Written by : sabiqisedogawa21
Panda sedang mengaitkan helm ketika melihat Avanza hitam metalik milik Ghanis berhenti tak jauh dari tempatnya. Ia hendak mendekat, tapi urung karena melihat Riri turun dari mobil tersebut. Panda tersenyum melihat keduanya jalan bersisian menuju arah lift gedung.
“Gue sering melihat mereka jalan bareng,” aku Rais yang tiba-tiba muncul di sampingnya Panda.
Penyidik bertubuh tambun itu mengusap dada, ”Bikin kaget aja!” semprotnya.
Rais tertawa kecil merangkul bahu Panda. “Mereka pacaran ya?” tanyanya kemudian.
Panda mengangkat bahu. “Jangan gosip,” balas Panda singkat. Mereka pun berjalan menuju lift.
“Enggak gosip kok. Kebetulannya keseringan banget. Nggak salah juga kok. Sama-sa,a single. Lagipula sudah waktunya Pak Ghanis move on,” ujar Rais. Panda tak mengindahkan ucapan Rais.
Sesampainya di ruangan, Panda melihat Ghanis berdiri di depan kubikel Riri. Entah apa yang sedang dibicarakan keduanya, Ghanis terlihat semringah.
“Ada yang seneng banget nih kayaknya,” ujar Panda, yang auto membuat Ghanis dan Riri sama-sama menoleh. Panda tertawa renyah, “Duh kompak banget,” ledeknya. Riri mencebik ketika mengetahui Panda mendekat dan menggodanya, sementara Ghanis hanya tersenyum kecil.
“Baru datang, Bos,” balas Riri yang dibalas Panda dengan mengacak rambutnya. Riri buru-buru menepis kebiasaan buruk Panda. “Iiiiiiih,” protes Riri sembari gerakan merapikan rambutnya. Panda senyum-senyum penuh kemenangan.
Ghanis tersenyum kecil melihat interaksi kedua anak buahnya. Sejatinya ia ingin bisa bebas bercanda seperti Panda, tapi tidak bisa semudah itu. Ghanis memutuskan beranjak. “Ehem. Saya ke tempat Pak Herman dahulu, ya,” pamit Ghanis
Panda dan Riri mengangguk hormat dan sama-sama memperhatikan punggung Ghanis yang terus menjauh.
Riri sedang mencari charger di tasnya ketika Panda bertanya tentang hubungannya dengan Ghanis. Riri menggeleng, “Jangan bikin gosip, Bang!” protesnya dengan mata yang menatap Panda tajam.
Yang ditatap malah tertawa geli. “Sebenarnya itu pertanyaan Rais. Kami tadi melihat lo turun dari mobil Ghanis,” aku Panda, “dijemput Bang Ghanis, kan?”
Riri mengangguk. ”Iya, Pak Ghanis menjemput gue, tapi kami nggak pacaran,” jawab Riri dengan memberi penekanan kata-kata terakhirnya. “Puas? Udah ah, gue mau kerja,” sambungnya.
Panda mengangguk dan beranjak dari kubikel Riri, meninggalkan gadis itu yang sukses tidak bisa konsen bekerja. Dia bolak-balik membuka kertas-kertas tanpa memahami yang tertulis di sana. Mencorat-coret di lembaran tersebut yang tahu-tahunya malah menuliskan nama Ghanis. Riri terkejut dan segera mencoret tulisan itu.
Riri mengacak rambutnya sendiri dengan kesal. Dia tampak frustasi dengan perbuatannya sendiri.
“Ri, tolong ke ruangan saya!” seru Ghanis sambil jalan.
Riri cukup terkejut dan jadi kikuk, kemudian mengekor Ghanis menuju ruang kerjanya. Dari ekor matanya dia melihat Panda terus memperhatikan mereka dari kejauhan.
“Silakan duduk,” ucap Ghanis, lalu menyanderkan tubuhnya di kursi. “Saya mau minta tolong,” kata-kata Ghanis terdengar ragu. “Tapi minta maaf sebelumnya, karena ini bukan menyangkut pekerjaan.” Dengan hati-hati Ghanis memperhatikan reaksi Riri.
“Mau minta tolong apa ya, Pak? Kok saya jadi deg-degan,” jawab Riri polos sembari menyeringai.
“Javas ulang tahun hari ini. Saya benar-benar lupa, jadi belum menyiapkan apa-apa untuknya,” aku Ghanis. “Tadi Ibu yang mengingatkan untuk ke Depon karena ada syukuran. Kamu bisa bantu saya carikan kado untuknya sambil ke luar makan siang? Maaf kalau ngerepotin, karena saya harus ke Kejaksaan sampai sore, dan rencananya saya langsung menemuinya,” terang Ghanis.
KAMU SEDANG MEMBACA
Tempat Kita Pulang
Mistério / SuspenseArina Prameswari, seorang penyidik cantik yang berjuang untuk menemukan keberadaan sang ayah dan memulihkan namanya. . Menurut Riri, sebuah konspirasi menjebak ayahnya hingga dia masuk dalam DPO. Dan Riri ingin membuktikan sebaliknya. . Ditemani Gha...
