Berlarung biduk mimpi menyusuri bilik-bilik malam sunyi, pada binar biasnya rembulan itu, secercah angan tersusun pada prasasti kasih paling syahdu. Menampikkan segenap ragu yang bermukim dalam relung-relung tabah akan prosesi lakarnya segumpal hati. Iya, Nona. Pun segenggam asa itu telah terbebas dari perhelatan akan kewarasanku saat ini. Hingga apabila kemuning fajar menyingsingkan dirinya dari balik ufuk, separuh tegarku akan mengutuh untuk tetap menggilai perangaimu dari balik dinding-dinding tabir ini, Nona. Sebab kala itu tak lagi kujumpai risau tentangmu selain menyuluhkan rasa paling agung akan kerinduan, pun selarik kabar dari fajar yang membaiatkanmu telah menggenapkan hari untuk merotasikan kisah yang lalu-lalu. Tak 'kan berlaku lagi sisa perjalanan para penyunggi cemas, di balik menyemainya benih-benih ikhlas.
Madura, 22 Des 2020
Ps
KAMU SEDANG MEMBACA
KUMPULAN SAJAK
PoesíaPuisikan Jiwa Liarkan kata Maka, lihatlah! Keindahan sastra
