotoran dikerubungin lalat"
"Oh jadi kamu nyamain aku sama kotoran?"
"Bukan kotoran, kan cuma perumpamaan"
"Perumpamaannya jelek banget"
"Hahaha ya udah lupain, intinya kamu cantik, dan sekarang udah mapan, gak niat punya hubungan serius?"
"Ribet banget, bilang aja kamu mau ngelamar aku"
"Hahaha kok tahu sih? Ah jadi gak seru dong" Lana terkekeh.
"Aneh kamu, sendirinya kenapa belum ada pacar? Sok ngurusin aku"
"Ya kan aku nungguin kamu Lan"
"Basi tahu"
"Hahaha dibilangin gak percaya"
"Aku serius Bagas!"
"Nah kan sok serius, giliran diseriusin gak mau"
"Ih kok jadi ngomongin itu sih"
"Iya aku serius, aku masih nungguin kamu Lana"
Lana tertegun sesaat, namun ia cepat tersadar. Ia berpura-pura mengaduk-aduk lemon teanya agar tidak tampak salah tingkah.
Dua tahun lalu ia telah menolak pria ini, padahal Bagas sangat berjasa dalam hidupnya. Rasanya Lana sangat tidak tahu diri jika menerima lamaran Bagas tanpa bisa membalas perasaannya.
Tapi barusan pria itu bilang masih menunggunya? kenapa dia masih menunggunya? Naif sekali jika Bagas pikir itu cinta. Itu lebih terkesan bucin.
Lana yakin perasaan Bagas hanya sebatas rasa penasaran saja, karna cintanya yang ditolak dulu.
Ia akui Bagas pria yang baik dan bertanggungjawab. Pria ini sangat penyayang, terutama pada orang tua dan saudaranya. Sudah pasti ia akan dicintai sepenuh hati jika suatu hari menjadi istrinya.
Bagas yang salah mengerti perasaannya, atau dirinya yang masih terpaku dengan masa lalu?
"Bahas yang lain aja ya, kayanya kamu jadi bete kalau bahas itu"
"gak kok, biasa aja"
"Bagus deh"
"Kamu sampai kapan di Bandung?"
"Ehm belum tahu, aku rencana mau bantu mama di sini"
"Emangnya kamu gak kerja?"
"Aku vakum sementara Gas"
"Kenapa?"
"Gak apa, sedikit jenuh dan kangen mama"
"Cuma itu?" Lana mengangguk.
"Kalau kamu vakum tandanya lumayan lama dong di sini?"
"Ya begitulah"
"Berarti bisa dong kalau aku sering-sering ajak kamu ketemu?"
"Bisa lah, lagian kontrakan aku deket sama rumah kamu, pasti kita sering ketemu"
"Bukan ketemu yang gitu Lana! Maksud aku kita jalan gitu, kaya dulu"
"Oh itu, iya bisalah, aku juga butuh temen disini"
"Hahaha makanya jangan anti sosial, banyakin temen!"
"Never!"
"Ckck masih aja kaya dulu"
"Biarin, gak dosa ini"
"Iya deh Ms. Always right" Lana terkekeh.
KAMU SEDANG MEMBACA
Hallo Sugar
Romansa21+ Dua pasang anak muda yang kembali dipertemukan ketika sama-sama sudah dewasa dan mapan. Noah Eldrick Ghozalie, seorang professional photograper ternama, berusaha mengejar kembali mantan kekasihnya yang sekarang menjadi seorang model. Mencari ses...
