Bel istirahat baru saja berbunyi. Salah satu lonceng surgawi yang paling ditunggu-tunggu setiap pelajar di tanah air. Sepertinya biasanya para siswa akan menghabiskan waktunya sekadar untuk menenangkan pikiran sehabis dihantam materi yang sedikit banyaknya pasti membuat mereka pusing. Ada yang ke toilet, ada yang memenuhi panggilan guru, beberapa dari mereka mungkin ada yang memilih mengisi perut di kantin atau sekadar duduk di sana.
Di salah satu kelas, seorang gadis terlihat sedang merapikan barang-barangnya yang lumayan berserakan di atas meja. Buku-buku ia susun, pena ia masukkan ke tempat penyimpanan. Setelah rapi, gadis itupun berdiri dari tempat duduknya. Gadis itu berniat untuk pergi ke kantin. Perutnya terasa lapar karena ia tidak sarapan tadi pagi.
"Mau ke mana Del?" Teman sebangkunya memanggil. Merasa dipanggil, gadis itu menoleh. Menatap sahabatnya yang terlihat canggung saat menatapnya. Sementara gadis yang dibelakang hanya memperhatikan.
"Ke kantin. Gue lupa sarapan. Bareng?" Ajaknya ramah. Namun ajakannya ditolak.
"Mmm... Gue nyusul entar. Gue sama Luna dipanggil guru soalnya." Jelasnya.
Adelia mengangguk mengerti. Melambaikan tangannya, Adelia berjalan ke luar kelas.
Selama perjalanan, Adelia mendapatkan tatapan serta bisikan dari orang-orang mengenai kandasnya hubungannya dengan Bhiyan.
Kalau diingat-ingat, sudah seminggu waktu berlalu sejak hari itu. Dan sampai saat ini setiap Adelia mengingat kejadian di hari itu, dadanya selalu terasa sesak. Bahkan di suatu momen, dirinya bisa tanpa sadar menitikkan air mata.
Seminggu belakangan Adelia tidak berani menemui Bhiyan. Kabar terakhir yang ia dengar, kesehatan Bhiyan menurun sejak hari itu. Maka dari itu Adelia memutuskan untuk tidak muncul di hadapannya. Bagi Adelia, kehadirannya hanya akan memperburuk kondisi Bhiyan nantinya. Terlebih lagi perkataannya waktu itu-Lo tahu enggak, alasan gue bertahan sampai saat ini? Karena lo Del! ... Kalau aja waktu itu lo enggak minta gue bertahan, gue lebih milih mati asal lo tahu aja!-sampai saat ini masih terngiang di kepalanya setiap kali ia mengingat Bhiyan.
Di sisi lain sejak hari itu pula, hubungannya dengan Alissa mulai berjarak. Setiap bertemu, Alissa tampak terlihat tidak senang, bahkan dibeberapa momen gadis itu terlihat sengaja menghindar. Setiap bertanya kondisi Bhiyan belakangan, Adelia belum pernah mendengar kabar bagus darinya. Kondisinya menurun, sama aja, enggak ada perubahan. Begitu katanya. Dan di hadapannya terlihat Alissa sedang berjalan dengan beberapa anggota OSIS lainnya. Adelia langsung mendekatinya.
"Alissa," panggil gadis itu. Refleks mereka yang berjalan langsung berhenti. Alissa menatap Adelia sesaat sebelum akhirnya menyuruh para anggota OSIS itu untuk pergi meninggalkan mereka.
"Apa lagi? Kondisi Bhiyan lagi? Enggak ada yang berubah sama sekali," Alissa menghela berat, terlihat malas untuk meladeni Adelia. "Lo enggak capek apa, nanya-nanya begituan mulu? Kenapa enggak lo aja yang datang langsung, mastikan kondisi dia yang sekarang."
Adelia menggigit bibirnya.
"Ka-kalau gue datang, kondisi Bhiyan makin-"
"Nah... lo udah tahu sendiri jawabannya." Adelia membelalak, seringai lebar muncul di bibir Alissa. "Sampai sekarang gue benar-benar heran sama lo, Del. Lo itu kan bukan pacarnya Bhiyan lagi, jadi buat apa lo harus merasa peduli sekarang? Sewaktu lo masih jadi pacar dia, lo ngapain aja? Nongkrong-nongkrong sampai lupa waktu? atau malah asyik main sama cowok yang udah jelas-jelas Bhiyan suruh untuk lo jauhi?-"
"Bukan!" Adelia memotong perkataan Alissa. Karena suaranya yang mendadak naik, orang-orang yang melintas refleks menatap ke arah mereka. Alissa pun semakin melebarkan seringainya.
KAMU SEDANG MEMBACA
A Miracle In Your Eyes
Novela Juvenil(16+) Adelia Maudy Dinata, gadis cantik dengan suara teramat merdu ketika bernyanyi. Ia dicap sebagai trouble maker di sekolahnya, SMA Bharatayudha. Sikap usilnya terhadap siswa-siswi difabel benar-benar meresahkan. Sebuah insiden mempertemukan Adel...
