Semua pembacaku adalah temanku.
Tunjukkan kehadiran kalian dengan cara vote dan komen cerita ini ya!
Happy reading❤️
[]
"Di?"
Gensa langsung masuk ke kamar saat Odi terlihat tidak mengunci pintu kamarnya.
"Di, Aa minta maaf."
Odi terlihat merenung, tatapannya kosong. Matanya menatap keluar jendela kamar.
"Jangan ikut campur pake kekerasan kalo Odi nggak nyuruh."
"Aa cuma pengen ngasih pelajaran ke orang itu."
"Dia nggak salah apa-apa kalo soal perasaan. Yang salah itu ekspetasi Odi pada awalnya." Odi menatap Gensa lamat-lamat. "Nanti mah biarin ya, atau Odi nggak akan percaya ke A Gensa buat cerita lagi."
"Iya, Di, iya."
"Odi kemarin cuma minta didenger aja, nggak lebih."
"Maaf, Di."
"Sekarang Odi pengen sendiri."
Tak lama kemudian terdengar suara panggilan masuk dari ponsel Odi dibarengi dengan suara direct message masuk di Instagramnya secara bertubi-tubi.
"Itu hape kamu kok rame banget."
"Iya nggak apa-apa." Odi mengangguk cepat, "Tolong pintunya ditutup lagi."
Gensa menurut lalu memutuskan meninggalkan Odi.
Nomor Tidak Dikenal
Ia tidak tahu siapa yang menelpon, tapi ia harus tetap mengangkatnya.
"Halo?"
Tidak ada suara balasan dari sana. Kosong.
"Halo?"
Odi mencoba mendengarkan namun sama saja. Klik! Telepon ditutup, ia tak perlu memikirkan apapun lagi.
Ia pun membuka DM yang tadi mampir ke Instagramnya, dari username yang tidak ia kenal juga.
@dznjuyti
0 followers
Ada banyak foto dan video, namun yang menarik adalah...
Ada foto Odi yang wajahnya dicoret di sana. Entah apa maksudnya. Lalu videonya, banyak sekali video kekerasan dan porno yang dikirimkan. Tidak terhitung, namun ketika discroll jumlahnya banyak sekali.
Ponsel Odi berdering lagi. Sebuah telpon dari nomor tidak dikenal. Odi mengangkatnya dan jawabannya tetap sama.
Lalu telpon lain, kali ini Odi tak ingin mengangkatnya. Ia memutuskan mematikan ponselnya dan menjauh.
Ia bersembunyi di bawah selimutnya. Setakut itu.
[]
"Di, yuk." Ucap Calvin saat menjemput Odi seperti biasa.
Odi mengangguk, wajahnya terlihat pucat sekali.
"Kamu sakit?" Calvin menyentuh pipi Odi dan terasa panas. "Kamu panas."
"Aku nggak apa apa, Cal." Bibirnya membentuk sabit mungil, memastikan bahwa ia tidak apa-apa.
KAMU SEDANG MEMBACA
[#1]: Ring The Bell
Ficção GeralSemuanya berawal dari kesalahpahaman Odi tentang menyangka bahwa tetangga barunya adalah seorang gelandangan. Lalu berlanjut berkumpul menjadi kebahagiaan dan luka. ••• Aku nggak tahu, semakin hari, semakin aku sadar bahwa semua orang itu tak sebaik...
![[#1]: Ring The Bell](https://img.wattpad.com/cover/70766071-64-k981922.jpg)