Is It Really Me You're Missing?

911 102 42
                                        

requested by Kkompabin

Author's note:

POV orang ketiga || AU || OOC, Fanon || Bahasa baku & non baku || angst

***









"Hyung? kenapa?"

Ten masih menggerakkan tangannya diatas kertas sketsa. Menggambar satu sosok yang selama 4 tahun ini masih menghantui fikirannya. Menghiasi eksistensinya.

"Aku nggak tau... tiba-tiba aja aku kangen sama kamu..." suara lelaki disebrang sana terdengar begitu putus asa, dengan desah nafas berat yang sesekali terdengar.

Ten hanya tersenyum tipis. Hatinya sedikit berbunga mendengar penuturan lelaki itu.

'Should I say I miss you too?'. Ten sungguhan ingin bilang begitu.

"Kamu... marah sama aku? pesan-pesanku juga nggak dibalas" tambah lelaki ditelpon itu.

"Maaf hyung, aku ada pesanan buat bikin sketsa lagi. Seharian ini aku cuma megang pensil sama kertas. Ini juga aku masih sambil gambar" jawab Ten, sedikit berbohong, sedikit jujur. Seharian tadi dia memang mengerjakan pesanan klien, tapi yang sekarang ini bukan. Ini permintaan pribadi. Ten merenggangkan lehernya sejenak.

"Is that so? hmm... syukurlah. Aku fikir kamu marah"

"Aku nggak bisa marah sama Taeyong hyung. You know that"

Lelaki ditelpon yang ternyata bernama Taeyong itu tertawa kecil.

"Bisa datang malam ini ke tempatku? I need someone to talk with, dan cuma kamu yang aku fikirin sekarang..."

Taeyong tidak pernah merasa perlu untuk pura-pura peduli, sekedar menanyakan apakah ia mengganggu? apakah Ten ada waktu?

Taeyong selalu begitu.



'Tidak bisa'. Itu prasa pertama yang muncul di kepala Ten



'Jangan'. Logika kedua hadir difikiran Ten.


'Cukup'. Kembali fikirannya menghasut.




"Oke".

Oh, lihatlah mulut Ten yang mengkhianati seluruh fikirannya.







🎵Is it really me you're missing?
Or am I the only one who'll listen to you?
And if I pick up the phone tonight
Will it be pieces by the morning?
Am I the only number that you've tried?
Or is it just another lonely night?

***



















"Its fucking midnight! mau kemana kamu?" tanya Doyoung yang sejenak menutup telponnya agar Jaehyun--kekasihnya tidak mendengar umpatannya barusan.

"Aku ada perlu sebentar" jawab Ten yang langsung menyambar jaket tebalnya. Di luar sudah mulai turun salju pertama.

"Taeyong?" tanya Doyoung lagi berusaha menahan Ten lama. Matanya menajam. Suaranya terdengar ketus. Dari dulu Doyoung tidak pernah suka dengan Taeyong. Begitu pula hubungannya dengan Ten.

Ten tidak menjawab, hanya mengangguk sekilas sambil mencari-cari dompetnya didalam laci.

"Sayang, aku tutup dulu telponnya sebentar ya..." Doyoung segera melempar ponselnya saat sambungan itu terputus. Kini menatap teman serumahnya lebih baik.

"Kalau dia yang butuh, kenapa mesti kamu yang selalu datang?" suara Doyoung terdengar melembut. Sadar kalau Ten ini kepala batu. Mungkin kalau ia jadi air lama-lama bisa melubangi batu itu. Fikiran Ten yang susah Doyoung mengerti.

[end] Mellifluous (TAETEN)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang