Hari berganti. Mentari kembali terbit di ufuk timur laksana sejatinya. Jam dinding berdetik dengan konstan. Jarumnya tengah menunjukkan pukul tujuh lewat dua puluh menit. Seharusnya lantai dasar Hotel sudah sibuk-sibuknya mempersiapkan segala sesuatunya untuk melangsungkan perlombaan yang akan dilaksanakan hari ini.
Di kamar berukuran 6×6 meter persegi, Bhiyan tengah bersiap-siap. Dua teman sekamarnya yang berasal dari Klub Musik terlihat sibuk menata penampilannya. Kemeja putih dengan balutan jas berwarna hitam legam. Tidak lupa dengan dasi kupu-kupu yang selaras warna dengan jas-nya. Yang satu bertugas menata pakaiannya, yang satu lagi tengah sibuk merapikan rambut Bhiyan yang mulai panjang.
"Sentuhan terakhir...." Seorang temannya yang barusan selesai menata rambut Bhiyan, tengah membantunya memasangkan kacamata hitam yang selama ini selalu bersamanya. "And finished."
Dua orang tersebut mundur selangkah, menatap takjub Bhiyan yang kali ini terlihat rapi dan begitu tampan.
"Keren banget lo, anjir!" Puji temannya yang bernama Ulrich.
"Masih keren gue dibanding Bhiyan," sambar Daniel tersenyum remeh sembari menyibak rambut, berlagak sok keren.
"Terserah lo, Dan," ucap Ulrich dengan nada malasnya. Matanya kini berpaling kembali menatap Bhiyan. "Bhi lo coba pose paling keren, biar gue foto." Ucapnya sembari mengambil ponselnya yang berada di atas kasur.
"Buat apa? Entar foto gue dengan ketampanan yang luar biasa membahana ini lo sebarin ke anak-anak sekolah kemudian jadi viral di Internet? Kemudian dinobatkan sebagai remaja paling tampan di dunia. Gak kuat gue bayanginya."
Ulrich dan Daniel saling tatap, kemudian secara serempak memasang gestur hendak muntah. Kepedean yang begitu selangit. Sejak dulu laki-laki ini tidak pernah berubah.
"Stop this bullshit, Okay? Untuk foto album sekolah. Jadi lo jangan ngarep foto lo bakalan se-viral video lo kemarin." Bhiyan tertawa mendengar ujaran kesal Daniel. Daniel melirik jam silver di lengan kirinya. "Sepuluh menit lagi acara pembukaan. Mendingan lo cepetan foto Bhiyan, habis itu kita turun ke bawah."
"Okay... gue foto Bhiyan sebentar." Suara shutter kamera beberapa kali terdengar. Ia memilih menyimpan foto-foto terbaik yang nantinya akan ia kirim ke Pak Syarif sesuai perintah beliau. "Ayo ke bawah."
"Wait... tongkat gue tolong Dan."
Daniel segera mengambilkan tongkat putih milik Bhiyan yang berada di tepi kasur.
"Tangkap Bhi," Daniel melambungkan tongkat tersebut tepat mengarah Bhiyan. Di detik berikutnya tongkat tersebut telah beralih pegangan pada sang pemilik aslinya tanpa kesulitan saat menangkapnya.
"Let's go!"
***
Pintu lift perlahan terbuka seiring berbunyi dentingan bel. Ketiganya menapaki lantai dasar Hotel—luasnya melebihi ruang teater SMA Bharatayudha—yang kini sudah ramai dipadati para kontestan yang akan berlomba hari ini.
Sekedar informasi, Bhiyan dan Tim Orkestranya mendapatkan nomor giliran yang keempat untuk menampilkan hasil keras latihan selama tiga Minggu terakhir, dari jumlah total 26 perwakilan sekolah. Sedangkan Adelia, mendapatkan giliran tampil ke-19 dari 100 perwakilan masing-masing sekolah.
Bhiyan tengah melangkah dengan dipandu Ulrich dan Daniel di sebelah kanan dan kirinya, menuju zona duduk SMA Bharatayudha. Menuruni beberapa anak tangga, hingga akhirnya ketiganya sampai.
"Akhirnya sampai juga kalian. Bapak kirain kalian masih molor," Pak Syarif, orang pertama yang menyambut ketiganya.
"Gara-gara Bhiyan pup-nya lama banget nih Pak, makanya kita bertiga terlambat," sindir Daniel tersenyum miring, membuat Ulrich dan Bhiyan spontan mendecak.
KAMU SEDANG MEMBACA
A Miracle In Your Eyes
Novela Juvenil(16+) Adelia Maudy Dinata, gadis cantik dengan suara teramat merdu ketika bernyanyi. Ia dicap sebagai trouble maker di sekolahnya, SMA Bharatayudha. Sikap usilnya terhadap siswa-siswi difabel benar-benar meresahkan. Sebuah insiden mempertemukan Adel...
