35. Kencan dan Rahasia

223 24 6
                                        

Di kamarnya Adelia sedang bersenandung riang sembari merias diri di depan cermin. Membalurkan make-up, mengoleskan pelembab di bibir merah mudanya, dan masih banyak lagi. Adelia ingin terlihat sempurna hari ini. Agar keinginannya terpenuhi, maka dari itu Adelia menuangkan seluruh kemampuannya dalam merias diri. Alasannya karena hari ini merupakan hari yang sakral untuknya. Kencannya dengan Bhiyan akan berlangsung hari ini.

Setiap mengingatnya, selalu membuat jantung Adelia berdegup cepat. Bahkan saking gugupnya Adelia sampai tidak bisa tidur semalam. Baginya kencan ini adalah pengalaman pertamanya—ia tidak menganggap hal yang pernah dilakukannya bersama Ray dulu adalah kencan. Adelia bahkan sampai harus men-doktrin otaknya sendiri, menganggap kencan kali ini seperti jalan-jalan yang biasa mereka lakukan berdua.

Beberapa saat lamanya, akhirnya acara rias-merias selesai. Adelia bangkit dari duduknya, mematut cukup lama dirinya pada cermin. Ia memperhatikan secara intens tubuh bagian atasnya hingga ke bawah. Memutar-mutar tubuhnya, memastikan tidak ada hal yang aneh di tubuh bagian atasnya serta bawahnya.

Adelia sendiri tidak tahu mengapa ia melakukan ini tapi satu hal yang pasti, saat ini Adelia benar-benar gugup. Ia merasa cemas jika nantinya kencan yang mereka jalani rusak ditengah jalan karena dirinya.

Setelah dirundung rasa cemas yang cukup lama Adelia menepuk-nepuk kedua pipinya dengan kedua tangannya, berusaha mengumpulkan energi positif di kepalanya.

"Lo enggak bisa lari Del," batin gadis itu gemas pada dirinya sendiri.

Tak lama Adelia melirik jam dinding di kamarnya. Beberapa menit lagi jadwalnya mereka berdua bertemu. Maka dari itu Adelia segera merangkul tas ranselnya—berisikan bekal serta pakaian ganti—langsung bergerak ke tempat pertemuan.

***

Di atas motornya, jantung Adelia tiada henti-hentinya berdetak cepat. Beberapa menit lagi dia tiba di halte, lokasi yang menjadi titik temu mereka berdua. Gugup yang benar-benar tidak tertahankan. Kalau saja jalanan ini tidak ramai, Adelia tidak akan sungkan berteriak sekencang-kencangnya.

Adelia akhirnya tiba. Ia bisa melihat dengan jelas Bhiyan sudah menunggunya, duduk di halte dengan kaos berwarna putih serta jeans biru tua—sama seperti yang dikenakannya—sembari memegang sebuah helm di tangannya.

Melihatnya semakin membuat jantungnya berdebar keras. Ia melepas helm-nya, mengatur rambutnya yang sedikit berantakan juga mengecek riasan wajahnya. Adelia tidak ingin penampilannya terlihat mengecewakan di hadapan Bhiyan. Paling tidak Adelia sedikit banyaknya ingin mendapatkan pujian darinya.

Setelah berusaha untuk memberanikan diri, Adelia akhirnya mendekati Bhiyan. Dengan gugupnya gadis itu menyapa.

"Bhi-bhiyan. Udah lama?"

Yang dipanggil langsung menoleh, seraya menampilkan senyum terbaiknya.

"Kalau jujur gue bakalan jawab: lama, soalnya gue udah di sini sekitar lima belas menitan. Kalau bohong, gue bakalan jawab: enggak. Lo mau yang mana?"

Mendengar itu membuat Adelia mendesis sebal. Palingan tidak dia tidak perlu sejujur itu.

"Lo beneran udah sembuh kan, Del?" Bhiyan berdiri di hadapan Adelia.

"Pastinya. Asal lo tahu aja, imun gue tinggi banget. Semua penyakit pasti kalah," gadis itu menyombongkan dirinya.

"Boleh gue cek?"

"Silahkan." Balasnya cepat, tidak menghilangkan gelagat sombongnya itu.

Karena sudah diizinkan, tangan Bhiyan langsung memegang belakang kepala Adelia, mendekatkan wajahnya kemudian Bhiyan menempelkan dahinya di dahi Adelia. Kejadian yang cukup singkat itu langsung membuat Adelia tidak bisa berkutik. Wajahnya langsung memerah padam dibuatnya.

A Miracle In Your EyesCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang