Ritual seperti biasa ya Mbak Mas Kakang Mbakyu
Koreksi jika ada typo dengan komentar berbaris
Terimakasih
Selamat membaca!!
-oOo-
Diawali dengan kesialan, itu yang menggambarkan Aya pagi ini. Dengan teganya Meisya meninggalkan dirinya di markas. Berangkat seorang diri ke sekolah tanpa membangunkan dirinya. Aya benar-benar akan mengumpati gadis itu dengan segala bentuk umpatan.
Menahan diri untuk tidak ugal-ugalan, Aya terus menggerutu di sepanjang jalan. Sudah hampir jam tujuh dan semua orang sudah mulai beraktivitas. Jalanan macet oleh berpuluh-puluh kendaraan. Walaupun tidak separah di kota-kota besar di Indonesia namun ini tetap menjengkelkan.
Aya sampai di parkiran Mang Ari yang sudah dipenuhi oleh kendaraan murid-murid yang lain. Untung saja masih ramai siswa siswi yang hendak masuk ke area sekolah. Hari ini Aya selamat dan tidak mendapat jeweran dari Pak Johan, kepala kesiswaan SMK Barsel.
Aya bersandar di pintu kelasnya. Menormalkan nafasnya yang memburu akibat maraton menaiki tangga hingga lantai tiga.
“Telat nih,” sapa Pras yang duduk di bangku paling depan kelasnya.
Gadis itu terjingit kaget dan langsung menjauhkan tubuhnya. “Asu,” umpat Aya sembari mengatur nafas.
Lelaki itu terkekeh kecil. “Tumbenan,” kata Pras.
“Biasa, kancilan,” sahut Aya kembali menyandarkan bahunya di pintu.
Ia melirik jam dinding di kelas. Masih pukul 7.15 dan guru belum datang. Syukurlah Dewi Fortuna memihak Aya.
“Ngalong terus. Push rank?” tanya Pras. Alisnya terangkat memperjelas tanyanya.
“Gak, udah lama gue kagak main di rank. Udah mulai bosen sama game,” jawab Aya.
“Gue yang mainin gimana?” tawar Pras menaikkan kedua alisnya meminta pendapat.
Sejenak berpikir, tak lama Aya berkata, “Boleh.” Ia mengangguk. “Nanti gue kasih tau passwordnya,” terusnya.
“Bayar tapi,” cela Pras menyengir.
Aya benar-benar menahan dirinya agar tidak membuat keributan di pagi hari. Padahal tangannya sedari tadi sudah gemas ingin menganiaya Pras. “Masih pagi Njing. Jangan buat gue marah dulu,” balas Aya mengeram rendah.
Pras terkekeh geli. Memilih menghiraukan lelaki itu, Aya berjalan menuju tempat duduknya. Danel masih berkumpul bersama yang lain. Para lelaki juga ghibah kalau kalian ingin tau. Tanpa disengaja pagi-pagi mereka sudah membicarakan seseorang sebagai topik.
🍻🍻
Pelajaran masih berlanjut namun guru pengajar entah pergi kemana. Jadilah kini kelas menjadi ramai. Semua ponsel kini beroperasi di atas meja tanpa ada yang takut disita.
Devi bergerak membalikkan kursinya menghadap Aya yang saat ini hanya diam sambil menggoyangkan kakinya—kebiasaan. Aya menaikkan dagunya tanda bertanya.
“Lo ada hubungan apa sama Bams?” tanya Devi tanpa ada basa-basi.
Candra sontak ikut membalikkan kursinya dan duduk dengan tenang. Menyimak apa yang kedua temannya bicarakan. Teman sebangkunya mendengus sambil memutar bola matanya, Candra selalu kepo.
Aya menggeleng menanggapi pertanyaan Devi. Ia was-was pada temannya itu, bisa saja Devi sudah mengetahui kebohongannya.
“Bams selalu nanyain lo ke gue. Bukannya apa-apa, tapi itu hampir setiap saat dan bikin gue risih, ngerepotin pula,” ungkap Devi. Sejenak ia menghela nafas kemudian melanjutkan katanya. “Mau gue block tapi kasihan,” sambungnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Mistakes [END]
Teen FictionAya Lusya Wardina cantik orangnya, siapa aja bakal ngincer dia jadi pacarnya. Sayangnya dia galak, jutek, songong, sombong dan masih banyak lagi sifat angkuhnya. Dibalik itu kalo udah temenan sama dia pasti paham sifat asli dia; baik banget. Aya lu...
![Mistakes [END]](https://img.wattpad.com/cover/204494153-64-k111632.jpg)