44. End?

560 25 0
                                        

Hi, hiders!!
Kali ini jeje cuma mau kasih info kalau ini bakal jadi part terakhir yang jeje update di wattpad🤧
Sisanya nanti kalian bisa baca di versi cetaknya yaaa, ayo nabung biar bisa ponang novel HILANG😍
Ga kerasa ya udah berjalan sejauh ini, makasih banyak buat kalian semua yang udah mau luangin waktu buat baca HILANG, makasih banget udah support jeje💜
Pokoknya luv banget dehhhh❤️
OH, iya doain juga ya supaya jeje cepet revisinya dan di lancarkan semuanya.
Semoga kalian suka part ini ya💜

***

"Rasa sakit terdalam adalah ketika rindu takkan lagi tersampaikan."

Happy Reading!!

***

Sulit sekali melacak keberadaan Bianca maupun Nara. Namun entah keajaiban mana yang datang menghampiri, tiba-tiba saja sebuah notifikasi  dari aplikasi pelacak itu berhasil mengejutkkan  Arkan. Mereka menemukan lokasi dimana Bianca berada.

"Om, dan Tante di sini aja jagain Iren. Biar kami yang membawa Nara pulang," ucap Alrich pada kedua orangtua Nara yang sedari tadi bersikukuh untuk ikut.

"Iya om, percaya sama kami. Kami akan bawa Nara pulang dengan selamat," timpal Arkan meyakinkankan.

Dengan segala pertimbangan, akhirnya Bagas dan Agatha memilih untuk tetap tinggal bersama putri bungsunya.

"Baiklah, Om percaya sama kalian." Bagas menatap dalam pada Alrich. "Tolong penuhi janji kamu buat selalu lindungi Nara, Nak."

Alrich mengangguk mantap lalu segera pamit.

"Tunggu sebentar!" ucap Alrich menghentikan langkah teman-temannya.

"Gue rasa kita harus berpencar. Lo bertiga telpon polisi, dan berangkat bareng mereka."

James mengangkat sebelah alisnya. "Terus lo gimana?"

Alrich melirik Ninja merah yang ada di hadapannya itu. "Gue udah telpon orang rumah buat anter motor gue. Gue bakal naik motor untuk mempersingkat waktu."

"Apa nggak bahaya kalau lo sendirian, Al?" tanya Kenzo cemas. Entah mengapa perasaannya sangat tidak enak.

"Gue nggak apa-apa. Seperti yang Arkan bilang tadi, kalau Bianca bawa beberapa bodyguard. Jadi kita harus bisa menangkap mereka tanpa membahayakan keadaan Nara."

"Tapi Al--"

"Waktu kita nggak banyak, gue tunggu kalian disana."

"Pakai ini Al supaya kita tetep bisa saling berkomunikasi. Mana tau ada situasi darurat jadi kita bisa cepet tau kabar dari lo," ucap Arkan lalu memberikan sebuah earpiece kepada Alrich.

"Hati-hati, Al."

Alrich hanya mengangguk singkat lalu segera melajukan motornya dengan cepat. Di perjalanan ia hanya mampu merapalkan doa agar ia tak terlambat dan Nara akan baik-baik saja. Tidak ada yang tahu Bianca senekat apa. Meski mereka telah bersahabat sejak lama, itu tak kan merubah fakta kalau sekarang Bianca sangat membenci Nara.

HILANG [Segera Terbit]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang