Rubah itu dibawa dengan keadaan yang penuh luka di tubuhnya. Darah yang belum mengering itu sempat bercucuran saat si lelaki itu menyeret rubah itu dari sebuah gua yang menjadi tempat mereka bertarung beberapa kali itu.
Si rubah yang terkenal akan ilusinya dibatalkan oleh lelaki itu, "ilusi-mu boleh juga, tapi masih kurang untuk melawanku." kata lelaki itu seakan mengetahui apa yang sedang dipikirkan oleh si rubah.
Rubah itu menghela nafasnya kemudian menggoyangkan tubuhnya hendak melepaskan diri, tapi cengkraman lelaki itu pada lehernya sangat kuat hingga ia tak bisa melepaskan diri.
"Kau mau bawa aku kemana hah!" pertanyaan yang diajukan rubah itu tak digubris. Lelaki itu terus berjalan keluar dari gua yang begitu dalam kemudian setelah ia melihat bayangannya sendiri, ia memasuki bayangan itu dan hilang ditelan bayangannya sendiri.
***
"Atha, bangun sudah pagi!" seruan yang diajukan oleh seorang gadis pirang itu tak kunjung dibalas. Athely masih menyelimuti dirinya sendiri dan kembali terlelap dalam tidurnya.
Athely melenguh saat merasakan selimutnya ditarik oleh seseorang, akhirnya ia bangun dan mengusap matanya beberapa kali, tatapannya kini mendapati gadis yang tengah tersenyum jahil tersebut.
"Lya!"
'Tok tok'
Bersamaan dengan seruannya, ketukan pintu terdengar beberapa kali membuat Lya buru-buru menghampiri pintu, begitu membukanya tampaklah AiLin yang sudah mengenakan seragam sebuah kedai.
AiLin tersenyum, "Aku sudah mendapat pekerjaan 'loh!" katanya sembari berputar memamerkan seragam berwarna cokelat yang ia kenakan itu. Lya memutar bola matanya saat melihatnya, kini ia kembali mendekati Athely.
Athely hanya terkekeh melihat tanggapan Lya yang memang tidak perduli dengan apa yang dikenakan oleh AiLin, tak lama Athely mengacungkan ibu jarinya kearah AiLin seolah berkata 'itu bagus' secara tak langsung.
Mengabaikan kakaknya, AiLin melompat kegirangan mendapati Athely ia lalu kembali keluar dan menutup pintunya dengan bantingan.
"AiLin!"
"Ah ya, bayangan yang berasal dari Re-" belum sempat Athely melanjutkan ucapannya, kini terdengar suara seseorang yang menjerit.
Kedua gadis itu menoleh bersamaan, mereka menganggukkan kepala kemudian mereka keluar dari kamar dan keluar dari penginapan itu.
Sesampainya diluar mereka mendapati sebuah kepala yang menggantung dekat pintu yang mereka buka itu dan seorang wanita parubaya yang tengah membuka mulutnya itu.
"Ka-kalian pasti yang membunuhnya!"
***
"Nona Fee! Aku sudah membawa tumbal untukmu 'loh~"
Sebuah kursi besar itu berbalik memperlihatkan seorang gadis yang terbilang muda itu dengan rambut berwarna perak yang panjang. Iris matanya yang berwarna merah itu melirik tajam seorang lelaki yang tengah memegang seekor rubah.
Bola mata merahnya itu memutar dan rautnya berubah, "AKU BUTUH TUMBAL MANUSIA BUKAN SEEKOR RUBAH!" gertakkan yang diberikan oleh gadis itu membuat lelaki itu mundur beberapa kali.
"Renka, sayangku." panggil gadis itu membuat si lelaki itu terdiam beberapa saat saat kursi kembali berbalik.
Lelaki bernama Renka itu menegakkan badannya kemudian membungkuk singkat, ia kembali mencari sebuah lampu yang sekiranya ia bisa melihat bayangan. Kemudian Renka melemparkan rubah itu kearah cahaya yang ia lihat, kemudian ia mengucapkan mantera dengan pelan.
Bayangan dari rubah itu tertarik membentuk sebuah wujud manusia. Rubah itu kian perlahan mengikuti wujud manusianya itu. Seorang lelaki dengan telinga rubah berwarna oranye, iris matanya miliknya menatap nyalang Renka.
Kursi kembali berbalik, gadis itu menyeringai lebar.
"Ahahaha, bulan sudah memerah di pucuk sana. Selamatlah kau menjadi Shapeshifter yang terhormat."
Seperti perkataan gadis itu, bulan di langit sana perlahan berubah warna yang semula berwarna kuning itu menjadi berwarna merah darah. Dan sebuah ritual itu dimulai.
TBC 18 Feb 2021
A/n
-
--Rie♡
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.