Hujan turun membasahi setiap sudut permukaan bumi yang dikehendakinya. Malam itu begitu pekat. Derasnya hujan bercampur dengan angin yang bertiup kencang. Manusia manapun pasti mengurungkan niatnya untuk keluar rumah dengan cuaca seperti itu.
Tetapi....
Seorang perempuan berlari di tengah derasnya hujan. Gadis itu menggigil. Kedua tangannya ia dekapkan ke tubuhnya. Saking dinginnya, gemeretak giginya sampai terdengar begitu jelas.
Jas hujan yang dia kenakan, tidak mempan sama sekali menahan derasnya hujan, setidaknya tas yang sedang ia rangkul tidak basah sepenuhnya.
Kakinya bergetar hebat, sudah tidak kuat lagi untuk melangkah, namun dia memaksanya untuk tetap bergerak. Sebentar lagi dia tiba ditempat bernaung.
"BHIYAN!"
***
5 jam sebelumnya...
Adelia berjalan memasuki rumahnya, sembari memegangi tasnya. Raut wajahnya terlihat begitu bahagia. Bagaimana tidak? Bhiyan sudah diizinkan pulang dan sebelumnya, sepulang dari sekolah Adelia menghabiskan waktunya bersama Bhiyan. Bermain musik tentunya.
Tiba di ruang tengah, Adelia melihat Mamanya. Berdiri, sembari melipatkan kedua tangannya. Wajahnya terlihat begitu datar melihatnya. Adelia tersenyum sekilas kemudian melangkah menaiki tangga.
"Dari mana kamu, Adelia?"
Belum ada satu pijakan anak tangga, Mamanya sudah memanggil. Adelia berhenti. Berpaling menatap Mamanya yang sepertinya terlihat begitu kesal.
"Dari rumah Bhiyan. Bhiyan baru keluar dari rumah sakit, jadinya Adelia datang buat jenguk." Jawab Adelia dengan santainya. Hal itu membuat Kirana semakin mengerutkan keningnya.
"Sudah berapa kali Mama bilang, jangan pernah berhubungan lagi sama si Buta itu! Kamu dengar ucapan Mama atau enggak!?" Kirana murka, membentak nyaring.
Lagi-lagi...
Entah sudah keberapa kalinya, Mamanya berucap hal yang sama seperti itu. Semenjak mendengarkan pengakuan Bhiyan di sore itu, Mamanya selalu menyinggung perihal Bhiyan. Pagi, siang, malam, hingga sore ini pun, pembahasannya masih sama. Selalu saja merendahkan Bhiyan. Adelia sampai muak mendengarkannya. Selalu saja! Selalu saja!
"Bukan Buta Mama, namanya Bhiyan." Adelia tersenyum tipis. Adelia berusaha agar amarahnya tidak meledak. Ia mencoba mengontrol dirinya agar tidak terprovokasi atas segala ucapan Mamanya, karena suatu saat pasti Mamanya akan lelah dengan pembahasan ini.
"Mama enggak peduli! Pokoknya Mama enggak mau kamu berhubungan lagi sama si Buta itu! Kamu enggak bakalan pernah bahagia sama dia!"
"Kenapa begitu Ma? Ini kan hidup Adel. Yang bakalan nentuin Adel bahagia atau enggaknya, 'kan Adel sendiri. Kenapa Mama jadi ikut-ikutan nentuin kebahagiaan Adel?"
Perkataannya semakin membuat Mamanya murka. Wajah Kirana sampai memerah padam dibuatnya. Amarahnya sudah sampai di kepalanya.
"Enggak ada pilihan lain sepertinya," Kirana tiba-tiba berujar dingin.
"Besok Mama bakalan datang ke sekolah kamu buat ngurus surat pindah."
Adelia sontak terkejut mendengarnya. Ia sama sekali tidak menyangka kalau Mamanya akan bertindak sampai sejauh ini. Demi agar dirinya tidak berhubungan lagi dengan Bhiyan, Mamanya sampai-sampai harus mengambil langkah seperti ini? Pindah sekolah?
Jangan bercanda!
"Bharatayudha enggak bakalan ngelepasin Adel. Enggak akan pernah!" Adelia menekankan suaranya, sedikit membentak.
KAMU SEDANG MEMBACA
A Miracle In Your Eyes
Genç Kurgu(16+) Adelia Maudy Dinata, gadis cantik dengan suara teramat merdu ketika bernyanyi. Ia dicap sebagai trouble maker di sekolahnya, SMA Bharatayudha. Sikap usilnya terhadap siswa-siswi difabel benar-benar meresahkan. Sebuah insiden mempertemukan Adel...
