1. Miko and His Little Heart

1.4K 134 35
                                        

Senyum anak berusia delapan tahun itu mengembang melihat kertas di tangannya. Sebuah nilai yang sempurna untuk ulangan matematika.

Akankah ibunya senang melihatnya?

Semoga saja.

"Miko. Nilai Miko bagus sekali."

Miko tersenyum simpul menatap gadis yang setahun lebuh tua darinya.

"Terima kasih, Kak Sina," ucapnya.

Kepalanya diusap penuh kasih oleh kakaknya membuat senyumnya semakin lebar.

"Pintar sekali adikku. Kakak bangga padamu."

Miko tersenyum semakin lebar.

"Terima kasih, kak. Kalau nilai kakak berapa?"

Sina menunduk, menatap sepatu berpita merahnya.

"Tidak bagus. Hanya delapan." katanya.

"Kenapa tidak bagus? Itu bagus. Kak Sina pasti sudah berusaha keras'kan? Mama pasti bangga," ucap Miko.

"Sina."

Keduanya mendongak bersamaan, menatap anak laki-laki yang berdiri di depan mereka sambil membawa satu cup ice cream.

"Untukmu," ucapnya sambil menyodorkan es krim itu pada Sina. Mana Sina berbinar.

"Woah, terima kasih kak Sammy."

Sina memakan es krim dari kakaknya itu dengan semangat. Miko hanya menatap laki-laki yang tiga tahun lebih tua darinya itu.

Hati kecilnya berucap, "Adik kakak bukan hanya Kak Sina. Miko juga. Miko juga mau es krimnya."

Miko memilih menunduk menatap tanah yang kini menjadi pijakannya.

"Sepertinya mama akan sedikit terlambat menjemput. Tidak papa kan?"

Sina mengangguk. Dia menepuk bangku kosong di sampingnya meminta Sammy untuk duduk disana.

"Kak Sam duduk dulu. Nanti lelah," katanya.

"Oh, iya. Kenapa Kak Sam hanya beli satu es krim? Miko juga pasti haus," kata Sina.

Sammy menatap Miko yang masih menunduk.

"Kakak tidak punya cukup uang saku untuk membelikannya es krim," ucap Sammy.

Sina menatap dua saudaranya bergantian.

"Miko mau?"

Miko dengan cepat mendongak menatap kakak perempuannya yang tersenyum sambil menyodorkan es krim stroberi itu padanya.

"Dia alergi stroberi, Sin. Kau lupa?" kata Sammy cepat.

Sina menjadi lesu.

"Oh. Iya. Maaf ya, Miko. Kakak tidak bisa membagi es krimnya. Nanti Miko sesak nafas kalau makan ini."

Miko tersenyum.

"Tidak papa kak. Kakak habiskan saja. Miko tidak suka es krim. Miko juga tidak haus."

Tak lama berselang, sebuah mobil merah berhenti di depan mereka. Kaca mobil itu turun perlahan menampakkan seorang wanita cantik yang tersenyum ke arah mereka.

"Mama!"

Sina melompat dari bangku panjang tempatnya duduk lalu berlari masuk ke dalam mobil dimana sang mama menjadi pengemudinya diikuti Sammy yang membuka pintu penumpang bagian belakangnya.

Miko tersenyum simpul. Dia turun perlahan dari kursi lalu berjalan ke tempat yang sama dengan Kak Sammynya dengan jalan sedikit terpincang.

Ya, tentu saja jalannya tidak bisa sempurna karena kaki kirinya tidak normal karena kecelakaan saat usianya lima.

Destiny [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang