KALI INI AKU BENER-BENER LUPA
PERASAAN AKU DAH APDET TAPI KOK GA ADA NOTIF. TERNYATA CERITANYA EMANG BELUM KEAPDET 😭
MMF YA MNIS
INI DAH APDET NIH. JANGAN LUPA VOTE DAN KOMEN
SEKALIAN FOLLOW WATTPADKU YA BIAR GA KETINGGALAN EHEHE
LOVVVV ❤️❤️❤️
[]
"Iya, Yah. Nanti Calvin pulang nggak kemaleman kok."
Seorang cowok terlihat sibuk membereskan barang-barangnya yang semula tergeletak di kursi mobilnya. Ia berinisiatif memasukkan semuanya, pick gitar, powerbank, dompet dan barang penting lainnya ke satu waist bagnya.
"Tapi Ibu sama Ayah kan di sana?"
Tangannya berhenti seketika saat meraih kresek belanjaannya yang ada di kursi belakang. Calvin membeli minuman dan cemilan untuk Fachri, Keenan dan Rayn karena ini jadwal patungannya.
"Aku di studio kok. Mau latihan buat perform, nggak pacaran."
Band mereka punya studio sendiri, hasil swadaya Ayahnya dan juga hadiah ulang tahun Calvin. Sampai sekarang, tiap latihan pun mereka tidak perlu repot menyewa studio karena Calvin sudah memilikinya yang juga digunakan sebagai basecamp mereka.
"Aku tutup teleponnya. Dah."
Sambungan telpon ditutup, ia berjalan menyusuri gedung dengan berjalan santai. Berpikir bahwa ia akan menjadi orang paling awal yang datang ke sini karena mereka semua berjanji berkumpul pukul 4. Namun Calvin datang 1 jam lebih awal karena Ayahnya membatalkan jadwal check up mingguannya yang biasanya selalu dikawal oleh Calvin.
Namun ada yang terasa janggal. Ia mendengar sebuah suara aneh yang bersumber dari ruang istirahat.
Ada... suara lenguhan.
"Can you... just... be... faster...."
Suara itu berasal dari dua orang, laki-laki dan perempuan. Ayolah, walaupun Calvin belum masuk usia legal, tapi sudah jelas ia tahu itu suara apa.
Ia mengurungkan niat untuk mencari tahu lebih dalam selain mengintip dari celah pintu yang terbuka sedikit. Dengan perasaan campuraduk, dia berusaha menguatkan hatinya walaupun sebenarnya sudah retak sejak awal ia mendengar semua ini.
Dan...
Matanya benar-benar tidak salah.
Pemandangan itu jelas terekam oleh kedua bola matanya dan menjadi sebuah ingatan yang akan terus terputar sepanjang waktu.
Ia tidak berkata apapun selain berniat pergi ke sebuah tempat lebih dulu. Jelas Calvin akan menemui mereka namun hatinya perlu mempersiapkan diri. Barang-barangnya tadi ia simpan kembali ke dalam mobil dan ia pergi ke minimarket terdekat menggunakan mobilnya.
"Ada yang lain lagi, Kak?" Kasir perempuan itu terlihat canggung saat Calvin mengambil beberapa bungkus kondom berbagai varian dari rak dan meletakkannya di meja kasir.
KAMU SEDANG MEMBACA
[#1]: Ring The Bell
General FictionSemuanya berawal dari kesalahpahaman Odi tentang menyangka bahwa tetangga barunya adalah seorang gelandangan. Lalu berlanjut berkumpul menjadi kebahagiaan dan luka. ••• Aku nggak tahu, semakin hari, semakin aku sadar bahwa semua orang itu tak sebaik...
![[#1]: Ring The Bell](https://img.wattpad.com/cover/70766071-64-k981922.jpg)