Part 16

315 62 3
                                        

Written by : sabiqisedogawa21

Lampu merah perempatan terlihat lenggang. Mobil, motor, dan kopaja yang biasanya berderet padat, tampak hanya beberapa saja. Padahal jam baru menunjukkan pukul 21.00 WIB. Dari balik jendela ruang kerjanya, Ghanis memperhatikan pemandangan malam dari lantai tujuh. Kerlap-kerlip sorot lampu dari gedung sekitar, menambah perempatan di bawah jalan layang depan kantor, semakin bermandikan cahaya.

Malam semakin larut, tapi Ghanis merasa enggan untuk pulang. Mungkin ia akan bermalam di kantor. Bukan hanya sekali dua kali, Ghanis tidak pulang ke rumah. Pekerjaan memang tak ada  habisnya, tapi ia tidak selalu harus menghabiskan malam di kantor.  Satu-satunya alasan untuk tetap di sini adalah karena ia sudah tidak memiliki  alasan untuk pulang.  Sejak Adelia pergi meninggalkannya, Ghanis merasa tak punya alasan untuk pulang ke rumah. Tidak seperti dahulu.

Meskipun sibuk, tapi ia akan selalu pulang ke rumah. Karena ia tahu ada seseorang yang sangat ia cintai yang selalu menanti kehadirannya di rumah cinta mereka.

Adelia. Ghanis mengeja nama itu.

Masih terasa sakit di hatinya, setiap menyebut nama perempuan yang teramat ia cintai. Baginya, Adelia bukan hanya sekedar seorang Istri. Adelia adalah tempat ia pulang. Sejauh apa pun ia melangkah, ia akan selalu pulang menuju Adelia. Karena Adelia adalah rumahnya.  Terlalu banyak kenangan antara ia dengan Adelia yang belum bisa ia lupakan. Sampai saat ini.

Ghanis tersenyum, mengingat bagaimana Adelia selalu memanjakan lidahnya dengan memasakkan menu kesukaaannya. Adelia juga selalu  mengajaknya berkunjung ke rumah orang tua  dengan menbawakan buah-buahan. Perhatian yang tulus. Sekali pun Adelia bekerja di salah satu bank besar di Ibukota, Adelia tetap mengurus rumah. Rumah yang mereka tinggali adalah rumah yang didesain oleh Adelia dan ditata dengan rapi dan menarik. Menumbuhkan rasa nyaman saat memasuki rumah.

Kepergian Adelia yang mendadak dengan cara yang tragis, membuat Ghanis merasa bersalah. Ia ingat berhari-hari diliputi rasa bersalah yang luar biasa. Terlebih  hasil pemeriksaan dari Puslabfor, sudah keluar. Hasil pemeriksaan yang menunjukan  bahwa antara jejak yang tertinggal pada permen karet dengan serpihan plastik yang menmpel di bawah mobil adalah milik orang yang sama. Memang untuk menguak identitasnya masih membutuhkan waktu, tapi hal itu sontak membuat Ghanis bergelora untuk mengusutnya. Ia harus menemukan sosok yang membunuh istrinya.

Ghanis menyadari bahwa ada kemungkinan lain dibalik peristiwa yang merenggut istrinya. Adelia adalah korban dari salah target. Sebenarnya yang menjadi target adalah dirinya. Dan pelakunya adalah orang yang memiliki dendam padanya. Bisa saja karena Ghanis telah memenjara keluarganya atau orang terdekatnya. Bisa juga kelompok pengedar yang dendam padanya.

Ghanis menghela napas panjang. Sampai saat ini ia masih terus berpikir mengenai siapa orang yang berada dibalik peristiwa nahas yang menimpa Adelia. Banyak  kasus yang sudah  ia tangani. Salah satunya LP 235 dimana ia membantu Pak Herman dan Pak Ismawan dalam mengusut aliran dana seorang pengedar narkoba yang disinyalir berbentuk show room dan  rumah. LP ini yang kemudian dihentikan oleh Pak Herman karena dianggap tidak ada bukti dan Pak Ismawan menghilang.

Salah satu tersangka yang sempat ditangkap, Jack, dan dia sudah dibebaskan. Apakah Jack yang berada di belakang peristiwa yang menimpa Adelia? Bisiknya lirih. Siapa pun yang berada di balik  pembunuhan Adelia harus ditemukan.

Tadi siang ia sudah sepakat untuk membantu Riri. Gadis itu diam-diam berusaha untuk mencari tahu keberadaan ayahnya. Enah mengapa mendengar cerita Riri, membuatnya tumbuh rasa welas ingin membantu gadis itu. Mungkin karena ia mengenal dan pernah bekerja sama dengan ayahnya.

Riri bilang ia akan mencari bukti yang akan membuka tabir. Namun karena ia merasa belum lama malang melintang, ia butuh bantuan. Ia berpikir dengan meminta bantuan pada Pak Herman maka ia akan  memperoleh kejelasan.

Ghanis mendengus. Ia pesimis jika atasannya akan membantu Riri karena Pak Herman yang ngotot untuk menghentikan kasus. Rasanya malah  menjadi aneh kalau ia mau membantu Riri sekarang. Entah Riri tahu atau tidak, orang yang mengajukan ayahnya masuk DPO adalah komandannya sendiri.

Ghanis menarik napas. Ia harus membantu Riri.  Kasihan gadis itu karena masih minim pengalaman dan pengetahuan. Walau ia tahu, Riri gadis yang pandai, tapi tanpa ada yang membantunya, Riri bisa saja terjebak dan terjatuh. Rasanya tdak tega. Terlebih karena Ghanis mengenal Pak Ismawan sebagai sosok yang idealis dan berintegritas.

Namun benarkah niat membantu ini benar-benar tulus? Bukan niat terselubung karena ia juga masih penasaran dengan pembunuh Istrinya.? Atau apakah Riri memanfaatkannya?

Ghanis segera menghalau fantasi liar di kepalanya. Apa pun itu, ia akan tetap membantu Riri. Pantang baginya mengingkari kata janji yang sudah ia buat.

=================================

Apa yaaaak?

Bingung mau komentar apa.

Happy reading aja deh. Maklum masih kebawa perasaan Ghanis.

Tempat Kita PulangCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang