Jeff menyuruh Hanna duduk di kursi depan ruang dosen yang sedang sepi. Cowok itu lagi mikir dia mau ngajak Hanna kemana dan naik apa. Karena pertama, dia ke kampus tadi aja nebeng temen. Kedua, dia mau-mau aja, sih, ngajak Hanna ke kosnya, tapi Hanna mana mau?
Jadi cowok itu bingung. Dia diam.
"Lo ngapain?" tanya Hanna yang badannya sudah lemas itu.
"Bentar."
Jeff merogoh ponsel di celananya lalu menelepon Deril. Tapi baru akan menekan warna hijau, cowok itu noleh lagi ke Hanna. "Lo mau gue ajak ke kos?"
Masih dengan terpejam, Hanna menjawab. "Gak."
"Udah gue duga," jawab Jeff. "Tapi kos lo lebih jauh dari kos gue. Lo kuat gue bonceng sampe sana? Yang ada keburu pingsan."
Hanna tidak lagi menjawab, dia sibuk menetralkan peningnya di kepala.
"Rotinya makan dulu. Perut lo mesti keisi."
Usai Jeff membukakan plastiknya, Jeff berdiri lagi, kali ini benar-benar menghubungi Deril. Jeff tahu Deril pasti asik mendengkur di kos sekarang mengingat cowok itu baru ada kelas pukul satu siang. Tapi kalau sudah darurat begini, Jeff tidak bisa mengandalkan siapapun selain Deril.
"Pinjem motor, dong."
Dengan suara khas baru bangun, Deril menjawab.
"Motor lo kemana?"
"Bengkel."
"Mobil?"
"Bengkel juga."
Deril mendengus. "Ya udah, ambil aja di garasi. Kunci motornya masih nancep disana."
"Gue lagi di kampus, Nyet." jawab Jeff sebal.
"Lah? Ya, balik dululah ke kos?"
"Kelamaan. Anterin motornya ke sini. Lagi darurat."
"Gue baliknya pake apa, pinter?"
"Jalan kaki."
••
Jika ini perempuan lain dan bukan seorang Hanna Nadinia, sudah pasti akan mau-mau saja menuruti permintaan Jeff. Tapi sayangnya bukan. Jadi Jeff harus mikir seribu cara biar Hanna nurut sama dia. Jeff sudah berniat tulus dan murni membantu Hanna dengan membawanya ke kos untuk beristirahat, tapi yang ada dari tadi Hanna menuduhnya terus-menerus.
"Gak mungkin cowok kayak lo mau bantuin orang kalau gak ada imbal baliknya."
Gitu katanya.
Jeff jadi pusing tujuh keliling. Disaat dia beneran jadi orang baik, kenapa malah gak ada yang percaya?
Hanna sedang berdiri dan menyandarkan punggung pada dinding gedung. Matanya sudah hampir terpejam karena menahan pusing.
"Han, kalau gue mau macem-macemin lo, gue bisa ngelakuin nanti-nanti kalau lo lagi sehat, oke? Gue gak suka main sama cewek sakit. Jadi, will you nurutin mau gue dan naik ke motor? Mataharinya udah mulai panas."
"Kalau gak panas namanya bukan matahari."
"Bukan itu poinnya," Jeff berdecak. "Lo bisa pegang KTM gue buat jaminan kalau gue gak bakal ngapa-ngapain lo."
"Kenapa gak KTP aja?"
"Gue gak bawa KTP."
"Oke."
Hah?
Ya Tuhan, sebegitu tidak percayanyakah Hanna pada Jeff?
"Nih. Awas ilang."
Usai Hanna menerima kartunya, barulah Hanna benar-benar mau naik ke atas motor. Gadis itu duduk di ujung membuat Jeff lagi-lagi berdecak gemas. "Lo lagi sakit aja masih nyebelin, ya, Han?"
"Jangan bacot."
"Kalau lo jatuh dari motor, gue ketawain."
**
Sebenarnya, jujur saja, tubuh Hanna sudah tidak sepanas tadi akibat Jeff sudah membelikannya obat dan roti. Tapi memang benar, ia butuh istirahat secepatnya. Jadi usai berhenti di tempat parkir kosan Jeff yang ternyata luas banget, Hanna mau-mau saja mengikuti Jeff naik tangga ke lantai dua.
Hal pertama yang jadi perhatian Hanna adalah sebelum memasuki lorong-lorong kamar, ada tempat yang sengaja disediakan untuk nongkrong, bentuknya seperti ruang tengah di rumah biasanya. Tidak ada kursi, hanya karpet tebal dan televisi di tengah. Yang bikin Hanna risih adalah, saat ini disana lagi banyak cowok.
Hanna otomatis menarik kaos Jeff dari belakang, cowok itu menoleh.
"Emang cewek boleh masuk?"
"Emang gak boleh?" tanya Jeff balik bertanya.
"Lah, ini ngapa banyak pejantan. Ga ada betinanya."
"Emang kosan khusus cowok tapi gak ada ketentuan cewek gak boleh berkunjung."
Hanna mengangguk-angguk.
Jeff melewati ruangan yang Hanna sebut bagian tengah tadi, cowok itu melemparkan kunci motor pada satu lelaki berkulit lebih gelap dari yang lainnya.
"Nih, Ril. Thanks."
Deril mengangguk. "Ternyata yang lo maksud urusan darurat adalah cewek?"
Jeff nyengir saja. Ia mengedikkan bahu pada Hanna, meminta gadis itu mengikutinya masuk ke dalam lorong.
"Suaranya jangan kenceng-kenceng, ya! Masih pagi." teriak Deril yang dibalas Jeff dengan acungan jari tengah tinggi-tinggi.
**
Kamar Jeff benar-benar definisi kamar seorang lelaki di usia dua puluh tahun. Hanna mengamati Jeff yang langsung membereskan beberapa kaleng minuman yang berceceran di lantai dan memasukkannya asal pada plastik sampah. Ada banyak poster band 1975 di dinding yang menghiasi kamar cowok itu. Tapi dibanding kosan Hanna, kos Jeff ini lebih besar. Mungkin dua kali lipatnya.
"Udah. Tiduran sana." suruh Jeff ketika Hanna tak segera merebahkan punggung, malah menatap kamar cowok itu terus-terusan.
"Gue gak nyangka gue bisa berada di kamar kos seorang cowok yang bahkan baru gue kenal seminggu." ujar Hanna sambil bersedekap.
"But here you go."
Hanna menghela nafas. Ia melepas sepatunya sebelum mengangkat kaki ke atas ranjang berukuran lebar tersebut. "Ini beneran gak apa-apa gue numpang istirahat di kos lo?"
"Lo mau nginep juga gak papa."
Hanna langsung membuang jauh-jauh rasa bersalah yang sempat menghampirinya tadi ketika Jeff menjawab begitu. Ia memasang wajah datar sambil menata bantal agar lebih tinggi. "Serius."
"Gapapa, Hanna."
Jeff berdiri dan mengambil ponsel yang ia letakkan di atas nakas. "Lo mau gue pesenin makanan apa? Mau bubur?"
Hanna menggeleng. "Mendadak pengin soto."
"Oke. Gue grab-foodin," cowok itu sibuk dengan layar ponselnya, bahkan tak sadar bahwa Hanna dari tadi mengamati. "Lo masih bisa jalan, kan?"
Hanna mengangkat satu alisnya.
"Mungkin lima menit lagi abang grab foodnya udah dateng. Lo bisa ambil di bawah. Gue harus cabut sekarang."
"Hah? Lo mau kemana?!"
"Honey, kalau lo lupa, gue masih ada kelas."
Saking terkejutnya, Hanna sampai mengabaikan panggilan cowok itu padanya. "Dan lo membiarkan orang asing tiduran di kamar lo?!"
"Siapa yang lo maksud orang asing? Hanna Nadinia adalah calon pacar Jeff."
"Ew." balas Hanna sambil mengernyit jijik.
Jeff tertawa. "Udah, santai aja. Lo bebas pakai kamar gue kapanpun. Ambil makanan di kulkas ruang tengah yang paling bawah. Itu makanan gue semua disana," pesan Jeff sebelum kembali memakai jaket. "Jangan pergi kemana-mana sebelum gue beres kelas."
"Cepet balik, gue juga mau pulang."
"Noted. " Jeff menghampiri Hanna, mengusap kepalanya sekilas. "Jangan nangis gue tinggal."
"Hidih."
•••
KAMU SEDANG MEMBACA
jeff, please.
Roman d'amourLife on campus is all about freedom, chaos, and doing whatever feels right. A bad guy and a super careless girl live for parties, mistakes, and zero commitment, thinking love is just a joke. But when they cross paths and fall for each other, the gam...
