25. Minggu Punya Cerita

201 21 3
                                        

Beberapa hari berlalu. Di hari liburnya, Adelia memilih mengunjungi rumah Bhiyan. Bukan alasan rindu melainkan sudah menjadi jadwal untuknya berlatih vokal bersama Bunda.

Kalau ditanya cara mengajarnya Bunda seperti apa, Adelia akan menjawab biasa-biasa saja. Walaupun terkadang Bunda sering marah padanya karena tidak serius latihan—sebagian besar karena ulahnya Bhiyan karena dengan sengaja membuatnya tertawa.

Yah... sampai saat ini pun, Bhiyan masih berusaha untuk menggagalkan fokusnya Adelia.

Adelia yang sedari tadi menahan diri, memilih untuk menyerah. Tawanya meledak begitu saja bersamaan dengan Bhiyan yang kini tengah terbahak-bahak.

Bunda mendesah panjang sembari kedua tangannya ia letakkan di pinggang.

"Puas ketawanya?" Suara Bunda yang datar langsung membuat keduanya terdiam. Bhiyan bersiul sembari menekan tuts piano, berpura-pura untuk tidak tahu-menahu. Sementara itu Bunda menatap keduanya keduanya jengkel  secara silih berganti, terutama pada Bhiyan.

"Maaf Bunda," ujar Adelia pelan sembari menundukkan kepalanya.

Hera menatapnya sesaat sebelum akhirnya ia menghela napas panjang.

"Kayaknya latihan kita hari ini cukup. Soalnya Bunda juga mau latihan buat manggung nanti malam." Ujarnya sembari menepuk salah satu bahu Adelia.

Adelia langsung mengangguk mengerti.

"Bunda mau manggung di mana?" Tanya Adelia penasaran.

"Gedung Teater. Ada Opera nanti malam dan Bunda yang bakalan nyanyi." Wanita itu tersenyum lebar, sedikit membanggakan diri.

"Gue juga ikut," Bhiyan menyambung pembicaraan. "Gue bakalan main biola nanti."

Adelia sedikit terkejut mendengarnya. Ia menoleh sekilas pada Bunda. Wanita itu hanya melemparkan senyum manisnya pada Adelia.

"Tunggu sebentar," ucap Bhiyan yang kemudian beranjak dari tempat duduknya kemudian pergi menuju kamarnya.

Adelia dan Bunda menatap langkah kepergian laki-laki itu. "Bhiyan udah cerita sama kamu soal trauma-nya dia dengan biola?" Ucap Bunda tanpa memalingkan wajahnya dari anaknya yang satu itu.

"Sudah, Bunda."

Bunda terdiam sejenak. Menghela napasnya berat.

"Bunda awalnya juga kaget, dari kamarnya Bunda dengar suara biola. Bunda buka pintu dan benar, Bhiyan lagi main biola. Walaupun permainannya enggak sesempurna dulu."

"Bunda tanya kenapa, Bhiyan cuma jawab 'belajar menerima'. Bunda enggak mengerti maksudnya. Intinya Bunda juga berterima kasih sama kamu." Bunda memegang kedua pundak Adelia sembari menatapnya dengan lembut. "Bhiyan benar-benar berubah menjadi laki-laki dewasa semenjak kenal sama kamu. Tolong jagain Bhiyan buat Bunda ya, Sayang."

Semburat merah di pipi Adelia muncul begitu saja. Ia mendadak malu mendengar permintaan Bunda. Ragu-ragu iya mengangguk.

"Lagi ngomongin apa?" Bhiyan sudah kembali dengan membawa sebuah biola lengkap dengan busur sebagai alat gesek di tangannya.

"Lagi gosipin cowok," Adelia tersenyum jahil. Bunda tertawa mendengarnya.

"Cowoknya ganteng, kan? Jago main musik, baik hati, rajin menabung, dan rajin traktir teman—"

"Yayaya." Adelia memilih mengiyakannya saja. Sudah bisa ditebak kalau Bhiyan mendengar seluruh pembicaraannya dengan Bunda tadi.

Bhiyan melangkah lebih dekat—berdiri di samping piano. Adelia bisa melihat dengan jelas tangannya yang bergetar. Ia menatap Bhiyan khawatir.

A Miracle In Your EyesCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang