Suara ponsel di atas meja itu berdering. Bhiyan yang masih tertidur pulas harus terbangun karenanya. Meraba meja dengan ujung jemarinya hingga berhasil mendapatkan benda berisik itu. Dengan kesadaran yang belum pulih seutuhnya, ia mengangkat panggilan itu.
"Halo?" Bhiyan menguap lebar, membuat tertawa orang yang berada di seberang.
"Selamat pagi Raja tidur."
Adelia ternyata. Bhiyan melekukan bibirnya.
"Pagi Dedel. Ada apa?"
Terdengar suara decakan dari seberang.
"To the point banget sih lo Bhi. Basa-basi dikit kek!"
Bhiyan mendesah panjang.
"Dedel sudah makan? Sudah mandi? Makannya pakai apa tadi? Pakai piring atau pakai baskom?"
"Makan kuah sup pakai garpu." Pengucapan Adelia terdengar datar. Bhiyan bisa menebak kalau Adelia mulai kesal karena ulahnya.
"Wow. Hebat lo Del."
"Mestilah. Kan ada pepatah yang mengatakan 'kalau ada yang susah ngapain cari yang mudah'."
Bhiyan bertepuk tangan. Gadis di seberang semakin kesal karena ulahnya.
"Basa-basinya yang berbobot Bhiyan! Lo nanya begituan kayak remaja-remaja pacaran tahun 2000-an aja! 'Sayang-sayang, udah makan belum? Makan dulu sana. Nanti kamu sakit. 'Kalau kamu sakit, siapa yang ngurusin?'—"
"Ya emak dia pastinya."
"Ya... benar sih. Aish...."
Adelia malah mendesah panjang. Membuat Bhiyan terkekeh geli.
"Iya-iya," Bhiyan menghela pelan. "Nanti jadi datang?" Bhiyan teringat akan sore itu.
"Iya jadi. Pokoknya lo tinggal duduk manis aja, menanti gue."
Bhiyan senang mendengarnya.
"Bhiyan... oh Bhiyan." Adelia memanggil sekali lagi.
"Ada apa Del?"
"Gue mau cerita sesuatu. Tapi gue malu."
Bhiyan menaikkan sebelah alis matanya, "malu kenapa? Cerita aja sama gue. Gue janji enggak bakalan ketawa."
"Emm... tadi malam gue mimpiin lo. AAHH!! MALU GUE!!"
Bhiyan tertawa pelan. Samar-samar wajahnya sudah berubah kemerahan. Ia kagum dengan Adelia, walaupun gadis itu sedang menahan malu namun dia tetap menceritakannya. Mungkin karena via telepon, kalau bertatapan secara langsung ia ragu Adelia akan seperti ini.
"Jadi, kalau boleh tahu lo mimpiin apa?" Bhiyan mulai penasaran.
"Emm... lo ingat kejadian kemarin sore?"
"Kemarin sore? Apa?"
"Itu... Helm."
Bhiyan langsung ber-oh ria. Ia ingat kejadian itu. Nampaknya sekali lagi ia ingin menggoda Adelia.
"Kesimpulannya mimpi lo itu berhasil tanpa ada halangan? Termasuk helm?" Bhiyan menyeringai.
"Y-y-ya. HUAA!! KUENYA GOSONG!! GUE PUTUS DULU BHI. BYE!!"
Tut...
Tawa Bhiyan kemudian meledak begitu sambungan teleponnya terputus. Ia sampai mengaduh sakit seraya memegang perutnya. Selalu ada kesenangan tersendiri ketika dirinya menggoda Adelia.
KAMU SEDANG MEMBACA
A Miracle In Your Eyes
Roman pour Adolescents(16+) Adelia Maudy Dinata, gadis cantik dengan suara teramat merdu ketika bernyanyi. Ia dicap sebagai trouble maker di sekolahnya, SMA Bharatayudha. Sikap usilnya terhadap siswa-siswi difabel benar-benar meresahkan. Sebuah insiden mempertemukan Adel...
