30. Maaf

207 23 0
                                        

"Tadi pagi kayaknya ada orang yang kelewat bahagia deh. Udah siang begini, kayak mayat. Enggak punya tujuan hidup."

Caca berucap di sampingnya sembari menyeruput lemon tea. Tangannya menopang dagu, menatap Adelia seraya mengejek.

Adelia mengerutkan keningnya, membuang pandangan keluar jendela. Meracau-racau tak jelas sedari tadi. Tidak usah dijelaskan kalau dia sedang marah plus kesal.

Pelakunya?

"Namanya mayat kan udah mati. Ngapain lagi mikirin hidup," Luna memprotes, menyuapkan sesendok eskrim matcha di atas mejanya.

Caca berdecak. Perempuan yang duduk sendirian di depan mereka sama sekali tidak bisa diajak kerja sama. Ia memilih untuk tidak menghiraukan ucapan Luna.

Beberapa lamanya larut dalam diam, desahan panjang keluar dari mulut Adelia. Kesal sekali mengingat kejadian tadi pagi.

Waktu itu...

Adelia baru saja tiba di sekolah. Berjalan riang sembari menyapa orang-orang yang berlalu dari hadapannya.

Kedua tangannya terlihat penuh. Membawa sebuah bingkisan yang isinya kotak bekal berisikan kue kering. Buatannya sendiri, hasil mencontek resep dari internet. Kalau rasa, tidak perlu ditanyakan lagi.

Bingkisan tersebut ia bawa untuk diberikan kepada Bhiyan. Niat hati untuk sekadar pamer keahlian juga ingin tahu respon laki-laki itu seperti apa ketika mencicipi kue buatannya.

Adelia berteriak dalam hati. Tidak sabar rasanya!

Beberapa meter di depannya, ia melihat Bhiyan berjalan seorang diri dengan tongkat putih di tangan kanannya. Menenteng gitar di bahu tentunya.

Jantung Adelia langsung berdegup kencang. Sensasi yang wajib ia rasakan ketika melihat kehadirannya.

Tidak hanya Adelia. Manusia manapun ketika melihat orang yang "di-spesial kan" akan merasakan sensasi yang sama.

Adelia segera berlari ke arah laki-laki itu.

Ia benar-benar senang ketika Bhiyan berjanji padanya kemarin sore. Ia akan dinomorsatukan olehnya. Juga sejak kemarin sore, Bhiyan selalu memanggilnya dengan sebutan "Dedel".

Ketika ditanya, "Nama Dedel diambil dari mana?"

Dia menjawab, "dari April. Ingat gak dulu April sering panggil lo Dodol. Gue plesetin dikit dan terciptalah Dedel".

Sialan!

Tapi tidak apa. Ia benar-benar suka dengan nama panggilan itu. Sederhana namun efeknya luar biasa.

"Pagi Bhiyan." Sapa Adelia terlebih dahulu.

Bhiyan yang tersadar akan dirinya, langsung tersenyum. Begitu manis.

"Pagi Dedel."

Dan benar saja, jantungnya semakin berpacu dengan cepatnya.

Adelia mengajak Bhiyan duduk di salah satu bangku. Ia langsung teringat akan bingkisan yang ia bawa.

"Gue kemarin coba-coba bikin kue kering. Lo mau coba enggak?"

Bhiyan menyeringai. "Enggak bikin mati, kan?"

"Bhiyan!!" Adelia langsung berteriak kesal. Bhiyan terkekeh, sembari meminta maaf.

"Becanda. Siniin kuenya."

Adelia kemudian membuka kotak bekal itu, mengambil satu buah kue berwarna cokelat.

"Buka mulut lo."

A Miracle In Your EyesCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang