Pernyataan dari AiLin itu membuat kedua gadis itu terperangah. Athely bangun kemudian menarik tangan AiLin ia menatapnya dengan berbinar.
"Sungguh?" jawaban anggukkan yang diberikan AiLin membuatnya tersenyum senang, tak kalah senangnya dari Athely. Lya langsung bangkit dan mendekati AiLin seraya memeluknya. "Kau memang adik yang terbaik!"
AiLin terkekeh mendengar pujian itu kemudian melepaskan pelukan dari kakaknya, ia lalu melihat Athely. Jari telunjuknya ia arahkan ke mata milik Athely kemudian tersenyum, "kita aman disini, seharusnya di sana juga aman!" katanya sedikit berseru dan menepuk-nepuk pundak Athely.
Semilir angin mulai menggerayangi mereka, cuaca yang panas ditambah angin yang tiba-tiba itu membuat mereka serempak memejamkan matanya menikmati hembusan angin itu.
Walau mereka dekat dengan pohon, cuaca siang hari ini begitu panas hingga tak terasa angin berhembus.
"Bicara soal penginapan, kau mengapa bisa?" Lya menoleh dan melirik AiLin dari ekor matanya, ia melihat adiknya itu terkekeh beberapa kali sembari menggaruk-garuk kepalanya.
"Ah itu, sebenarnya ...."
***
"Hehe."
Mata mereka tak henti-hentinya membulat besar saat menyadari siapa yang menjadi pemilik penginapan yang terbilang besar itu, lebih layak disebut rumah sewaan daripada penginapan. Atau mungkin sejenisnya.
Lya kembali melirik AiLin dari ekor matanya dengan tajam meminta untuk menjelaskan lebih rinci mengapa mereka kembali lagi ke tempat gadis bergaun gotik berwarna ungu. Namun niatnya diurungkan saat melihat AiLin yang tak mau menjelaskan lebih lanjut malah asik ber-ehe-ria sambil menggaruk kepala serta tengkuknya itu.
Athely dari taman hingga ke tempat penginapan dan bertemu gadis gotik itu, ia hanya terdiam. Menatap lurus namun dengan pandangan yang kosong.
Setelah berbincang sebentar, mereka akhirnya diizinkan untuk tinggal di penginapan itu, karena mereka orang baru di kota ini. Gadis gotik itu memberi gratis untuk menginap sampai mereka mempunyai pekerjaan.
"Hylle memang baik ya?" AiLin mengerang dari sofa sembari melihat jendela, melihat seorang gadis kecil yang masih melambaikan tangannya sebelum hilang di belokan kembali ke toko antik itu.
AiLin menghela nafasnya kasar, kini tatapannya beralih pada Athely yang masih saja menatap kosong. "Hei Athely." panggilan dari AiLin pun tak digubris, bahkan Lya yang mengguncangkan tubuhnya tidak digubris sekalipun.
"Kalau saja kekuatan kita masih tersisa." tangannya mengepal erat, ia mendongak tak lama ia loncat, dan menghampiri kedua gadis itu.
"Athely."
"Hei, Athely!"
"Hahh hahhh, hahhh!"
Seakan ia sedang berlari, ia terus menerus menarik nafasnya. Tatapannya kini melayang ke segala arah dan mendapati AiLin dan Lya yang tengah tertidur didekatnya.
Athely kemudian menghela nafasnya, kini tangannya terarah mengelus pucuk kepala kakak-beradik itu. "Mengapa setiap aku berdekatan dengan Hylle, aku seakan hilang kesadaran semenjak Hylle bertemu dengan Renuel yang muncul dari balik bayangan itu."
Ia kembali menghela nafasnya.
"Seandainya aku bisa melihat sesuatu yang berkaitan dengan Claxi Academy. Mungkin aku bisa tenang walau sesaat. Tidak dengan suara yang selalu menghantuiku, aku rindu suara itu." ucapnya seraya mengarahkan tangannya memegangi mata dan berkhayal akan sesuatu yang tiba-tiba bisa ia lihat.
Seharusnya ia bisa melihatnya jika ia ingin, tapi mengapa ia sama sekali tidak bisa melihatnya.
Perlahan ia membuka telapak tangannya, dan mulutnya tak berhenti berdecak kagum dengan apa yang dilihatnya.
Sebuah bayangan yang ia lihat dari balik jendela itu seperti hampir menutupi sebagian penginapan ini.
"A-apa ini!"
TBC 15 Feb 2021
A/n
Oyayo gojaimuch
--Rie♡
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.