Adelia sedang mengendarai sepeda motornya melintasi jalanan yang ramai dengan kendaraan. Memperhatikan ke sekeliling sembari bibirnya mengucapkan sesuatu secara berulang-ulang. Mencari sebuah alamat rumah yang tidak lain adalah rumah Bhiyan Adiaksa. Wajahnya terlihat begitu cerah seperti mentari yang sedang menyinari permukaan bumi yang dikehendakinya.
Sudah seminggu umur hubungan Adelia dan Bhiyan saat ini. Kedua begitu dekat layaknya pasangan normal lainnya. Walaupun kegiatan keduanya lebih banyak dihabiskan di rumah sakit karena kondisi Bhiyan yang belum memungkinkannya untuk beraktivitas.
Kali ini Adelia berniat mengunjungi rumah Bhiyan. Bhiyan akhirnya diizinkan untuk pulang setelah mendapatkan persetujuan dari Dokter yang merawatnya. Dengan catatan, dia tidak boleh melakukan aktivitas yang berat-berat terlebih dahulu sebelum kondisinya pulih sedia kala.
Motornya berhenti beberapa meter sebelum persimpangan jalan. Matanya melihat ke sebuah plang di sebelah kanan jalan bertuliskan Jalan Artileri. Alamat yang sedari tadi Adelia cari-cari. Adelia menarik gas-nya, membelokkan motornya ke arah jalan tersebut.
"Rumah warna putih, pagar putih, di teras rumah banyak tanaman yang digantung."
Adelia mengulangi perkataan Bunda yang disampaikan beberapa hari belakangan. Mencari dan mencari hingga akhirnya ia menemukan sebuah rumah dengan petunjuk tersebut.
Adelia membuka pagar-kebetulan tidak dikunci-kemudian memarkirkan motornya di bawah pohon yang lumayan rindang, tidak terlalu besar, tidak terlalu kecil. Merapikan rambutnya beberapa saat serta merapikan dress yang sedang ia kenakan. Ia benar-benar ingin kelihatan rapi di depan Bunda.
Adelia berjalan menuju pintu depan dengan sebuah paper bag berisikan buah-buahan yang sebelumnya ia beli. Mengetuk pintu sembari mengucapkan salam.
Tidak ada yang merespon.
Adelia kembali mengetuk pintu. Ia sedikit memberikan tenaga di ketukannya.
"Assalamualaikum Bunda! Adel dat-"
Ceklek
Pintu terbuka sebelum sempat Adelia menyelesaikan panggilannya. Wajah Demian muncul dari balik pintu. Adelia kaget sekilas karena wajah Demian terlihat begitu suram dengan rambut acak-acakan. Begadang karena tugas dari kantor mungkin.
Adelia tersenyum canggung, "Bang Ian." Ia menyapanya namun Demian hanya membalasnya dengan dehaman. Adelia kemudian dipersilahkan untuk masuk. Demian berjalan lemas menuju meja komputer yang ada di sudut ruangan-langsung tertidur dengan kedua tangannya sebagai bantalan.
Layaknya manusia yang baru menginjakkan kakinya di tempat yang asing. Adelia melihat-lihat ke setiap sudut ruangan.
Ruang tamu rumah kurang lebih seluas 5×7 meter, lumayan luas. Bercat putih, dua kursi sofa panjang dengan sebuah meja kaca ditengahnya. Terdapat pula sebuah piano akustik berwarna kehitaman di salah satu sisi ruangan.
Di sudut ruangan ada sebuah lemari besar berwarna cokelat tua yang penuh dengan piala dan medali mulai dari ragam warna serta bentuk. Rata-rata penghargaan dari musik beberapa penghargaan dari cabang olahraga juga. Ia baru tahu kalau Bhiyan suka ikut kompetisi olahraga.
Bingkai foto keluarga Adiaksa menggantung tepat ditengah-tengah dinding ruangan. Ada Bhiyan-sudah mengenakan kaca mata hitam-, Demian, Bunda, dan seorang pria yang sama sekali belum pernah Adelia lihat.
Ia tampak terkejut dengan pria itu karena selain wajahnya mirip sekali dengan Bhiyan yang sekarang, Adelia merasa kalau wajah pria itu seperti ke-bule-an dengan warna rambut pirang keemasan. Kalau dilihat lebih teliti lagi, mata pria itu berwarna biru terang. Seperti orang Eropa kebanyakan. Atau jangan-jangan pria itu memang benar orang Eropa. Ia tidak sabar ingin menanyakan hal itu pada Bhiyan.
KAMU SEDANG MEMBACA
A Miracle In Your Eyes
Teen Fiction(16+) Adelia Maudy Dinata, gadis cantik dengan suara teramat merdu ketika bernyanyi. Ia dicap sebagai trouble maker di sekolahnya, SMA Bharatayudha. Sikap usilnya terhadap siswa-siswi difabel benar-benar meresahkan. Sebuah insiden mempertemukan Adel...
