Liburan semester telah usai. Aktivitas sekolah kembali seperti biasanya. Adelia dengan kedua sahabatnya, Caca dan Luna sedang berbincang-bincang di tempat duduknya masing-masing. Menceritakan pengalaman mereka selama menjalani karya wisata beberapa Minggu belakangan.
"Seharian main di pantai, main kembang api, BBQ-an, nyesel deh Lo gak ikut," Caca bercerita yang tentu saja membuat Adelia semakin ini dibuatnya. Sebal? Iya, kenapa dia bisa-bisanya menjelaskan sedetail itu padanya.
"Terus ada satu orang cewek yang sok jagoan main sampai ke tengah, eh... malah kebawa ombak. Untung aja ada penjaga pantai, kalau enggak...." Kini Luna yang bercerita namun dia tidak menyelesaikan perkataannya. Ia berdecak seraya menggeleng pelan.
Sepertinya Adelia tidak perlu bertanya lagi tentang siapa orang yang dimaksud Luna, karena orang tersebut sudah ada di sebelahnya. Asal menebak saja karena reaksi Caca terlihat kesal ketika Luna menceritakan hal tersebut.
"Oh iya gue ingat," seru Caca tiba-tiba, walaupun raut kesalnya belum hilang sepenuhnya. "Terus di sana ada cewek yang kayaknya lagi kasmaran sama salah satu penjaga pantai. Anak kuliahan, ganteng, tubuhnya tinggi, atletis, eksotis tentunya, terus—"
"CACA!!"
Luna tiba-tiba saja berteriak. Gadis itu berusaha untuk membungkam mulut Caca agar tidak bercerita lebih jauh lagi namun nyatanya Caca tidak berhenti sampai di situ. Gadis itu terus menceritakan tentang 'Anak Kuliahan' yang dimaksud sembari menghindari bungkamannya.
Dari apa yang terjadi, Adelia bisa memastikannya kalau cewek yang Caca maksud adalah Luna. Terkejut memang, melihat dari sosok Luna yang biasanya selalu acuh ketika berhadapan dengan laki-laki.
"Terus lo dapat nomornya gak, Lun?" Adelia memilih mengikuti alur. Ia bertanya seraya menampilkan seringainya, sedikit menggoda.
Yang ditanya terlihat terkejut. Ia langsung duduk di tempatnya dengan kepala yang dipalingkan. Samar-samar Adelia bisa melihat rona merah di wajah Luna.
"A-ada," jawabnya dengan gugup.
"Kalau gue enggak bertindak, gak bakalan dapat tuh nomornya Bli Wayan. Sumpah! Gue gemas banget sama mereka berdua! Luna gelagapan minta ampun, yang satu lagi rada-rada gak pekaan." Cerita Caca lagi sembari menunjukkan raut sebalnya.
*Bli (bukan beli) adalah panggilan orang Bali. Biasanya digunakan untuk laki-laki yang lebih tua tapi tidak terlalu tua atau bisa juga kepada orang yang sebaya yang belum kenal.
"Caca! Enggak gitu!"
"Lah? Faktanya memang gitu." Sanggahnya membenarkan.
Keduanya saling melempar sorot yang paling tajam. Terlihat keduanya seperti sedang beradu argumen melalui tatapan mata layaknya telepati.
Melihatnya Adelia meneguk ludahnya, "Malah ribut. Udah-udah. Memangnya lo berdua kagak kangen sama gue? Udah seminggu lebih kita enggak ketemu. Malam tahun baru juga kalian enggak ada waktu. Sepi enggak ada lo berdua," Adelia menengahi keduanya. Namun sorot tajam mereka berdua langsung beralih padanya.
"Bhiyan kan ada," ujar dingin keduanya dengan serempak. Saat itu juga Adelia langsung kikuk, ia tertawa cukup lama dengan wajah bodohnya sebelum akhirnya menutup mulut, kemudian menyembunyikan wajahnya dari keduanya. Untuk terakhir kalinya ia tidak akan menggangu perdebatan mereka berdua lagi.
"Postingan Instagram lo yang terakhir, lo beneran ke Dufan sama Bhiyan, Del?" Luna tiba-tiba berujar, Adelia langsung mengangkat wajahnya, menatap wajah datar gadis itu.
"Heh!? Seriusan!?" Seru Caca tidak percaya. Gadis itu langsung mengecek akun Instagram milik Adelia dan langsung menemukan postingan terakhir yang dikirim Adelia. "Beneran dong. Sial! Lo waktu itu sengaja sakit kan, Del, biar Bhiyan ngajakin Lo ke Dufan!"
KAMU SEDANG MEMBACA
A Miracle In Your Eyes
Teen Fiction(16+) Adelia Maudy Dinata, gadis cantik dengan suara teramat merdu ketika bernyanyi. Ia dicap sebagai trouble maker di sekolahnya, SMA Bharatayudha. Sikap usilnya terhadap siswa-siswi difabel benar-benar meresahkan. Sebuah insiden mempertemukan Adel...
