T I G A P U L U H E N A M

352 37 35
                                        

"Akan ku coba untuk merelakan mu meski rasa ini perlahan membunuh ku."

Happy Reading!!

***

Hari ini Bianca memutuskan untuk mengunjungi Nara di rumahnya. Ia tak tahan terus-terusan melihat Nara yang menangis saat menelponnya. Kesibukannya bersama sang Mama membuat dirinya tidak bisa selalu ada untuk sahabatnya itu seperti dulu. Ketika di perjalanan ia sempat merasa cemas, kalau-kalau ia tidak diijinkan menemui Nara oleh Mama sahabatnya itu. Namun ia dapat bernapas lega sekarang karena beliau sedang tidak berada di rumah.

Nara bercerita panjang lebar tentang apa yang ia alami belakangan ini. Mulai dari perkataan dan sikap Zia yang sangat sensitif padanya hingga kejadian kemarin yang sangat membuatnya sedih.

Bianca menghela napasnya pelan. "Gue emang udah nethink sih sama Zia dari awal. Gue bisa liat dari gimana cara dia natap Alrich, sikap dia ke Alrich juga bener-bener memperlihatkan kalau dia tuh ada rasa sama Alrich. Gue udah pengen cerita ke Lo waktu itu, cuma kan ya gue ga enak aja gitu. Lagian keknya Lo baik-baik aja gitu jadi, gue pikir ya mungkin cuma pikiran gue aja," kata Bianca.

"Gue juga gatau harus ngapain Bi, gue bingung."

"Lo ga bilang ke Alrich soal ini?" Nara menggeleng lesu. "Kenapa Lo ga bilang aja Key?"

"Ya, sekarang logika aja Bi. Lo tau sendiri kan Alrich sesayang apa sama Zia? Dia itu udah anggep Zia kek adiknya sendiri. Kebayang kan gimana seandainya gue cerita soal ini? Kemungkinan pertama dia bakal ragu dan yang ke dua dia mungkin bakal jauhin Zia. Gue gamau ngerusak hubungan mereka," jawab Nara.

"Terus Lo bakal biarin hubungan Lo di rusak gitu sama dia?" pungkas Bianca.

"Gue cuma pengen bahagia tanpa menyakiti siapapun." Nara menatap lurus Bianca. Tatapannya kosong penuh dengan kebimbangan. Bianca mengerti akan kondisi sahabatnya itu. Ia mencoba mengalihkan topik pembicaraan, mungkin Nara memang perlu merenungkan sejenak tentang masalah tersebut.

"Hm ... Soal kucing Lo itu gimana ceritanya?" Lagi-lagi Bianca merutukui dirinya. Sepertinya ia salah memilih pertanyaan, buktinya gadis di depannya ini jadi bertambah sedih.

"Aduh, sorry. Gue ga bermaksud bikin Lo sedih Key," ucap Bianca jadi tidak enak hati.

"It's okay Bi."

Nara menarik napas panjang. "Gue juga gatau pasti kejadiannya gimana. Waktu itu Iren minta di beliin kucing juga sama Mama karena dia suka ngeliat Brownie. Tapi Mama malah ngambil Brownie dari gue. Ya, Lo tau sendiri lah gue ga bisa apa-apa. Akhirnya yaudahlah gue coba ikhlasin walau berat, gue yakin pasti Brownie bakal baik-baik aja. Dan keesokan harinya waktu gue pulang dari mall Brownie udah ga bernyawa lagi."

"Pasti gara-gara Iren lagi?" tebak Bianca.

"Ya, mungkin Brownie ga sengaja nyakar Iren dan karena Mama terlalu protektif sama Iren  terjadilah."

Bianca mendengus kecil. "Gue sebenernya kesel Key, harusnya Lo itu sekali-sekali lawan aja. Biar mereka itu ga semena-mena sama Lo."

"Gue diem karna gue menghargai mereka. Ya, kalo misalkan gue memperlakukan mereka dengan buruk juga berarti gue sama aja dong kek mereka? Terkadang diam lebih baik, dan memaafkan adalah jalan yang tepat ketimbang harus balas dendam. Karna dengan menyimpan dendam hidup Lo gaakan tenang," jawab Nara.

HILANG [Segera Terbit]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang