Kuroto mengerjapkan matanya beberapa kali, setelah menyesuaikan cahaya dengan indra pengelihatannya ia terlonjak kaget mendapati sebuah gedung besar dengan pagar bertulis Otorish High School.
Beberapa murid tampak mengobrol didepan pagar itu, dan yang lainnya berjalan masuk dengan tenang.
Lelaki itu mengerjapkan matanya beberapa kali, mengusapnya dan menoleh kesana kemari.
Bahunya sudah yang kelima kalinya tersenggol oleh murid lain, barulah ia tersadar, segera ia melihat kakinya yang nampak itu.
"Yo, Kuroto!"
Sebuah seruan disusul rangkulan itu membuat dirinya menoleh dan melihat seorang lelaki dengan surai cokelatnya serta iris emerald -nya yang melihat kesana kemari sebelum ia membisikkan beberapa kata.
Lelaki yang tak dikenalnya itu membicarakan seorang gadis yang katanya sempat ia tolong itu.
Siapa?
Matanya membulat kala latarnya yang tiba-tiba berganti menjadi sebuah taman dengan pohon rindang dibelakangnya.
Lelaki itu terdiam melihat ketiga yang lainnya tengah asik, tatapannya kini beralih menatap seorang gadis dengan iris mata berwarna ungu itu tengah memperhatikan mereka jadi jauh.
Dirinya kini kembali berkedip untuk yang kedua kalinya latar tempatnya kini berubah lagi, ia merasa terus-menerus deja-vuseperti ada sesuatu yang telah ia lupakan.
Iris matanya yang berwarna oranye itu membulat lagi, untuk yang ketiga kalinya ia berpindah tempat. Namun kali ini ia berada disebuah tempat yang sudah porak-poranda.
Ia melihat dirinya sendiri yang tengah bertarung bersama seorang gadis yang mungkin ia kenal itu.
Hingga sebuah cahaya menyilaukan menyelimuti mereka, dirinya yang disana itu hilang menyisakan duka yang amat dalam bagi sang gadis.
Tunggu sebentar, darimana ia tahu kalau gadis itu mengalami duka yang dalam? Apa ini sebuah perasaan yang saling terhubung atau sebuah penyesalan(?).
***
Dewa memainkan sebuah permainan yang ia sebut permainan takdir, dirinya tidak menjelaskan aturannya, yang hanya mereka tahu adalah menjalani semuanya secara cuma-cuma.
Sebuah langkah kaki yang begitu banyak terus terdengar dari atas kepala mereka. Mereka sedang berusaha keras menafsirkan yang berada di buku ini, sebelum orang-orang yang tengah mencari menemukan mereka berlima.
"Apa, apa yang ditulis kalimat selanjutnya?" Lya panik sembari menoleh kearah buku dan kearah kedua gadis yang tengah membaca dan menafsirkan dibantu kedua lelaki itu.
Keringat dingin mengucur saat sebuah suara teriakan terdengar diatas mereka. Apa yang akan mereka temui, apa takdir akan mengatakan mereka mati ditangan orang yang begitu menginginkan uang(?).
Athely menghela nafasnya, ia menyeka keringat yang turun dari pelipisnya itu. "Ini ... mungkin kalimat terakhir." ia memberikan selembar kertas yang sudah ditulisnya itu pada Lya memintanya untuk menyalin ulang.
"ApparateDisapparate!"
Sebuah cahaya yang menyilaukan mata itu membuat mereka serempak memejamkan mata. Bersamaan dengan itu, beberapa orang sudah memasuki ruang bawah tanah dan dengan cepat mereka berlari menghampiri cahaya.
Cahaya yang awalnya kecil itu perlahan membesar hingga sebuah ledakan cahaya terjadi membuat beberapa orang yang belum sempat mencapai ruangan mereka terhempas menciptakan jarak.
Hingga begitu mereka sampai, kelima orang yang dicari itu sudah lenyap. Ditelan oleh cahaya itu.
***
Hal pertama kali yang mereka berlima lihat adalah Akademi Claxi. Kapan terakhir kali sebelum mereka kembali ke dunia asal dan kembali lagi kesini?
Athely maju paling depan dan melangkahkan kakinya menyusuri bangunan akademi yang sudah tampak sepi itu.
Mereka berteriak menyerukan beberapa nama, namun mereka sama sekali tidak mendapatkan respon.
"Kemana semua orang pergi?" tanya Athely sembari menghela nafasnya panjang dan duduk di bangku kantin.
Mereka memutuskan untuk beristirahat di kantin terlebih dahulu sebelum lanjut mencari kemana murid-murid berada.
Gadis berambut ikal itu memegang kepalanya, ia merasakan sakit yang luar biasa.
"Hylle, kau tidak apa?!" seru Lya sembari memegangi pundak Hylle itu.
Hylle menggeleng pelan, dengan lemas ia menunjuk sebuah gelas berisi air. Lya mengangguk dan dengan cepat ia mengambil gelas itu dan membantu Hylle untuk minum.
"Athely, ah maksudku Kak Athely ... apa ada kemungkinan 2 lintas waktu terjadi secara bersamaan?"
Athely yang tengah melamun itu perlahan menoleh kearah AiLin, "maksudmu?"
"Kuroto dan lelaki yang kau bilang bernama Xyzae.
Mereka sebenarnya siapa?"
TBC 30 Mei 2021
A/n
Lama tidak berjumpa, semoga kalian selalu menantikan cerita ini⊂(´・◡・⊂ )∘˚˳°
Anyway, hmm (check draf) oh! Hanya tersisa beberapa chapter yak bisa banyak sih gatau deng gatau Rie labil.
Seperti bulan sebelumnya, cerita ini akan update 3-5x dalam sehari untuk besok.
(つ✧ω✧)つ
Sekian,
--Rie♡
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.