Bagian 19 : Cahaya dan Harapan

18 9 1
                                        

Setelah cahaya redup itu, kelima orang itu menghilang membuat beberapa pasang mata yang sudah menyesuaikan itu melotot tidak percaya.

"Apa-apaan!" Kedha berteriak sembari menunjuk tempat dimana terakhir kali kelima orang itu berada.

Sementara Anli perlahan mendekati jendela dan memegang kaca jendela itu yang agak sedikit retak akibat pohon yang masih berada didepannya itu.

Anli menghela nafasnya setelah menghitung seberapa besar ukuran pohon tersebut, "repario ...." lirihnya sembari mengarahkan kedua telapak tangannya untuk menyentuh kaca jendela.

Perlahan pohon yang tumbang itu mulai terangkat dan akhirnya pohon itu kembali pada tempatnya. Mereka yang melihat itu terperangah dibuatnya.

"Ada apa?" Anli menolehkan kepalanya dan mereka semua memalingkan pandangan mereka. Raut cemas kini kembali tercetak ketika mereka kembali mengingat Athely dan temannya yang menghilang itu.

Bagaimanapun juga, bagi mereka Athely adalah hal yang berharga daripada apapun.

"M-mungkin ... mereka kembali ke dunia mereka?" lirihan yang diberikan oleh Fya membuat mereka serempak melihat kearahnya.

Kedha yang perlahan mendekati Fya itu menggenggam tangannya, "jika kau berkata seperti itu sebagai kembaran dari Lya, mungkin itu adalah kebenarannya!" katanya dengan nada semangat.

Mereka tertawa mendengar penuturan dari Kedha itu.

"Hahaha, Kedha selalu seperti biasanya ya?" Clarissa tertawa sembari menyindir Kedha, "tapi jika yang dikatakannya benar, aku juga akan percaya."

***

Petir itu menyambar tepat di samping jendela dimana Cyaen berdiri. Mereka kini berbaring tiduran dengan Xyzae yang berada diatasnya.

Cyaen yang berdeham itu membuat Xyzae segera bangun dan duduk didepannya seraya mengulurkan tangan untuk membantu Cyaen duduk.

Mereka kini saling bertatapan selama beberapa detik hingga Cyaen membuang mukanya, kini ia perlahan berdiri dan berjalan menuju pintu kelas.

"Ah sepertinya hanya kita yang tersisa disekolah ini." Cyaen lalu berbalik dan berjalan menuju Xyzae yang masih duduk terdiam itu.

Dirinya berhenti begitu merasakan sesuatu yang janggal.

'DHUAARRR!'

Petir sekali lagi menyambar membuat Cyaen berteriak kencang tatkala seluruh lampu disekolah padam.

"Xyzae, Xyzae dimana kau ... aku takut kegelapan!!" Cyaen itu memejamkan mata dan meraba-raba meja satu persatu hingga dirinya bisa meraba sebuah tembok.

"Gelap sekali!!"

Xyzae yang masih duduk itu kini bangun dan memegang pundak gadis itu membuat Cyaen kembali berteriak.

Lelaki itu kini menepuk-nepuk pucuk kepala Cyaen, "coba kau buka matamu itu." seperti yang dikatakan oleh Xyzae, Cyaen mengikutinya dan membuka mata. Hal yang pertama kali ia lihat adalah posisinya dan Xyzae sangat begitu dekat.

Dan yang lebih mengejutkan lagi begitu dirinya menoleh dan menatap jendela. Penerangan mereka dibantu oleh petir yang terus menerus menyambar itu.

Agak bergidik memang melihat dan mendengar gemuruh petir yang terus saja datang itu. Tapi setidaknya Cyaen lega, masih ada penerangan walau hanya sebuah petir.

Necromancer [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang