Bagian 15 : Sebuah Pertemuan Singkat

15 9 5
                                        

Candaan yang dilontarkan oleh keempat saudara itu membuat Kedha tersipu malu, ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal itu kini ia ikut duduk diantara mereka berempat.

Clarissa terkekeh pelan sebelum akhirnya melihat langit atap. Dan melirik Lees yang tidak terjadi apa-apa itu, kemudian Clarissa memegang dahi Lees yang berada disampingnya membuat Lees terpaksa menoleh dan menautkan alisnya.

"Ibu bilang kalau langit kutukan itu nyata." kata Kedha sembari memegangi sebelah matanya, kini ia ikut melihat langit atap.

"Ah, matamu itu 'kan bukannya sudah cacat sebelum melihat langit itu?" perkataan serampangan yang dilontarkan Fedha membuat Kedha reflek bangun dan mendekatinya.

Kedha memegang kerah baju milik Fedha hendak memukulnya namun sebuah kepala menyembul diantara mereka.

"Kalian hentikanlah. Juga Fedha kenapa kau jadi seperti Kedha yang serampangan." Hesha menengahi kedua kembaran itu dan mengomeli Fedha.

Fedha menundukkan kepalanya sementara Kedha yang kembali duduk ditempat semulanya.

"Maaf." ujar mereka serempak.

***

"Hahh! Pernyataan macam apa itu." lelaki itu terkejut saat mendengar jawaban yang dilontarkan oleh Renka mengenai dirinya yang tidak mau menjadi seorang Master hanya karena sesuatu yang mungkin tak masuk akal.

Sementara seorang gadis yang masih menghentak-hentakkan kakinya itu agak tersipu malu dengan apa yang dikatakan oleh Renka bawahannya.

Kini ia beralih tatap melihat lelaki yang lainnya kemudian mengisyaratkan ia untuk mendekatinya, lelaki itu mendekat dan gadis itu langsung membisikinya sesuatu.

Renuel, lelaki itu hanya tersenyum setelah mendengar penjelasan yang diberikan oleh Fee. Kini ia berbalik dan melihat Renka yang masih setia diam menundukkan kepalanya itu.

Ia berjalan pelan menuju Renka, seraya merangkulnya kemudian ia mengajak Renka keluar dari ruangan gelap itu.

Ditengah perjalanan menuju sesuatu yang disebut teras mereka agak sedikit tertawa membahas hal yang sama sekali tidak penting.

Dan begitu sampainya mereka, mereka hanya saling tatap beberapa detik kemudian membuang muka dengan kompak.

"Renuel,"

"Renka."

Keduanya menoleh secara bersamaan, dan membayangkan jika lawan bicaranya saat ini adalah Nona yang selalu mereka agung-agungkan.

"Ekhem, kau duluan saja." ujar Renka setelah sadar akan fantasi bersama Nonanya bicara saling tatap.

Renuel berdeham beberapa kali, kini ia berjalan mendekati lelaki itu kemudian memegang pundak lelaki itu. "Kau tahu, Nona Fee lebih suka jika bawahannya menurutinya selalu." bisik Renuel membuat bulu kuduk Renka berdiri.

Renuel kemudian menjauh beberapa langkah dari lelaki itu.

Lelaki itu terdiam kini dirinya mendongak melihat langit malam yang begitu mempesona, "tapi jika aku menjadi Master, suatu saat kalau aku tidak berguna ... Nona Fee akan membuangku." lirihan yang ditorehkan Renka benar-benar tulus berbeda dengan ucapan yang ia berikan dihadapan Nona-nya.

Renuel dibuat terdiam oleh lirihannya itu. Renka berbalik, iris mata hitam miliknya dan iris mata berwarna jingga milik Renuel saling bertatapan.

"Ah ...."

***

"Aku bisa menemui mereka?!" pertanyaan yang terus terulang itu membuat lelaki berambut abu-abu memegangi kepalanya pusing dibuatnya.

Necromancer [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang