21. Sebuah Permohonan

198 23 0
                                        

Bel pulang sekolah berbunyi. Para siswa seluruhnya telah diperbolehkan untuk meninggalkan lingkungan sekolah. Beberapa dari mereka pastinya ada yang langsung pulang ke rumahnya masing-masing. Ada yang melaksanakan kegiatan ekstrakurikuler, menghabiskan waktu dengan teman-teman, dan masih banyak lagi.

Adelia berjalan lemas di sepanjang koridor sekolah. Ia gagal dalam ujian sejarah. Bukan untuk yang pertama kali, sering malahan. Entah kenapa otaknya tidak bisa menerima setiap materi yang guru sejarahnya berikan. Bukan berarti dirinya menyalahkan guru yang sudah menempuh Pendidikan Doktor tersebut. Padahal di pelajaran lainnya nilainya begitu bagus namun anehnya hanya di pelajaran sejarah saja nilainya yang anjlok. Kalau dipikir-pikir, dirinya benar-benar sama seperti Bhiyan. Laki-laki itu pernah bercerita padanya bahwa dia benar-benar benci pelajaran sejarah. Selalu membuatnya menguap selama pembelajaran bahkan tertidur. Walaupun begitu Bhiyan selalu mendapatkan nilai yang lumayan, dibandingkan dirinya yang ... sudahlah.

Bicara soal Bhiyan, laki-laki tunanetra itu sudah seminggu lamanya tidak masuk sekolah. Ia masih dirawat di rumah sakit selepas insiden yang hampir merenggut nyawanya. Dua hari dirawat di ruang ICU kemudian dipindahkan ke ruangan perawatan.

Selama seminggu pula, selepas pulang sekolah Adelia selalu menyempatkan dirinya berkunjung ke rumah sakit tempat Bhiyan dirawat. Kondisinya berangsur-angsur pulih namun sampai saat ini Bhiyan belum sadarkan diri. Ia benar-benar rindu mendengar suaranya ataupun lagak sombong yang terucap dari mulutnya.

Bicara tentang Ray, pria brengsek itu sudah tidak berstatus pelajar di SMA Bharatayudha lagi alias dipecat bersama dua orang yang ikut dalam aksi penyerangan Minggu lalu. Lalu kemana Ray sekarang?

Karena kasus penyerangan itu, Bunda langsung mengajukan laporan ke kantor polisi hingga menuju ranah meja hijau. Permintaan untuk menyelesaikan secara kekeluargaan yang orang tua Ray inginkan ditolak mentah-mentah. Dengan serangkaian proses yang lumayan panjang akhirnya Bunda memenangkan persidangan. Ray kini harus mendekam di balik jeruji besi. Hukuman yang benar-benar setimpal dan layak ia dapatkan.

"Del!" Dari belakang, Alissa berlari kemudian berteriak di dekatnya, berniat untuk membuat Adelia terkejut namun reaksi Adelia terlihat biasa saja. Gadis itu menoleh pada Alissa dengan menunjukkan wajahnya yang suram.

"Keruh amat tuh muka kayak enggak ada gairah hidup," cibir Alissa. Adelia tidak menanggapi, masih fokus dengan langkahnya.

"Mau jenguk Bhiyan?" Alissa kini bertanya. Padahal ia tidak perlu menanyakan hal tersebut pada Adelia karena dirinya terkadang selalu bersamanya ke rumah sakit untuk menjenguk Bhiyan.

"Iya," jawab Adelia tidak bersemangat. "Mau barengan?"

Alissa menggeleng, "gue harus kumpul dulu sama anak-anak OSIS. Entar kelar ini deh gue ke RS."

Adelia mengangguk, "yaudah gue duluan," ujarnya kemudian mempercepat langkahnya meninggalkan Alissa dibelakang.

Alissa menghela pelan. Semenjak Bhiyan dirawat di rumah sakit, sikap Adelia berubah drastis yang sebelumnya cerah dan bersemangat sekarang terlihat begitu suram. Alissa menatap punggung Adelia hingga akhirnya menghilangkan di tikungan koridor. Padahal awalnya ia menghampiri Adelia hanya ingin memberitahukan kondisi Bhiyan saat ini. Rasanya tidak perlu. Biarlah menjadi sebuah kejutan untuknya.

Seperti biasanya Adelia berangkat ke rumah sakit dengan sepeda motornya. Sebelumnya ia menyempatkan diri untuk berkunjung ke salah satu minimarket, membeli roti ataupun snack untuk mengganjal perut. Hanya itu. Tidak ada buah-buahan ataupun barang-barang lainnya yang biasa digunakan orang-orang untuk menjenguk. Lagian untuk apa saat ini ia membeli buah-buahan kalau orang yang dijenguknya belum sadar sampai sekarang.

A Miracle In Your EyesCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang