19. Mask

5.8K 1K 138
                                        

Behind every mask there is a face, and behind that a story – Marty Rubin.

"Sini, sama Paklik." Lelaki itu meraih tangan Luna, lalu menggendong Luna di pangkuannya. Sementara ibunya sibuk menyiapkan makan malam di dapur.

Berbeda dengan ayahnya, Pakliknya seorang pria yang berbadan ramping. Sederet kumis tipis menghiasi bagian bawah hidungnya. Alih-alih seram seperti ayahnya Seto, Pakliknya malah ramah dan hangat.

Lelaki itu juga mengajak Luna bersenandung. Luna sesekali tersenyum riang meskipun canggung. Ibu dan ayahnya tak pernah mengajaknya bernyanyi. Dari Seto ia tahu sedikit-sedikit. Pelangi dan Bintang Kecil, hanya dua lagu itu yang ia hapal dalam kepala.

Sembari bernyanyi, lelaki itu menciumi pipinya. Tangannya perlahan masuk ke dalam gaun Luna, menyusup ke dalam singlet yang sudah usang, lalu meraba-raba dadanya dengan lembut.

Luna menatap Pakliknya tak mengerti, tetapi lelaki itu hanya tersenyum sambil berbisik, "Enak?"

Dia terus meraba-raba dada Luna, kemudian perlahan turun, menyusup melewati tepian celana dalamnya.

***

Mati kau, bangsat!

Mati!

Mati!

Mati!

Luna berjongkok di lantai. Ia menghunjamkan belatinya berkali-kali, tapi rasa puas itu tak kunjung datang. Semakin keras ia menancapkan belatinya, sebuah tawa terdengar semakin keras mengejeknya.

"Kau cantik juga, Sayangku...."

Mati!

Mati!

Mati!

Benda di depannya hancur berderai-derai sampai tak berbentuk. Bagian perutnya mengeluarkan cairan berwarna merah darah. Lama kelamaan cairan itu menyatu, lengket dengan dakron, kain dan bulu-bulu lembut.

Tadinya boneka itu imut. Kini ... menakutkan!

Kau sakit jiwa, Na!

Napasnya tersengal-sengal. Bibirnya menyunggingkan seringaian puas. Tangannya gemetaran saat melepas belatinya. Benda itu mengeluarkan dentingan kecil saat jatuh ke lantai. Lututnya menggigil ketika dipaksa berdiri.

Kamar mandi itu berukuran dua kali satu setengah meter. Di dindingnya menggantung sebuah lemari kayu kecil serba guna, tempat Luna menyimpan rahasia-rahasia tergelapnya. Tiada seorang pun pernah masuk ke dalam tempat itu. Ia mengantongi kuncinya ke mana pergi. Pun tak ada teman-teman sekantor yang mampir ke kontrakannya, lalu menumpang  buang air. Lagipula, ia masih punya kamar mandi belakang. Mempunyai banyak teman bukanlah hobinya. Ia tidak suka bersosialisasi kecuali dalam batas profesionalisme kerja dan basa-basi. Selain dari itu, hidupnya benar-benar sunyi.

Beberapa menit kemudian, punggungnya tersandar lelah di dinding. Tatapan matanya menerawang ke langit-langit. Ia tidak peduli bila lantai yang ia duduki masih agak lembab setelah dipergunakan terakhir kali.

Pening dikepalanya berangsur pergi. Rasa mual di perutnya hampir sirna. Gigilan di lututnya juga perlahan hilang, setelah ia menelan satu butir obat penenang. Saking terbiasanya, ia hampir tidak membutuhkan air minum untuk menelan obat tersebut.

Butuh waktu seumur hidup, atau mungkin sampai tubuhnya menjadi tulang belulang untuk mengobati trauma yang nyatanya tak pernah sembuh. Butuh waktu bertahun-tahun menyangkal dan memblokir ingatannya, tetapi mimpi buruk itu selalu hadir, terkadang dalam bentuk yang lebih mengerikan.

Platonic Marriage (END - Terbit)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang