Bagian 13 : Kebohongan Sebuah Langit

14 9 10
                                        

Keesokan harinya, seperti yang dikatakan salah satu warga kota, mereka kini kembali dengan membawa tiga ikat tali disertai sebuah kalung yang bisa lebih disebut dengan jimat.

Salah satu dari mereka maju menghampiri ketiga orang yang sama sekali tidak tertidur itu, dirinya kini mengambil tiga ikat tali itu kemudian memberikannya pada mereka masing-masing satu.

"Aku sangat senang jika kalian menerima hukumannya dengan senang hati." kata orang itu. Seorang pria parubaya yang mengenakan jas itu terkekeh beberapa kali kemudian dengan tongkatnya ia memukul kepala AiLin yang menatapnya tajam. "Jangan seperti itu, atau aku akan menambah hukuman mati."

Perkataan yang terakhir kali diucapkan oleh pria itu membuat kedua gadis itu bergidik ngeri. Namun tak dengan AiLin yang kini menatap kaki pria parubaya itu.

Athely diam sementara Lya yang sedang mengoceh itu mereka beralih tatap memandang satu sama lain, Lya sempat berhenti mengoceh kemudian mengoceh lagi dengan bahasa yang menurutnya aneh.

Mereka berdua akhirnya membuang muka satu sama lain, tatapan Athely kini tertuju pada seorang gadis bertubuh pendek yang sedang melompat-lompat ditengah kerumunan itu. Seorang gadis yang begitu mencolok.

"Biarkan Hylle lewat!!" terdengar seruan yang membuat kerumunan itu perlahan menyingkir membuat gadis bertubuh pendek itu lewat. Kini ia berada dihadapan ketiga orang yang baru saja bersiap untuk mengikat tali pada leher mereka. "Berhenti! Mereka tidak salah!" serunya lagi seraya merentangkan tangannya.

Pria parubaya itu meludah dekat sepatu berwarna ungu milik gadis itu yang tak lama membuat gadis itu menendang kepalanya yang agak tertunduk itu.

Semua mata kini tertuju pada gadis itu dan mereka menganga tidak percaya, hanya gadis kecil berani menendang seorang walikota.

"Pegang tanganku!" layaknya aba-aba kini mereka berempat berpegangan tangan. Hylle lalu melihat keatas langit, mengucap mantera dalam hati yang membuat langit itu berubah menjadi langit malam.

Para penduduk kota yang masih menganga itu terpaksa mendongakkan kepalanya melihat langit penuh bintang itu. Waktu seakan berhenti hanya mereka berempat dan seorang lelaki bertudung itu.

Hylle menolehkan kepalanya pada lelaki itu yang langsung dibalas anggukan kepala.

"Teleportav!!"


"Resh?" lelaki itu menganggukkan kepalanya kemudian menghampiri seorang gadis yang tengah sekarat itu.

"Jika aku terlahir kembali, doakan aku supaya aku jadi baik hati ya?" kembali mengangguk akhirnya lelaki itu mencium kening gadis itu. Kemudian saat hampir gadis itu menutup matanya, sebuah cahaya amat terang menyinari dirinya. Dan gadis itu lenyap.

***

"Hylle? Hylle?" gadis kecil itu kini mengerjapkan matanya, tatapannya kini tertuju pada Athely yang memasang raut khawatir.

Ia langsung bangun dan menatap ke sekitar, "kita ada dimana?" tanya gadis itu kemudian melirik lelaki bertudung itu.

Lya yang tengah terduduk itu kemudian bangun dan menghentak-hentakkan kakinya, "seharusnya kami yang menanyakan padamu.

Kenapa kau bisa tahu mantera yang berasal dari dunia itu."

Hylle kini mengerjapkan matanya beberapa kali, kini ia beralih tatap kepada lelaki bertudung itu. Tak lama kemudian ia memegangi kepalanya.

Necromancer [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang