42. Additional Chapter #2

45.2K 2.9K 789
                                        

Hanna's Point of View

Hari Rabu. Sore hari. Hujan gerimis. Hotel Vella La Viela.

Gue gak bakalan lupa dengan apa yang terjadi disana, kala itu, empat tahun yang lalu.

Ah, laki-laki itu. Jeff Raksakatama. Dia masih aja jadi penyebab kenapa hari-hari gue naik-turun kayak roallercoaster, masih sering membuat kekacauan di hati gue, memporak-poranda perasaan gue, bahkan setelah gue udah punya laki-laki lain.

"Hanna?"

Adalah suara pertama yang keluar dari bibirnya setelah dia terdiam sedikit lama.

Gue gak pernah siap untuk itu.

Gak pernah siap untuk bertemu dengan laki-laki yang pernah menjadi tokoh utama dalam cerita cinta gue semasa remaja, disaat gue sedang berada di sana untuk membicarakan pertunangan dengan laki-laki yang kelak akan mengucap janji di rumah Tuhan bersama gue.

Gak banyak yang terjadi di sore itu, selain dia yang kikuk namun tetap mendekat dan menanyakan kabar. Kemudian percakapan berakhir karena Herdan datang di antara kami, memperkenalkan diri di depan Jeff sebagai calon tunangan gue.

Ada sorot mata sedih disana, menatap gue dengan senyum sendu. Membuat gue, lagi-lagi, merasa sesak lalu bertanya-tanya, apakah benar bahwa Herdan sudah memiliki hati gue sepenuhnya, atau hanya sebagian saja karena setiap kali nama Jeff hadir di kepala, maka gue gak akan pernah ingat siapa itu Herdan.

Tapi ada malam dimana gue akan sangat berterimakasih kepada sosok Herdan Andragio. Dia pria bertanggung jawab, baik, selalu berusaha membantu gue untuk mencintai diri sendiri, untuk memaafkan orang lain, untuk gak mudah menyerah sekalipun gak ada satupun situasi yang bisa menyelamatkan gue.

Kata Jennie, Herdan seratus persen cocok untuk gue. Dia ditakdirkan menjadi pelengkap hidup gue. Kata Jennie lagi, gue harus berani melangkah maju, meninggalkan masa lalu, dan memulai masa depan dengan Herdan.

Sampai ada hari dimana gue bisa yakin untuk memutuskan menikah. Tepat dua tahun yang lalu.

Pagi ini, dengan perut buncit dan korean square neck dress hitam ketat ibu hamil yang gue pakai, gue berdecak mendapati suami dan anak gue yang tidur dengan posisi berantakan. Gue memilih duduk di tepi ranjang, menggoyangkan lengan suami dengan hati-hati, takut Gellar—anak kami—ikut kebangun.

 Gue memilih duduk di tepi ranjang, menggoyangkan lengan suami dengan hati-hati, takut Gellar—anak kami—ikut kebangun

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

"Pa, bangun."

"Hmm."

Sejak jadi seorang ayah, dia emang lebih mudah dibangunin. Mungkin efek selama gue hamil dia harus siaga dua puluh empat jam, jadi sekali gue nyuruh dia bangun, dia langsung nurut, sengantuk apapun.

"Bangun, gih. Kamu gak ngantor?"

Dia mengusap wajahnya kasar sebelum membuka mata. Kepalanya terangkat sedangkan posisi tidurnya masih tengkurap. "Enggak, kan kemarin aku udah bilang. Kamu baru selesai mandi, ya?"

jeff, please.Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang