•HAPPY READING•
"Akhirnya tinggal sehari lagi."
Sudah hampir seminggu mereka menjalani ujian, dan besok adalah hari terakhir. Putri menghembuskan nafas lega. Sejauh ini ia percaya diri bahwa nilai ujiannya bagus, setidaknya tidak ada yang remed. Gadis itu benar-benar menepati ucapannya untuk belajar dengan serius. Lagipula dengan itu ia bisa perlahan-lahan melupakan Pangeran.
Omong-omong soal Pangeran, sudah seminggu ini ia tidak pernah mengobrol lagi dengan cowok itu. Beberapa kali keduanya sempat berpapasan, namun Putri berusaha bersikap cuek dan mengabaikan cowok itu.
"Masih ada satu hari lagi, belum selesai." Kaluna memperingati.
Saat ini mereka berdua pergi ke kantin karena memiliki waktu istirahat 20 menit sebelum diharuskan kembali ke kelas. Mengerjakan dua mata pelajaran cukup menguras energi. Oleh karena itu, mereka berniat membeli minuman atau camilan sebelum kembali dihadapkan oleh satu mata pelajaran sebelum pulang.
Putri ingin batagor jadi ia mengantri disana, sementara Kaluna memilih memesan ketoprak karena belum sempat makan tadi pagi. Antriannya tidak panjang, hanya ada dua orang selain dirinya. Tapi ketika ia sampai di tempat itu, Putri terkejut melihat seorang cowok yang sedang duduk di meja sambil memakan batagor.
Pangeran ikut menatap gadis itu dan mengira kalau Putri akan menyapanya namun ternyata tidak, gadis itu hanya meliriknya sebentar lalu memilih duduk di salah satu bangku yang agak jauh dari posisinya.
Sudah beberapa hari ini setiap kali ia berpapasan dengan gadis itu, Putri selalu membuang wajahnya kearah lain. Seolah berpura-pura tidak mengenalnya. Bahkan gadis itu tidak pernah menyapanya lagi seperti biasanya. Anehnya, Pangeran merasa ada yang kurang ketika Putri berjalan begitu saja tanpa memanggil namanya. Seolah keduanya adalah orang asing yang tidak pernah saling mengenal sebelumnya.
Kali ini Pangeran tidak diam seperti biasanya. Saat melihat Putri berdiri dan hendak pergi ketika pesanan batagornya sudah selesai ia buru-buru mencekal pergelangan tangan gadis itu, menahannya agar tidak pergi.
"Put."
"Kenapa?"
Tatapan berbinar yang selalu ditunjukan setiap kali berbicara dengannya itu sirna. Kini Putri menatapnya dengan tatapan berbeda. Dan ia merasa seolah tidak rela.
"Lo ngehindarin gue?"
Putri melirik tangannya, ketika tersadar Pangeran buru-buru menjauhkan tangannya dari sana.
"Nggak."
"Boong."
"Kenapa harus ngehindar?"
"Lo keliatan cuek, nggak kayak biasanya."
Putri mengerutkan keningnya heran. "Emang harusnya gimana?"
"Setiap ketemu gue lo nggak pernah nya–"
"Bukanya bagus? Kak Pangeran nggak akan risih karena udah nggak ada yang ganggu hehe. Lagian aku sadar diri kok, nggak mungkin aku masih caper ke pacar orang."
Pangeran terdiam mendengar jawaban gadis itu. Benar juga, kenapa ia harus bertanya seperti itu? Seharusnya ia senang karena Putri sudah tidak mengganggunya lagi karena selama ini perempuan yang ia sukai adalah orang lain, bukan gadis itu.
KAMU SEDANG MEMBACA
Hello, Pangeran!
Ficção AdolescentePutri sangat menyukai Pangeran, wakil ketua paskibra di sekolahnya sejak pertama kali melihat cowok itu. Ia kira, mendapatkan hati cowok friendly itu mudah tapi ternyata tidak. Ia perlu melakukan banyak cara untuk menarik perhatian Pangeran. Tapi si...
