Kilatan takjub terpancar dari iris mata milik Athely. Ia lalu tersenyum lebar dan berdiri. Ia mengepalkan tangannya erat mengarahkannya ke atas.
'Aku tidak tahu apakah bisa sampai tepat waktu di sana ....'
***
Selama beberapa menit itu kini mereka terdiam melihat Lees yang masih mendongakkan kepalanya itu. Tak lama Clarissa dengan panik menghampiri lelaki serigala itu kemudian memeluknya.
"Kau sudah gila, Lees!" tubuh Lees bergoyang beberapa kali membuat Clarissa akhirnya geram, Lees tak kunjung menjawab ia sekarang layaknya patung yang hanya terdiam itu.
"Hesha, panggilkan Ibu!" perintah Clarissa sambil menunjuk Hesha yang kembali menguap itu. Hesha mengangguk pasrah dan akhirnya pergi menuju lubang dekat rumah pohon itu.
Kedha dan Fedha yang sempat bertengkar itu kini menghampiri Clarissa dan Lees.
Kedha memegangi dahi Lees sementara Fedha memeriksa denyut nadinya. Mereka yang tak menemukan apapun untuk dijadikan alasan mengapa Lees hanya diam itu akhirnya menghela nafasnya.
Clarissa kini melepas pelukannya kemudian melihat Kedha dan juga Fedha yang menggelegak bersamaan itu, "apa artinya, Lees sudah dikutuk?"
Hening beberapa saat sampai sebuah lirikan dari Lees membuat mereka bertiga reflek menjauh dengan cepat.
Lees meregangkan tubuhnya kemudian menjilati tangannya dan memegang telinga serigalanya itu. Kini ia beralih 'tuk melihat Clarissa yang sempat menggoyangkan tubuhnya itu.
"Jangan sangka! Aku tidak dikutuk, langit itu berbo-
'PLAK!'
"Katakan sekali lagi kalau langit itu berbohong dan kau akan dipastikan tiada esok hari."
***
Dua orang Master dibutuhkan untuk membuka sebuah portal besar yang menghubungkan dua dunia.
Yang menjadi masalahnya adalah apakah Renka cocok mendapatkan gelar Master itu. Mengingat kemampuannya yang sekedar mantera dasar saja.
Gadis berambut perak itu menghela nafasnya, ia menghentakkan kaki begitu berjalan menuju sebuah kursi kebesarannya.
Begitu sampai di kursi itu, ia langsung menopang dagunya dan memanggil kedua lelaki yang hanya berada di ruangan ini.
"Renuel, buat apapun supaya Renka setuju." katanya sebelum benar-benar menghilang diantara debu itu.
Renuel dan Renka saling tatap sebelum keduanya membuang muka kompak, "Aku tidak mau menjadi Master." kata Renka seolah mengetahui apa yang ingin bicarakan oleh lawan bicaranya itu.
"Kau tahu ....?"
***
"KAU SERIUS?!!!?" sebuah seruan tak percaya terdengar setelah Lees selesai bercerita.
Mereka kini duduk melingkar untuk membahas rencana apa yang selanjutnya diambil untuk menemui Athely itu.
Clarissa yang awalnya senang itu menundukkan kepalanya sementara Kedha melihat atap langit rumah pohon dan Fedha yang tengah memasang pose serius.
"Kau bilang, Athely akan segera datang kesini ... 'tuk menyelamatkan Kedha?"
Lees tertawa pelan mendengar Fedha yang seolah meremehkan kembarannya itu, atau memang ia punya maksud tersendiri dalam pertanyaan.
Kedha diam, tak lama setelahnya perempatan siku mulai muncul di kepalanya, ia dengan reflek menoleh kepada Fedha dan Lees yang mungkin sedang bersenda gurau.
Senyuman manis terukir membuat kesan seram pada diri Kedha, "kalian pikir aku tidak bisa menghadapi mahkluk itu?" tanya Kedha seraya membusungkan dadanya.
Hentakan kaki terdengar dari mereka berempat yang terduduk itu kemudian menghela nafas.
"Kau bilang kalau kau lupa cara menjadi rubah yang baik."
TBC 23 Feb 2021
A/n
Yey
--Rie♡
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.