"Berdamai dengan masa lalu adalah jalan terbaik untuk meraih kebahagiaan di masa yang akan datang."
Happy Reading!
***
Alrich sangat bersemangat hari ini. Sejak kejadian kemarin malam ia tak henti-hentinya mengulum senyum begitu mengingat tentang gadisnya. Alrich tak menyangka, hanya karna anggukan kecil dari seorang Keynara mampu membuatnya menjadi segila ini.
"Kamu kenapa sih, kok Bunda perhatiin dari tadi senyam-senyum terus, Al?" tanya Tania yang bingung akan tingkah putranya.
"Ade deh, Bunda mah kepo kek dora," kelakar Alrich yang membuat Tania mendengus sebal. Benar-benar minus Akhlaknya.
"Lebih keras! Biar Bunda masukin lagi kamu keperut. Masa Bundanya sendiri disamain sama dora."
Alrich tertawa kecil. Kebiasaannya sejak dulu adalah menjahili Bundanya. Entah melihat ekspresi kesal sang Bunda sangat menyenangkan bagi Alrich.
"Hampura Bun, Alrich teh cuma guyon," ucap Alrich sambil membungkukkan badannya bak prajurit.
Tania yang hanya melirik putranya sekilas lalu kembali fokus menikmati sarapannya. Ia ingin mengerjai Alrich dengan pura-pura ngambek. Alrich yang terlampau peka itu lantas mendekat kearah Bundanya lalu mencium pipi Tania.
Cup
"Jangan marah kali Bun, kan cuma becanda."
Tania tidak bisa lagi menahan tawanya, putranya ini sangat menggemaskan. Selalu bisa membuatnya tertawa dengan tingkah manisnya.
"Satu sama, Bunda kan marahnya juga cuma becanda," ucap Tania yang diakhiri dengan tawanya seolah mengejek Alrich.
Alrich hanya mengembang-kempiskan hidungnya. Pantas saja, ternyata sifat jahilnya itu turunan dari Bundanya yang sangat cantik ini.
"Kamu kok tumben berangkatnya pagi banget? Ini juga kamu pake parfum sebotol? Jujur sama Bunda, Al! Kamu mau ngepet dimana?" tanya Tania yang mulai was-was dengan Putranya itu.
"Yakali udah kece gini disangka mau ngepet, Bun. Alrich tuh mau menjemput sang pujaan hati, ga peka Bunda mah." sewot Alrich. Tania yang mendengar hal itu langsung tertawa terpingkal-pingkal.
"Emang nya ada yang mau sama kamu, Al?" tanya Tania di sela tawanya.
Alrich berdecak sebal. Sejak kapan Bundanya menjadi julidable begini? Alrich tak habis pikir.
"Liat aja nanti Alrich bawain mantu buat Bunda, pasti Bunda tersepona."
"Tersepona Alrich ganteng."
"Tapi boong," Alrich yang hendak menyunggingkan senyumnya reflek langsung menekuk kembali wajahnya.
"Alrich ga kuat di julidin terus. Dah lah Bun Alrich mau jemput sang pujaan hati dulu, Bye Bunda," pamit Alrich lalu mencium tangan dan pipi sang Bunda.
***
Brak..
Akibat terburu-buru, Nara tidak sengaja menyenggol sesuatu dan menjatuhkannya. Ia segera mengambil benda itu, ternyata kado dari Iren. Dengan penuh semangat Nara segera membuka kado itu. Hatinya mencelos begitu mengetahui isi didalamnya. Sebuah kolase foto keluarga ada Bagas, Agatha, dan Iren. Lalu terdapat foto Nara yang di itempel dalam foto itu. Nara tidak mau berprasangka buruk terhadap adiknya. Ia yakin maksud adiknya adalah baik, bukankah Iren membuatnya sendiri khusus untuk dirinya? Nara segera meletakan foto itu di nakas dan bergegas ke meja makan untuk sarapan.
KAMU SEDANG MEMBACA
HILANG [Segera Terbit]
Teen FictionBUDAYAKAN FOLLOW DULU SEBELUM MEMBACA:) (Completed) "Tuhan mengizinkan kita untuk merasakan luka, tetapi Ia juga akan memberikan penawarnya." Ada pada ketidakadaan. Sepi di tengah keramaian. Bagaimana jika kita di tempatkan dalam keadaan tersebut? T...
![HILANG [Segera Terbit]](https://img.wattpad.com/cover/233017588-64-k469491.jpg)