Hai!!
I'm back?
Nungguin gak?
Maaf kalo jarak update nya lama gak kaya dulu
Maaf banget...
Lain kali aku usahain untuk up cepet
Kehilangan Reader's adalah sebuah hal yang aku takutkan, tapi aku juga gak berhak suruh-suruh kalian.
-oOo-
"Ayo, Bar," ajak Aya sambil menarik cowok ber-hoodie navy itu keluar dari kelas. Mereka pulang bersama karena memang tadi pagi Bara menjemputnya.
Langkah Aya terhenti begitu juga dengan Bara yang ditarik. Tubuh menjulang tinggi berdiri dihadapan gadis itu. Memakai seragam bengkel atau katelpak berwarna biru khas jurusan TBSM di SMK Barsel.
Bukan! Bukan Gebams.
"Kenapa?" tanya Aya langsung.
Sejenak netra lelaki di depannya itu mengarah pada Bara kemudian memandang Aya kembali. "Ke rumah sakit. Dia suruh gue jemput lo," ucapnya.
Alis Bara terangkat sebelah, memandang teman akrab Gebams itu. "Besok, besok gue jenguk Gebams lagi. Tapi hari ini gak bisa," cetus Aya.
Bahkan gadis itu tidak sadar masih menggenggam tangan Bara, seolah tak membiarkan lelaki itu lepas.
"Oke, besok lo dateng ke rumah sakit. Temen gue masih bucin banget sama lo soalnya," sahut Praynando kemudian berbalik menjauh. Menuju tangga untuk turun dari lantai empat.
"Ayo! Gue pengen cepet-cepet tidur, stres gua," geram Aya sambil menarik Bara kembali berjalan.
Bara hanya mengikuti apa mau gadis itu. Ia tau jika Aya masih kurang siap ditinggal kakaknya pergi. Berbeda pulau pula.
Sampai di parkiran sekolah, Aya langsung mengambil helm kemudian memasangnya di kepala. Bara mengeluarkan motornya yang diapit dua motor lain kemudian memberi kode agar Aya naik.
Belum sempat ia menancap gas, sebuah tangan melingkar di perutnya membuat Bara menunduk. Tidak biasanya Aya manja dan lemas seperti ini. Ah Bara kembali mengingatkan dirinya, gadis itu hanya masih bersedih karena kakaknya yang pergi PKL. Segera ia melajukan motornya meninggalkan sekolah.
"Mau beli sesuatu gak?" tawar Bara di tengah perjalanan.
"Gak, pengen pulang," tolak Aya sambil bersender di punggung Bara.
"Serius?"
"Iya."
"Nggak mau beli jajan du-"
"Jangan cerewet Bara! Gue gak mau."
Selanjutnya Bara memilih diam. Mood Aya dalam kondisi buruk. Dirinya tak ingin memperburuk lagi. Bisa-bisa ia kena hantam nanti. Bukan takut, Bara hanya tidak ingin Aya menjadi benci dan menjauh. Membayangkan saja Bara sudah sesak, entah sanggup atau tidak jika itu sungguh terjadi.
Sial! Pikirannya selalu menjadi negatif jika menyangkut Aya.
🍻🍻
Jam tujuh malam, Aya berdiri di depan cermin kamarnya. Menata rambut panjangnya agar tidak awut-awutan. Ia sudah memakai kaos putih polos di lapisi jaket jeans berwarna abu dipadu dengan celana joger senada.
Rambutnya ia biarkan tergerai kemudian mengoleskan lip balm warna peach di bibirnya. Ia meraih tas punggung kecil dan mengisinya dengan dompet, ikat rambut dan kotak p3k kecil. Sebungkus rokok juga ia masukan ke dalam tas.
Tanpa mematikan lampu segera ia keluar kamar. Bara sudah menunggu sejak ia tidur tadi. Kalau pun Bara tidak datang, mungkin Aya masih mengorok saat ini. Lelaki itu yang membangunkan tidur indahnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Mistakes [END]
Novela JuvenilAya Lusya Wardina cantik orangnya, siapa aja bakal ngincer dia jadi pacarnya. Sayangnya dia galak, jutek, songong, sombong dan masih banyak lagi sifat angkuhnya. Dibalik itu kalo udah temenan sama dia pasti paham sifat asli dia; baik banget. Aya lu...
![Mistakes [END]](https://img.wattpad.com/cover/204494153-64-k111632.jpg)