14. Ribuan Kebahagiaan

236 22 0
                                        

Senja telah berganti malam. Kilauan malam lampu-lampu kota terpancar jelas dari jendela kamar Adelia. Malam yang ditunggu-tunggunya sudah tiba. Ia sudah siap!

Dengan kode baju formal, Adelia serta teman-temannya mulai berjalan turun menuju aula hotel. Kembali diri mendapatkan pemandangan yang sama di saat pembukaan perlombaan ini namun ia merasa suasana sekarang lebih padat dan meriah dari yang kemarin. Jantungnya mulai berdebar tidak karuan. Namun tentunya ia tidak akan merasa takut karena keberaniannya benar-benar mengontrol dirinya kali ini.

Sesampainya di Base-lokasi tempat duduk-ia mengedarkan pandangannya mencari keberadaan Bhiyan dan teman-temannya. Namun ia tidak dapat menemukan keberadaan mereka. Mungkin mereka masih belum selesai.

Ponselnya tiba-tiba saja bergetar. Dari layar perseginya itu, Ray terlihat mengirimkan sebuah chat singkat melalui aplikasi. Adelia membuka dan membacanya.

Malam Adel. Aku mau minta maaf lagi sama kamu. Aku enggak bisa hadir. Aku lagi ngerjain proyek sama Papa dan kebetulan aku sendiri tidak dikasih izin. Aku minta maaf. Good luck buat lomba kamu^^

Adelia membaca pesan itu tanpa ekspresi. Ia sudah cukup sabar dengan alasan-alasan Ray sekarang. Ia mematikan layar ponselnya, menatap fokus ke depan. Seketika teringat ketika Mamanya menelepon. Ia awalnya bahagia sekali mendengar wanita itu akan datang. Namun tiba-tiba ia membatalkannya begitu saja karena urusan pekerjaan yang tidak bisa ia lewatkan. Hal itu membuat dirinya kesal.

Adelia mengepalkan tangannya. Ini hari pembuktiannya. Tanpa dua orang itu pun, ia yakin bisa memberikan penampilan yang terbaik untuk malam ini.

Matanya tiba-tiba saja melihat Caca dan Luna. Sontak saja Adelia langsung berdiri, melambai-lambaikan tangannya ke udara sembari berteriak menyebut nama keduanya.

"Caca! Luna!" Atas usahanya, dua gadis itu menoleh. Keduanya melangkah cepat mendekati Adelia.

"Kita berdua enggak telat kan?" Tanya Luna pada Adelia membuat gadis itu tersenyum lebar.

"Acaranya belum di mulai. Tenang aja." Adelia kemudian mempersilahkan keduanya duduk.

"Bhiyan sama Alissa mana Del?" Tanya Luna sembari menyapu pandangannya. Hal itu membuat Caca dan Adelia saling tatap kemudian tertawa bersamaan.

"Kayaknya ada yang lagi kangen nih Ca," sindir Adelia yang berhasil membuat Luna gelagapan.

"Jangan kangen, berat. Kamu enggak akan kuat. Biar aku saja," balas Caca.

"Rindu bego!" Adelia terkekeh geli dengan tingkah Caca.

"Kan... kan biasanya lo sama mereka. Ya... ya gue heran aja sekarang enggak sama," jelas Luna mencari pembelaan namun kedua sahabatnya itu masih saja menertawakannya. Membuat wajah Luna merah padam menahan malu. Baru kali ini ia dibuat malu oleh dua sahabatnya ini.

Detik berikutnya mereka melihat rombongan SMA Bharatayudha mulai mengisi tempat duduk yang di sediakan untuk mereka. Ia melihat ada Bu Vina, Pak Syarif, Daniel, Ulrich, juga Bhiyan dan Alissa yang berjalan berdampingan. Di sebelah keduanya ia melihat Demian juga Pak Syarif yang tengah berjalan sejajar.

Alissa membawa Bhiyan menghampiri ketiganya.

"Good luck ya Del," ucap Alissa membuat Adelia tersenyum.

"Makasih Sa."

"Lo enggak nerveous lagi kan?" Giliran Bhiyan yang bertanya.

"Enggak," Gadis itu langsung menggeleng cepat sembari menyunggingkan senyum manisnya. "Lo enggak perlu takut. Kali ini, gue enggak bakalan kecewain kalian semua."

A Miracle In Your EyesCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang