Jeff gak tahu kapan tepatnya Hanna bener-bener mulai nerima keberadaan dirinya. Belakangan ini, keduanya rutin pulang bareng. Entah Jeff yang nyamperin langsung atau Hanna yang tiba-tiba minta anterin balik. Entah pulangnya ke kosan Jeff atau ke kosan Hanna.
Begitu juga dengan sore ini, dimana jam dinding masih nunjukkin pukul satu siang tapi Jeff udah beres kelas, dia inisiatif langsung ke gedung Psikologi—seperti yang sudah-sudah.
Hari ini hari Kamis, itu artinya mata kuliah Hanna selesai di jam dua belas dan bakalan masuk lagi di jam tiga.
Langkah kakinya memasuki kantin gedung tersebut dan karena ini jam makan siang, tentu saja kantin sedang ramai-ramainya.
Beberapa mahasiswa dan mahasiswi terlihat mencuri pandang—yang mungkin mereka masih saja tak terbiasa dengan keberadaan cowok seganteng itu di fakultas mereka, atau diam-diam bertanya-tanya kenapa cowok ini pede banhet pakai jas almet Hubungan Internasional tapi kakinya menapak di lantai Psikologi.
Omong-omong soal kantin fakultas Hanna, setiap hari Kamis dan Sabtu, kantin selalu menyediakan beberapa alat musik sebagai penghibur. Siapapun bisa menyumbang disana. Tidak, bukan Jeff kali ini akan menjadi salah satu penyumbang, Jeff cuman sekedar ngasih info. Karena dia pecinta musik, dia jadi betah disana especially di hari itu.
Dari jarak kejauhan, ia menemukan meja Hanna. Dimana meja tersebut kali ini diisi ramai-ramai. Seiring langkahnya mendekat, ia baru bisa melihat kepala siapa saja disana. Ada Gana, Juno, Jenni, dan satunya...
"Lah, kok ada elo disini?"
Semuanya langsung mengangkat kepala. Menoleh pada Jeff yang baru dateng langsung rusuh.
Semuanya saling menatap satu sama lain. Saling bertanya lewat tatapan, ini Jeff ngomong sama siapa, sih?
Karena mata Jeff tak lepas dari satu manusia, Dhio jadi menuding diri sendiri. "Gue?"
"Ck. Iya."
"Oh, gue janjian sama Hanna—"
Jeff langsung menyuruh Juno bergeser untuk memberikannya ruang duduk. "Hanna? Hanna-nya gue?"
Hanna menoleh cepat. Bibirnya sudah siap memerotes namun Gana menyela lebih cepat. "Sorry, bisa diulangi? Hanna-nya siapa, bro?"
"Hanna gue. Hanna-nya Jeff," Jeff mengangkat alisnya satu ke arah Gana, tatapannya menantang. "Kenapa? Ada masalah, little bro?"
"Udah, udah, jangan ribut," Dhio melerai. "Punya gue aja biar adil."
Bukan membaik, Jeff dan Gana jelas malah melotot.
"Lapangan Psikologi kosong, sih, sekarang. Bolehlah adu otot sama gue." ujar Jeff sarkas.
Dhio tertawa. Padahal tidak ada yang lucu. "Kalem. Gue juga udah ada pacar, kali."
"Hah?" Hanna langsung mengangkat kepala. Bahkan kemudian tersedak dan terbatuk. Terlalu keras hingga semua langsung menoleh padanya. Jenni yang mengerti Hanna langsung mencubit paha cewek itu.
Dhio mengangsurkan minuman di hadapannya untuk Hanna. "Makan siomaynya pelan-pelan aja, Han."
Hanan mengangguk canggung.
Jeff mendengus kesal.
**
"Besok? Kok tiba-tiba banget?"
Hanna yang duduk di jok samping melirik Jeff sekilas. "Mau gimana lagi? Deadline-nya mepet. Elo janjiin ngomong ke Dhio udah tiga hari yang lalu tapi sampai sekarang juga gak ngomong-ngomong."
KAMU SEDANG MEMBACA
jeff, please.
RomanceLife on campus is all about freedom, chaos, and doing whatever feels right. A bad guy and a super careless girl live for parties, mistakes, and zero commitment, thinking love is just a joke. But when they cross paths and fall for each other, the gam...
