Kami telah memperbarui Pedoman Konten kami.
Tinjau pedoman terbaru untuk terus berbagi cerita dengan aman.

T I G A P U L U H E M P A T

384 43 38
                                        

Happy Reading!!

***

Sudah terhitung selama seminggu Nara mendiamkan Alrich. Ia masih kesal dengan sikap Alrich yang terburu-buru menyimpulkan sesuatu. Ia juga masih memikirkan perkataan Zia. Apa maksud Zia mengatakan hal itu? Apa Zia menyukai Alrich?

"Kak," panggil Iren saat melihat sang kakak melamun sedari tadi.

"Eh, kenapa Iren?" Nara tersadar akan lamunannya, cukup tersentak dengan panggilan itu.

"Kakak lagi ada masalah? Ada apa Kak?" tanya Iren.

Nara menggelengkan kepalanya. "Engga kok, Kakak cuma agak kecapean aja. Oh, iya. Treatment kamu gimana? Lancar kan? Udah ada perubahan belum kata dokternya?" tanya Nara bertubi-tubi.

Air muka Iren tiba-tiba berubah menjadi muram. Nara mendekat kearahnya lalu memeluk adik semata wayangnya itu lalu membisikan sesuatu.

"Everything will be okay. Don't be sad, you can do it!" ucap Nara menyalurkan semangat.

Iren kembali tersenyum seolah semangatnya kini terisi penuh. "Kak Nara mau janji sesuatu sama Iren?"

"Janji apa, hm?" tanya Nara penasaran. Pasalnya ia sangat paham jika adiknya sudah memintanya untuk berjanji,npasti ada sesuatu yang sangat ia inginkan.

"Janji dulu," jawab Iren sambil mengacungkan jari kelingkingnya.

"Iya."

"Kalau di treatment selanjutnya keadaan aku semakin membaik, kita main ke danau yang ada di deket taman itu ya Kak?"

Nara terdiam cukup lama, ia mungkin akan dengan mudah untukengabulkan permintaan adiknya itu. Namun bagaimana dengan orangtuanya? Khususnya mamanya, sangat tidak mungkin jika Nara boleh membawa Iren ke danau.

"Kak, mau kan?" tanya Iren.

"Em, tap-"

"Kak Nara kan udah janji tadi," potong Iren cepat.

Nara menghela napasnya. "Iya, Kakak usahain ya," jawabnya sembari mengelus surai Iren dengan sayang.

"Makasih kak, Kakak yang terbaik!" pekiknya lalu memeluk Nara sangat erat.

"Iren, lepas!"

Keduanya sama-sama tersentak lalu segera melepas pelukan itu.

"Ma-ma," ucap Nara terbata. Ia sangat tau mamanya pasti akan sangat marah jika Iren bersamanya. Sehina itukah dirinya di mata Agatha? Berdekatan dengan Iren saja tidak boleh, padahal ia hanya ingin sekedar mengobrol dengan adiknya. Bahkan selama ini mereka sudah jarang sekali berinteraksi, untuk mengobrol pun harus sembunyi-sembunyi.

"Kamu tuh ngapain sih peluk-peluk anak saya?!" bentak Agatha marah.

"Ma-maaf Ma." Hanya itu yang mampu Nara ucapkan.

"Ih, Kakak ga perlu minta maaf ini salah Iren," bisik Iren.

"Ma, jangan marahin Kak Nara. Tadi Iren kesini cuma mau ngobrol sebentar sama Kak Nara. Terus Iren liat kucing baru Kak Nara, lucu banget jadi lama deh," jelas Iren.

Dalam sepersekian detik raut Agatha langsung berubah ketika mendengar suara anak emasnya itu. Sangat berbanding terbalik jika berhadapan dengan Nara, tidak ada kelembutan, ketenangan atau kasih sayang. Yang ada hanyalah kebencian dan amarah yang selalu terpancar dari matanya.

"Sayang, berapa kali Mama bilang? Gausahlah kamu kesini-sini segala, ya. Nanti kamu kenapa-kenapa lagi. Yaudah yuk, mending sekarang kamu ikut Mama aja ya," ucap Agatha dengan nada bicara selembut mungkin. Dengan cepat ia menggandeng tangan Iren lalu mengajaknya keluar. Iren menengok ke arah Nara, dengan cepat ia melambaikan tangan pada kakaknya itu. Nara tersenyum lalu membalas lambaian tangan itu.

HILANG [Segera Terbit]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang