"Ah!! Susah banget!!"
Di salah satu ruangan rumah sakit, Adelia berteriak dengan kencangnya seraya menunjukkan raut wajah frustasi. Tangannya yang sebelumnya memegang sebuah busur serta biola diserahkan begitu saja kepada si pemilik aslinya. Gadis itu kemudian memalingkan wajahnya begitu saja seraya bersedekap.
"Mudah frustasi seperti biasanya," Bhiyan—si pemilik biola—menyeringai sebab tingkah Adelia barusan. Meletakkan biola pada dagunya seraya tangan kanan menggesek dawai.
"Berisik!" Jawab kesal Adelia sembari mendecak. Saat ini dirinya tidak memiliki keinginan untuk melihat laki-laki itu, apalagi biola yang dia pegang sebelumnya. Biola yang tidak bisa diajak kerja sama.
"Padahal gue sempat berharap lo bakalan bisa main biola dalam waktu singkat, seenggaknya bisa mainin satu lagu. Sudah seminggu latihan tapi sampai sekarang Do-re-mi-pun belum lancar-lancar juga. Yah... pada akhirnya semuanya kembali ke yang namanya bakat."
Adelia memilih membatukan telinganya. Saat ini indera pendengarannya hanya tertarik pada lagu yang Bhiyan mainkan.
"Apa yang salah ya? Cara mengajar enggak, keras enggak, kalau muka memang udah tampan dari dulu. Hmmm... kenapa Vina bisa lancar main biola dalam waktu seminggu ya? Padahal metode yang gue terapin sama kayak dulu."
Mendengar itu Adelia langsung menolehkan wajahnya pada Bhiyan seraya menatapnya dengan tidak percaya.
"Seriusan? Seminggu doang?"
"Serius. Seminggu latihan dia udah bisa mainin beberapa lagu. Sebulan kemudian dia udah bisa nge-aransemen lagu bahkan sudah bisa mainin lagu klasik yang cukup rumit. Yah... di atas Kaori masih ada Sherly."
Adelia percaya dengan apa yang dikatakan Bhiyan, karena sudah melihat buktinya secara langsung sewaktu ia berkunjung ke SMA Adiwira. Hanya saja saat ini ia terkejut mendengar waktu yang dibutuhkan Sherly untuk benar-benar mahir dalam bermain biola.
Bhiyan berhenti memainkan biolanya, "Mau gue kasih tahu satu rahasia?" Bhiyan tiba-tiba memelankan suaranya, terdengar misterius. Karena penasaran, Adelia pun mendekatkan wajahnya. Jarang-jarang sekali Bhiyan mau menceritakan suatu rahasia kepadanya.
"Gue takut kalau suatu saat Vina benar-benar bisa ngelampauin gue dalam bermain biola."
"Eh?"
"Kalau lo nyari Guru yang enggak ingin anak didikannya berkembang cuma ada di gue. Hahaha. Konyol kan?" Bhiyan tertawa lepas menceritakannya.
"Setiap harinya Vina selalu berkembang, gue tahu itu. Waktu yang dia punya selalu diisi dengan latihan, latihan, dan latihan. Enggak memungkinkan suatu saat Vina bakalan bisa ngelampauin gue."
"Terus yang bikin lo takut apa?" Adelia yang kini bertanya padanya.
"Bayangin wajah Sherly sewaktu dia sudah melampaui gue."
Wahai guruku yang selalu menyebut dirinya tampan! Kini aku sudah melampaui dirimu! Hahahahaha!
Tatapan tajam nan merendahkan, suara tawa yang menyeramkan ditambah gemuruh petir yang menggelegar, biola di dagunya sembari memainkan musik symphony no. 5 karya Ludwig Van Beethoven. Sementara dirinya hanya bisa bertekuk lutut di hadapannya, tidak bisa berbuat apa-apa. Seperti itulah bayangan Bhiyan saat ini.
"Bakalan begitu kan, Del?" Ucapnya sembari menahan suara yang bergetar seperti hendak menangis.
"Bakalan begitu, gimana?" Adelia benar-benar tidak mengerti dengan apa yang Bhiyan bicarakan.
Adelia perhatikan, belakangan ini Bhiyan menjadi pribadi yang lebih berekspresif. Ia bahkan tidak segan memperlihatkan perasaan yang dirasakannya. Senang, sedih, bahagia, semuanya tergambar jelas di wajahnya. Adelia sendiri sempat ragu kalau ekspresinya tersebut hanyalah sebuah topeng belaka. Yah... semoga saja bukan.
KAMU SEDANG MEMBACA
A Miracle In Your Eyes
Teen Fiction(16+) Adelia Maudy Dinata, gadis cantik dengan suara teramat merdu ketika bernyanyi. Ia dicap sebagai trouble maker di sekolahnya, SMA Bharatayudha. Sikap usilnya terhadap siswa-siswi difabel benar-benar meresahkan. Sebuah insiden mempertemukan Adel...
