10 - MIMPI

1K 137 24
                                        

Pintu bercat coklat kehitaman itu selalu menjadi saksi kepedihan Genta. Selama 3 hari, Genta akan pergi ke depan apartemen Lia. Berharap perempuan itu mau menemuinya sebentar. Tapi nihil, ia tidak pernah menjumpai Lia sedetikpun.

Genta juga tidak bisa menghubungi Lia karena handphonenya rusak. Meskipun Revan sudah meminjamkan salah satu dari sekian ponsel miliknya, Genta tetap tidak bisa menghubungi Lia.

Instagram gadis itu dinonaktifkan.

"Sampe segininya kamu ga mau ketemu aku lagi, Li..." Sesal Genta hampir putus asa.

Padahal 2 hari lagi harusnya adalah hari jadian mereka yang ke 3 tahun 4 bulan, tapi apa daya? Hubungan itu justru kandas terlebih dahulu.

Genta melirik ke arah jam di ponsel. Ini sudah waktunya salah satu dari temannya pulang. Maka ia harus ada di unitnya agar mereka tidak perlu khawatir.

Genta berjalan ke arah lift. Dan begitu pintu lift terbuka, perempuan yang ia cari cari selama ini ada disana.

"Lia?"

Mata Lia membulat karena tidak menyangka bisa bertemu Genta disini. Apakah Genta mencarinya? Apakah Genta menunggunya? Tapi semua pemikiran itu langsung ia tepis jauh-jauh.

Tanpa berkata apapun Lia berjalan melalui Genta, tapi tangannya ditahan.

"Dengerin aku dulu. Boleh?"

Lia masih dengan poker face nya menggeleng.

"Please, Li.... Please..." Genta benar-benar frustasi.

"Engga, Ta. Enough is enough. Aku kalah. Udah ga ada lagi yang harus diperjelas." Ucap Lia.

"Kamu ga kalah Lia. Ini bukan soal menang atau kalah. Aku—"

"Stop, Ta! Lupain aku! Aku udah ga sayang sama kamu!" Ucap Lia tegas "—Aku pergi."

Setelah itu Lia membalikkan tubuhnya dan berjalan menjauh hingga membuat Genta masuk ke lubang hitam tak berujung dan—

BUGH!

Genta terbangun. Jantungnya berdegup kencang. Kepalanya tiba-tiba berputar dan terasa nyeri.

Mimpi sialan!

Walaupun cuma mimpi, Genta bisa bilang mimpi itu lebih seram daripada mimpi dikejar Voldemort, pocong, atau kuntilanak sekalipun. Mungkin memang benar kata orang, jangan mimpi di siang bolong.

Cklek!

Genta menoleh dan mendapati Revan yang membawa sebuah termometer.

"Gue ga hamil." Ucap Genta lemah.

"Ini termometer, nyet! Bukan test pack!" Ucap Revan kesal.

Ah, ternyata Genta demam. Pantas saja mimpinya aneh.

Revan menyelipkan termometer itu di ketiak Genta dan membiarkannya sebentar.

"Di depan ada Shasha." Ucap Revan sambil membereskan beberapa buku Genta yang berantakan.

"Ngapain?" Tanya Genta.

"Gue suruh masak." Jawab Revan masih dengan tatapan yang fokus ke buku-buku Genta "—tapi anaknya malah bersih-bersih tuh. Katanya apartemen lo mirip kandang kucingnya dia."

Genta tidak menanggapi.

Pip! Pip! Pip!

Begitu termometer berbunyi, Revan langsung mengeceknya.

"39,5 nyet!! Ganti baju buruan gue anter ke rumah sakit!" Ucap Revan panik betulan.

"Ck! Ga usah. Cuma demam."

Ethereal | Ineffable vol.2 [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang