Hanna gak peduli Juno lagi sibuk sama laporan penelitiannya, atau sama tumpukan kertas dari organisasi yang kini ia geluti, atau cowok itu lagi penat dan gak minat menerima tamu. Dengan muka sembap dan jelek, cewek yang hanya memakai celana training panjang dan jaket tebal itu mengetuk pintu kamar kos Juno, masih dengan air mata yang berlinang.
Detik kemudian, pemilik kamar membukakan pintu.
"Loh, Han?!" Juno langsung menarik cewek itu masuk. Panik setengah mati mendapati temannya dengan penampilan seperti gembel. "Lo kenapa, anjir?!"
Mendudukkan Hanna dengan paksa, Juno benar-benar keliatan khawatir. "Kenapa? Bilang gue."
"Jeff udah tahu semuanya."
Juno langsung tertegun. "Semuanya? Literally... semuanya?"
Yang ditanya menggeleng kecil. "Dia buka dompet gue, awalnya. Terus nemu KTP disana."
"Berarti dia belum liat foto hasil USG yang dulu lo selipin di antara kartu-kartu lo?"
"Enggak. Atau belum. Dia gak sempet buka dompet gue lebih jauh karena keburu marah," Hanna mengangkat kepalanya yang sedari tadi menunduk. "Apa yang gue takutin terjadi, Jun. Dia ninggalin gue. Dia marah dan bilang kalau gue penipu, terus dia..."
Juno langsung merengsak maju dan merengkuh tubuh Hanna, memeluknya erat. Menjadi teman dekat cewek itu sampai bertahun-tahun lamanya membuat Juno syok karena Hanna bisa sekacau ini cuman karena ditinggalin cowok.
Cowok itu menghela nafas di atas kepala Hanna, sembari tangannya terus mengusap punggung. "Lo udah nyoba jelasin ke Jeff?"
"Gimana bisa, Jun?" Hanna menjauh dari tubuh Juno. "Yang ada dia bakal lebih ilfeel."
"Itu cuman prediksi lo. Emang lo dukun yang bisa nebak gimana ke depannya? Han please, lah. Kalau kayak gini, kan, gue jadi gak bisa nyalahin Jeff."
"Gue yang salah?"
Juno mendengus. "Menurut lo aja, anjir."
"Terus gue harus gimana? Gue gak bisa mikir apa-apa sekarang."
"Ngomong jujur ke Jeff, Han. Ceritain dari awal. Duh, gue punya temen kenapa bego banget, sih. Lagak lo kayak fuck girl kampus, beginian aja gak ngerti harus apa," ujar cowok itu mencibir. "Tapi, Han, saran gue satu lagi."
"Apa?"
"Jangan cerita ke Gana dulu soal ini. Bisa-bisa Jeff berantem sama dia."
**
Siang itu, Hanna berangkat satu jam sebelum kelas dimulai. Niatnya mau ke Gedung HI dulu buat ketemu Jeff. Tapi kata Deril, cowok itu gak masuk hari ini.
"Jadi lo putus sama Jep?"
Sebetulnya, Jennie adalah sahabat Hanna yang paling gak tahu apa-apa tentang rahasia hidupnya. Apa yang diketahui Jennie adalah apa yang diketahui orang-orang luar. Hanna bahkan berbohong tentang alasan ia putus dengan Jeff.
Gak kaget kalau respon Jennie sekarang biasa aja. Kayak sembap dan kantung mata hitam di wajah Hanna gak berarti apa-apa.
Jenni mengambil makroni yang ia sembunyikan di tas lalu memakannya pelan, takut ketahuan penjaga perpus. "Lo diputusin bajul begitu ngapain sampe nangis, elah?"
"Ya kan sedih..."
"Bukan lo banget, Han. Sumpah."
Hanna berdecak. "Ini terus gimana guenya? Jeff gak masuk hari ini. Chat gue juga gak dibales. Boro-boro dibales, dia aja centang satu."
KAMU SEDANG MEMBACA
jeff, please.
RomanceLife on campus is all about freedom, chaos, and doing whatever feels right. A bad guy and a super careless girl live for parties, mistakes, and zero commitment, thinking love is just a joke. But when they cross paths and fall for each other, the gam...
