Part 28

275 54 0
                                        

Written by : sabiqisedogawa21

Lay memarkirkan Land Rover-nya di pelataran parkir bawah tanah sebuah bangunan berlantai tiga. Dari luar tempat itu biasa saja. Mirip kafe atau tempat nongkrong pada umumnya, dilengkapi dengan musik lembut atau lagu yang sedang tren saat ini. Sesuai dengan nama yang tertera pada lampu neon box yang berkerlap-kerlip. Di atas kertas tempat itu adalah kafe dengan pemilik yang berbeda, menggantikan klub malam yang terpaksa di tutup karena tersandung kasus kriminal beberapa tahun lalu.

Pria berperut buncit itu tahu betul kalau belum waktunya ia datang ke tempat ini. Karena jatah bulanannya juga baru ia terima dua minggu lalu. Namun rengekan manja sang istri muda, membuat pikirannya tidak bisa bekerja. Ia harus memenuhi permintaan wanitanya untuk mendapatkan tas branded incarannya. Perempuan itu memang penggila tas-tas bermerek yang harganya sangat fantastis! keluh Lay dalam hati.

Di depan pintu masuk utama kafe, terdapat seorang petugas jaga yang dilengkapi dengan detektor logam. Semua pengunjung yang datang harus diperiksa, tanpa terkecuali. Laki-laki muda yang berusia dua puluhan itu mengangguk hormat saat melihat Lay. Ia tetap menjalankan prosedur keamaan kafe, namun saat alat itu sampai di pinggang Lay, penjaga tadi mematikannya. Kemudian ia membukakan pintu sambil berbicara dengan HT-nya mengabarkan kehadiran Lay, laki-laki flamboyan yang sudah menjadi tamu tetap Bos Besarnya.

Lay langsung ke lantai tiga menggunakan lift. Lampu disko yang berkelap-kelip mengikuti musik yang ingar-bingar, menyambutnya ketika pintu lift terbuka. Lay menuju sebuah ruangan yang berada di salah satu sudutnya.

“Malam Bos,” sapa Lay begitu masuk.

Di dalam sana ada seorang laki-laki yang sedang duduk santai ditemani dua perempuan berbaju minim. Laki-laki itu memberi tanda agar kedua perempuan yang sedang bermanja-manja dengannya pergi meninggalkan ruangan tersebut. Dengan tatapan tajam, ia menatap Lay yang sudah duduk di depannya, tanpa dipersilakan.

“Ada apa? Belum waktunya kan?” sindir laki-laki berkemeja biru laut itu. Tangannya memberi kode pada anak buahnya untuk menyiapkan minuman. “Yang biasa,” ucapnya.

Lay menyeringai, kemudian memaksakan diri untuk tertawa. Tawa yang terdengar sumbang. “Biasa, Bos. Perempuan kalau sudah ada yang diminta tidak bisa nanti,” balasnya.

Laki-laki itu mendengus, “Kamu memang tidak pernah becus jika berurusan sama perempuan. Termasuk perempuan satu itu. Orang yang bersama si Bajingan Beruntung itu, masih belum kau bereskan juga, kan?”

Lay terperangah. “Anak itu dibereskan?” tanyanya keheranan.

Laki-laki di hadapannya mengangguk.  Lay menyeringai, kemudian mengeleng. “Tidak ada dalam perjanjian kita, Bang Jack,” jawabnya tegas.

“Memang tidak ada dalam perjanjian, tapi perempuan itu sungguh menyusahkan. Lihat saja apa yang ia sudah perbuat? Si Jangkung ditangkap! Dia itu  tangan kanan Joni.” Rahangnya mengeras dan ia tampak kesal. Bahkan kekesalannya itu melebih setiap kali melihat kedatangan orang rakus di depannya ini. “Sampai sekarang pun Bajingan itu masih belum bisa kau tangani, kan?” cemoohnya.

“Bukannya tak bisa. Dia bukan urusanku. Dia itu bagiannya Joni. Lagian, untuk menghadapi orang itu, kita tidak bisa bermain kasar. Harus halus.”

“Kalau tidak ada kabar bagus tentang barang-barang dan orang-orang yang ditangkap, jangan pernah berpikir untuk datang seenaknya dan meminta uang.” Jack tahu betul apa yang ada di kepala orang itu.

Lay mengganti posisi duduknya. “Sudah dibuat startegi untuk membungkam mereka, Jack. Kerja mereka melambat, setelah duda itu dipindahkan ke satgas lain. Dia terlalu sibuk dan lelah untuk menangani dua kasus besar sekaligus. Hampir bisa dipastikan, kasus ini akan ditutup lagi seperti sebelumnya.”

Jack bangkit menju laci dan mengeluarkan amplop tebal. Ia melemparkan ke perut Lay. “Itu akan bertambah dua kali lipat kalau kau berhasil membebaskan si Jangkung. Waktumu tiga hari.  Anggap saja itu sebagai uang muka.”

Mata Lay berbinar. Ia bahkan langsung membayangkan pekikan girang wanitanya saat melihat tumpukan uang itu. Kemudian perempuan itu pun akan memuaskannya seperti yang sudah-sudah.

“Ingat! Bebaslan Jangkung dalam tiga hari,” ulang Jack, lalu melempar satu amplop lagi dengan ukuran yang lebih kecil, sebelum Lay keluar ruangan. Begitu lelaki tambun itu menghilang dari hadapan, ia berbisik kepada anak buahnya untuk mengikuti orang tersebut.

Lay tersenyum lebar memandangi dua amplop di tangannya. Tapi beberapa detik kemudian, mendadak kepalanya sakit seperti terkena hantaman palu. Bagaimana caranya ia membebaskan si Jangkung dalam waktu tiga hari?
Lay tidak mau pusing memikirkan caranya. Baginya yang terpenting saat ini adalah memuaskan wanita itu. Ia mengendarai mobilnya dengan senang hati dan tidak mengetahui bila ada orang yang membuntutinya.

*

Keesokkan harinya, Herman harus memeras otak demi membebaskan tersangka yang ditangkap oleh timnya Riri. Sebagai Kasubdit, dia tahu betul tidak bisa semena-mena mengeluarkan perintah, karena hal itu bisa berbalik padanya. Cara biasa pun tidak bisa dilakukannya, apalagi terhadap Riri, orang yang jelas menuruni sifat tegas ayahnya.

Mengandalkan Priyo pun tidah bisa sepenuhnya. Herman tahu pasti Riri tidak akan menyerah begitu saja, karena ia sudah mulai mencium keterlibatan tersangka dalam genk Si Black. Terbukti dalam laporannya, berkali-kali gadis itu menyebutkan kemungkinan tersebut. Dia begitu gigih untuk membuktikan ayahnya tidak bersalah.

Binggo! Herman mendapatkan ide bagus. Ia teringat saat mengatakan pada Riri tentang foto Ismawan. Herman menyunggingkan senyum culas. “Itu pasti bisa dijadikan senjata,” gumamnya.

Segera ditekannya satu nomor. Begitu tersambung, Herman langsung meminta lawan bicaranya untuk bertemu makan siang di tempat biasa. Herman tidak bisa menyembunyikan perasaan senangnya. Ia terus tersenyum sepanjang hari sampai tiba waktunya menemui orang yang diteleponnya tadi. Bahkan dia pun menebar senyum setiap berpapasan dengan seseorang.

Di tempat yang dijanjikan, Herman sudah menunggu sembari memesan makanan pembuka. Senyum masih berkembang di wajahnya, dan makin lebar tatkala pintu kayu bergeser, dan muncul wajah seseorang yang ditunggunya. Laki-laki berambut keriting dengan tas selempang, melempar senyum dan anggukan sebelum masuk dan duduk bersila di depannya.

Diskusi mereka sempat terpotong saat memesan makanan dan ketika pesanannya diantarkan. Semua itu tidak mengganggu sama sekali. Buktinya, setelah selesai menyantap makanan, selesai pula diskusi mereka. Orang itu menyanggupi semua permintaan Herman.

Herman yakin betul, dengan tangan dingin laki-laki tersebut, akan memuluskan tujuannya. Lawan terkapar, sang pemenang meleggang dengan bebas.

Laki-laki yang biasa disewa Herman itu pamit setelah mengantongi beberapa file foto. Baginya, mengedit beberapa buah foto bukan perkara sulit. Apalagi dengan bayaran yang sedemikian besar.

**

Tempat Kita PulangCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang