30. Just Because of Love

521 97 33
                                        

"Selesai."

Miko menutup buku matematikannya sambil tersenyum lebar.

"Akhirnya..."

Miko langsung menjatuhkan diri ke karpet berbulu di kamarnya. Dengan posisi terlentang, dia menatap langit-langit kamarnya. cukup lama, hingga dia bergumam, "Apa Mama baik-baik saja?"

"Paman Taehyung sedang apa sekarang?"

Air muka anak itu berubah sedih. Hari ini Mamanya berada di ruang operasi dan berjuang untuk melawan penyakitnya sedangkan kemarin, secara mendadak Paman Taehyung bilang dia harus kembali ke Korea karena ada banyak urusan yang harus di selesaikan.

Miko sedih dan khawatir. Dia tak diizinkan berada di rumah sakit untuk menunggu mamanya dan Paman Taehyung yang harusnya sekarang bersamanya dan menghiburnya malah sibuk berkerja.

"Membosankan," gumamnya.

Miko bangkit kemudian mengambil buku bersampul kelinci di nakas. Ah, sudah beberapa hari sepertinya dia tidak menulis di buku itu.

Tuhan, sembuhkan Mama. Miko ingin melihat Mama sembuh supaya Mama bisa menggambar lagi, bisa memasak lagi, bisa mengantar jemput aku dan kakak-kakakku lagi. Aku mau Mama sembuh agar dia bisa mendukungku di olimpiade, aku bahkan ingin Mama melihatku mengangkat piala kejuaraan. Paman Taehyung juga, semoga pekerjaannya lekas selesai dan dia bisa langsung kembali ke sini. Baru sehari tapi aku sudah sangat merindukannya. Tuhan, sampaikan rinduku pada Paman Taehyung, ya? Katakan padanya supaya cepat kembali.

Miko membaca lagi tulisannya setelah selesai. Tunggu, ini bukan catatan harian, ini sebuah surat untuk Tuhan.

"Bagaimana cara mengirimnya?" gumam Miko tanpa sadar.

"Uh?" Miko menggeleng cepat.

"Mana bisa? Ah, dasar aneh."

Miko menutup bukunya kemudian kembali merebahkan diri ke karpet. Beberapa menit diam di dunianya sendiri, perut Miko tiba-tiba bersuara.

"Uh, aku lapar," gumamnya.

Miko menatap jam dinding dan benar saja, sudah masuk waktu makan siang.

"Miko."

Miko langsung bangkit begitu suara Sina masuk ke indra rungunya.

"Ya, Kak?"

"Ayo keluar dan makan siang. Ada yang mengirim kita makanan," ucap Sina.

"Katanya Bibi Jungyeon yang mengirimkannya."

"Oh..."

Miko pun bangkit dan keluar dari kamar bersama Sina. Di dapur, tepatnya di meja makan, Sammy nampak membuka beberapa bungkus makanan dan memindahkannya ke piring untuk disajikan.

"Cepat makan dan kita akan ke rumah sakit setelah itu," kata Sammy pada kedua adiknya.

"Apa Mama sudah selesai di operasi?" tanya Miko.

Sammy mengangguk. "Bibi Jungyeon baru saja menelfon. Operasinya sukses. Bibi meminta kita untuk makan dulu sebelum berangkat," kata Sammy.

"Kita kesana naik apa, Kak?" tanya Sina.

"Taxi," jawab Sammy.

"Taxi?" tanya Sina dan Sammy bersamaan.

"Kenapa? Apa yang salah?" tanya Sammy.

Sina dan Miko menggeleng kompak. Tak masalah dengan taxi sebenarnya, hanya saja mereka sangat jarang menaiki taxi. Satu, karena mahal tarifnya. Dua, Mama dan Bibi selalu mengantar jemput mereka. Ketiga, karena memang mereka masih anak-anak.

Destiny [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang