Kacang dan Ketan

4.3K 532 152
                                    

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.




. . . . .


Mereka sudah putuskan. Samudra juga Angkasa, untuk sementara waktu akan menetap di rumah keluarga kecil Jeon.

Yeri menyuarakan sarannya, saat tahu dua remaja yang mereka temukan dalam perjalanan sebelumnya tidak memiliki tempat untuk berteduh.

“Hati-hati Mas, nyetirnya kalem aja.” Pesan Yeri, sebelum menyeberangi jalan tepat menuju rumahnya.

Tsk. Lihat tuh, bilang makasih juga enggak. Mau Mas pites aja si Yeri,” gerutu Jeongguk.

Taehyung meringis. Ingin berikan jeweran pada telinga sang suami, namun terlalu malu, sebab masih ada Samudra dan Angkasa yang memperhatikan mereka.

Dia tidak suka sifat suaminya yang satu itu. Suka menggerutu! Ya, walaupun dirinya juga sama. Tapi Taehyung masih tahu tempat.

“Om,” panggil Angkasa.

“Hm?” gumam Jeongguk, menyahuti Angkasa. Kepala keluarga itu mulai menginjak gas, dia jalankan kendaraan roda empat menuju rumah mereka.

“Jangan gerutuan begitu, bisa aja Kakak tadi lupa,” cetus Angkasa. Kemudian, dia tatapnya Jeongguk lewat kaca mobil sebelum melanjutkan.  “Orang suka menggerutu itu artinya kurang bahagia.”

Jika Samudra sifatnya pendiam, dan tenang. Beda dengan adiknya, Angkasa. Anak itu pintar sekali menjawab dan berbicara.

Namun ini menjadi rekor untuk Jeongguk. Dia bisa bertahan dan terus berusaha mendekati Angkasa. Beda jika dengan Yeonjie. Jeongguk tidak mau kalah pada bocah kecil itu.

Maka Jeongguk membalas cetusan Angkasa, tenang dan ditambah senyuman lembut.  “Om bahagia.” Lalu menangkap Taehyung dengan ekor matanya.

“Ya sudah. Jangan menggerutu lagi.”

Samudra sudah ingin menangis. Mulut adiknya ini terlalu berani. Bagaimana jika pasangan di depan mereka kesal akan tingkah Angkasa, lalu melempar mereka keluar dari mobil?

Oh, Samudra tidak bisa membayangkan yang satu itu.

“Kasa,” panggil Samudra, berbisik pada adiknya.

Angkasa yang sebelumnya menampilkan wajah lempeng. Bersinar terang ketika Samudra mengeja nama kecilnya.

“Kenapa, Kak?”

“Tadi itu tidak sopan.” Lirikan Samudra untuk Jeongguk dan Taehyung. Pastikan orang di depan mereka tidak menangkap pembicaraan kakak beradik itu.

“Gimana nanti kalau mereka berubah pikiran, dan ... dan ....” Bahkan Samudra tidak sanggup melengkapi ucapannya.

Takut-takut jadi kenyataan. Jeongguk maupun Taehyung berubah pikiran, dan tidak mau menampung mereka barang semalam.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Jul 11, 2020 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

CemaraTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang