E M P A T P U L U H D U A

428 24 13
                                        

Heyyo!!!

Siapa nih yang udah kangen sama HILANG?

Yaudin langsung gasak aja kali ye

Jangan lupa pencet si mungil di pojok bawah ye gesss

Lopyuu💜

Happy Reading!!

***

Keynara mengedarkan pandangannya ke seluruh sudut bangunan tua yang tak terawat itu. Ya, mungkin ini sebuah gudang. Ia sebenarnya bingung mengapa sahabatnya membawanya ke tempat ini. Namun satu yang pasti, Nara yakin apapun yang Bianca lakukan adalah untuk kebaikannya. Nara dangat bersyukur ia masih mempunyai sahabat seperti Bianca di saat keterpurukannya. Andai ada Alrich disisinya. Ah, masih pantaskah ia mengharapkan itu?

"Ini kita di mana Bi?" tanya Nara penasaran.

Bianca berbalik lalu menatap horor ke arah Nara. Ia melangkah mendekat ke arah sahabatnya itu.

"B--Bi, lo mau ngapain?" Nara refleks memundurkan langkahnya.

"HA..HA..HA..HA.."

"Komuk lo ngakak banget asli Key! Gila sih parah kiyowo!" ucap Bianca di sela tawanya.

Nara bernapas lega, sesaat ia merasa takut mendapatkan tatapan penuh intimidasi dari sahabatnya itu.

"Ya, abisnya lo ngeliat gue gitu amat. Horor."

Bianca menghapus air matanya akibat tawanya itu. "Ini tuh gudang lama punya nyokap gue, tapi sekarang udah ga di pake."

Nara ber-oh ria.

"Tapi kok lo bawa gue kesini Bi? Lo mau nyelamatin gue apa mau bunuh gue dah?" gurau Nara.

Bianca terkekeh. "Soalnya biar lo tenang aja makanya gue bawa kesini. But sorry ya, tempatnya buat lo ga nyaman pasti. Abisnya gue bingung mau bawa lo kemana, gamungkin kan kerumah gue. Yang ada Mama lo yang galak itu nyeret lo dari sana. Lo tenang aja pokoknya nanti gue cari tempat yang enak deh, buat sementara aja disini."

"Iya, Bi. Ini udah lebih dari cukup kok. Thanks ya," ucap Nara tulus.

"Btw, gue tinggal sebentar ya, Key. Soalnya gue mau beli makanan buat kita, muka lo melas banget soalnya. Ga apa-apa kan di sini sendiri? Tenang aja aman kok."

"Yaudah deh, take care ya Bi."

"Okey dokey," balas Bianca khas mas Sojun.

"Kumat nih," cibir Nara.

Bianca hanya membalas dengan senyum sok cantiknya itu lalu segera berlalu. Nara menghela napas panjangnya. Sesungguhnya ia sangat takut di tinggal sendirian, tapi apa boleh buat? Ia tak mau semakin merepotkan sahabatnya itu. Gadis itu duduk meringkuk di  sudut ruangan. Keheningan kembali mengingatkannya pada kejadian beberapa saat yang lalu. Fakta menjawab segala kebingungannya selama ini. Sekarang sudah jelas mengapa orangtuanya khususnya sang mama sangat membencinya. Wajar saja ia cuma anak pungut yang selalu menyusahkan kehidupan mereka.

Ia terisak, sungguh sangat munafik dengan berpura-pura menjadi kuat. Nyatanya ia lemah. Kehadirannya benar-benar tidak di harapkan. Bahkan orang tua kandungnya pun membuangnya. Apakah ia pembawa sial? Sampai ia tak layak untuk bahagia. Belum lagi kini Iren sangat membencinya. Tidak, mungkin sejak dulu gadis kecil itu sudah membencinya. Entah apa gunanya lagi Nara hidup, ia merasa tak punya alasan untuk tetap bertahan. Ia lelah.

HILANG [Segera Terbit]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang