S E B E L A S

652 78 36
                                        

"Hati yang gembira adalah obat."

Happy reading!!

***

Nara menarik nafasnya dalam-dalam, menghirup udara segar yang ada di bukit ini. Ya, Alrich mengajaknya ke sebuah bukit yang sangat indah dengan pepohonan yang rindang.

"Lo kok bisa tau tempat seindah ini, Al?" tanya Nara penasaran.

"Dari dulu, gue,  Bunda sama Almarhum Ayah sering banget kesini. Ya, cuma sekedar refreshing gitu. Dulu gue juga ga nyangka ada bukit di tengah-tengah kota gini. Tapi semenjak Ayah meninggal gue ga pernah kesini lagi, terus gue pindah ke Australia dan baru kesini lagi sekarang ini bareng lo," tutur Alrich mengingat kembali momen bahagia bersama mendiang sang Ayah.

"Sorry, gue ga bermaksud," cicit Nara merasa tak enak.

"Santai aja kali, Key. Lo mau dengerin cerita gue ga?" tanya Alrich.

"Boleh."

Alrich berdehem sebentar sebelum memulai sesi curhat nya.

"Dulu waktu Ayah masih hidup, hidup gue berasa sempurna banget. Dan gue ga henti-hentinya mengucap syukur karena itu sampe saat ini. Sampe pada suatu hari, waktu itu gue masih kelas 3 SD. Gue gatau apa-apa, tiba-tiba pas gue pulang sekolah Ayah udah terbaring kaku ga bernyawa yang katanya dulu karena serangan jantung. Saat itu juga gue merasa bener-bener hancur. Sepeninggalan Ayah, Bunda mengalami depresi berat. Waktu itu Bunda juga lagi mengandung calon adik gue. Akhirnya perusahaan Ayah ga keurus dan banyak yang manfaatin keadaan buat ngerebut saham Kiano's Properti dan akhirnya bangkrut. Mulai hari itu juga Oma ngejemput kami buat pindah ke Australia. Bunda mengalami keguguran dan hal itu membuat keadaannya semakin parah. Bunda sampe lupa sama gue, gue yang waktu itu masih bocil banget mencoba tau diri dengan keadaan yang menimpa keluarga gue. Gue berusaha jadi anak yang mandiri, gue berusaha bangkit dari keterpurukan. Akhirnya lama-lama gue terbiasa dan gue bener-bener bisa mengurus segala keperluan gue. Sampe pada suatu hari, gaada yang jemput gue dari sekolah. Gue tau banget pasti semua pada sibuk dan gue akhirnya nekat pulang sendiri jalan kaki. Di perjalanan pulang tiba-tiba ada truk yang oleng terus nabrak gue. Keadaan gue bener-bener parah saat itu, dan gue hampir meninggal. Gue koma selama 3 bulan, dan dalam 3 bulan itu Bunda akhirnya sadar dan mau berusaha untuk sembuh. Gue bersyukur banget saat itu, walaupun harus mengalami kecelakaan parah tapi yang terpenting Bunda bisa sembuh karna itu."

Nara terkejut, ternyata Alrich juga memiliki masa lalu yang buruk sama seperti dirinya. Hanya bedanya sekarang Alrich sudah bahagia, tidak dengan Nara.

Nara masih terdiam bingung mau merespon apa. Disatu sisi ia juga ingin membagi cerita hidupnya yang kelam, namun di sisi lain ia juga enggan. Karna baginya mengumbar masalah tidak akan menyelesaikan masalah.

"Key," panggil Alrich menyadarkan Keynara dari lamunanya.

"Hm?"

"Lo, gaada yang mau di ceritain ke gue?" tanya Alrich hati-hati.

Nara menggeleng tanda bahwa ia tak ingin menceritakan apapun.

"Kenapa? Lo ga percaya sama gue?"

"Bukan karna itu," bantah Nara.

"Terus?" tanya Alrich penasaran.

"Menurut gue, menceritakan masalah itu gaada gunanya. Cuma bikin ribet aja," ucap Nara.

HILANG [Segera Terbit]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang