Happy Reading!!
***
Sejak kejadian kemarin James jadi tidak bisa tidur semalaman. Entah mengapa ia terus saja merasa bersalah pada gadis itu. Mungkin karena kemarin Nara sedikit membantu menenangkannya jadi, ia merasa berhutang budi. Ya, pasti karena itu.
Pagi ini James akan sedikit bersikap baik padanya. Ia akan mengajak gadis itu untuk jogging sebentar. Sebenarnya ia masih malu, tapi apa boleh buat dari pada ia terus di rundung rasa tidak enak.
Tok... Tok... Tok...
James mengetuk pintu dengan ragu. Bagaimana jika pintu terbuka nanti? Dialog apa yang harus ia ucapkan?
Ceklek
Pintu terbuka dan menampilkan sosok gadis polos dengan muka bantalnya. Untuk sepersekian detik James terpukau dengan pesona seorang Keynara Angeline.
Anjir! Nih cewe bangun tidur damagenya bukan main. Apaansih kenapa gue jadi muji dia.
"Ngapain sih? Masih pagi juga, lo mau marah-marah ke gue lagi?" ketus Nara yang melihat kemunculan cowok menyebalkan itu.
"Gue.. Gue tadi subuh di telpon Bu Anggin. Iya, gue di suruh ngajakin lo jogging biar lo tetep fit katanya. Lo kan mau lomba lusa," ucap James sedikit gugup.
Nara melempar tatapan menyelidik pada James. Benarkah Bu Anggin menelponnya tadi pagi? Tapi untuk apa juga James bohong padanya, kalaupun ini hanya modusnya saja sepertinya sangat tidak mungkin.
"Tunggu bentar! Gue siap-siap dulu," ucap Nara lalu kembali masuk ke kamarnya.
James menyandarkan punggungnya di tembok, kepalanya menengadah ke atas menatap langit-langit. Ia kembali teringat sosok ibunya, yang juga kembali menguak luka lama yang ia simpan dengan rapat selama ini.
Dering ponsel mengalihkan atensi James, ia menatap jengah nama si penelpon tersebut.
"To the point aja, saya ga punya banyak waktu," sambar James begitu sambungannya terhubung.
"James, sampai kapan kamu mau membenci Papa? Kamu salah paham nak." Terdengar nada frustasi dari seberang sana.
"Saya melihat semuanya dengan mata kepala saya sendiri. Jadi, tidak mungkin saya salah paham."
"Tapi nak-"
"Saya sibuk, sekiranya tidak penting lebih baik tidak usah telpon saya."
Tut...
James memejamkan matanya, berusaha menahan gejolak emosi yang sudah sampai di ubun-ubun. Ia membalikkan tubuhnya dan terkejut melihat Nara tengah berdiri di depan pintu. Untuk yang ke dua kalinya james terciduk oleh gadis itu.
"Lo udah dari tadi berdiri di situ?" tanya James menyelidik.
Nara menggeleng. "Barusan kok."
"Yaudah ayok!"
Mereka mengitari taman yang ada di dekat hotel. Ternyata suasana di sana sangat segar dan asri, Nara merasa mood nya pagi ini sangat membaik.
Setelah 30 menit melakukan jogging, mereka berhenti sebentar pada sebuah bangku panjang yang ada di sekitar taman itu.
"Lo tunggu disini sebentar, gue mau cari minum."
Belum sempat Nara menjawab cowok itu sudah lebih dulu meninggalkannya. Dasar tidak berakhlak. Tapi sepertinya ada yang James sembunyikan, mengingat kejadian di pesawat kemarin lalu telpon tadi pagi membuat Nara sangat yakin ada sesuatu yang terjadi pada James. Sebenarnya ia tadi sempat mendengar percakapan James, namun ia memilih pura-pura tidak tahu. Iatakut cowok itu akan kembali bersikap kasar padanya.
KAMU SEDANG MEMBACA
HILANG [Segera Terbit]
Teen FictionBUDAYAKAN FOLLOW DULU SEBELUM MEMBACA:) (Completed) "Tuhan mengizinkan kita untuk merasakan luka, tetapi Ia juga akan memberikan penawarnya." Ada pada ketidakadaan. Sepi di tengah keramaian. Bagaimana jika kita di tempatkan dalam keadaan tersebut? T...
![HILANG [Segera Terbit]](https://img.wattpad.com/cover/233017588-64-k469491.jpg)