empat puluh: Kenyataan yang Sebenarnya Getir

120 18 6
                                        

HAI KAMU!

AKU TERUS NGERASA BERSALAH TIAP LIAT WATTPAD KARENA RING THE BELL BELOM UP UP MULU

SAYANG SEKALI AKU SELALU KEHILANGAN TENAGA DAN WAKTU KARENA MENJADI ANAK ORMAWA BENAR-BENAR MELELAHKAN

APALAGI OMBUS (YANG KULIAH DI UNSIL PASTI TAU) BANYAK BANGET HAL DAN KEBIJAKAN YANG UBAH-UBAH. TAPI INSYA ALLAH DI NEXT CERITA AKAN LEBIH RAPI DAN SERING UPDATE. AWAL OKTOBER AKAN KUSPILL YA

MAKASIH KARENA MASIH SETIA SAMA CERITA INI

AKU SAYANG BANGET SM KALIAN WAHAI PEMBACAKU

MWAH❤️

JANGAN LUPA SPAM KOMEN BIAR BESOK UPDATE YA HAHAHA

[]

Cewek itu masih terlihat sama seperti dulu ketika Odi pertama kali menemuinya. Dia... ramah kepada semua orang. Menyebar senyum mempesonanya sehingga memberi citra begitu sempurna tanpa celah. Yang siapapun takkan menyangka apa yang sudah ia lakukan waktu itu kepada Odi.

"Kamu... kan pacarnya? Nggak dikasih tau? Serius? Wah pantes Calvin juga nggak pegang hape selama ini. Kamu emang nggak penting buat dia ternyata hahaha."

Odi mengamatinya selama kelas intensif. Konsentrasinya sedikit buyar karena cewek itu duduk di depan. Sebenarnya, kalau masalah fokus, Odi adalah ahlinya.

Tapi tampaknya hati mengalahkan logika dan kekuatan otaknya kali ini.

"Jadi untuk kecepatannya konstan ya, coba ditulis di buku."

Odi menuliskan sesuatu di bukunya sesuai perintah gurunya, namun yang ia lakukan hanya mencoret-coret bukunya. Matanya tetap saja melirik Ralisa diam-diam. Sampai akhirnya ia ketahua tidak memperhatikan guru, Odi menjadi sasaran teguran gurunya.

"Odita, coba fokus ke sini. Jangan melamun mulu ya." Ujar guru Fisika yang tampaknya mulai lelah, ditambah waktu sudah menunjukkan pukul 4 sore.

Setidaknya semua orang masih punya energi untuk tetap membuka kedua matanya.

Merasa ada yang memperhatikannya, Ralisa sadar lalu menoleh. Ia memicingkan mata diam-diam kepada Odi. Ya, diam-diam. Tentu saja untuk menjaga imagenya yang terkenal dengan sifat friendly-nya.

Bahkan sampai bubar kelas intensif, Odi masih saja memperhatikan Ralisa. Entah kenapa, rasanya selalu saja ada yang ingin Odi katakan. Sayangnya, disaat ia menemukan momen yang pas, kata-kata yang telah ia susun di benaknya mendadak lenyap seperti tak pernah ada.

"Kenapa? Ada masalah?" Ralisa akhirnya buka suara karena mungkin saja ia tidak nyaman dengan sikap Odi yang aneh.

Odi menggeleng pelan. Mencoba melewati Ralisa begitu saja saat mereka berada di pintu kelas.

Ralisa menghela napas dan menahannya, "Sampe kapan mau gini terus sih?"

"Aku nggak apa-apa, Ralisa."

"Shut the f*ck up."

"Aku cuma... masih bingung soal Calvin. Kenapa kamu... nggak ngasih tau aku."

[#1]: Ring The BellCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang