D E L A P A N

699 92 14
                                        

"Ikut merasakan kebahagiaan orang lain adalah obat yang paling manjur untuk mengobati rasa kecewa"

***

Insiden jatuhnya Iren membuat hubungan antara Keynara dan Agatha semakin runyam. Jika dulu Agatha hanya mengabaikan Nara, kini ia seolah memusuhinya. Bahkan sekarang Nara harus menanggung hukuman atas kesalahan yang tidak ia perbuat. Sudah terhitung selama satu pekan Nara tidak di perbolehkan untuk keluar rumah, ia juga tidak mendapatkan uang saku sepeserpun. Sehingga mau tak mau ia harus berjalan kaki, dan rela menahan lapar lantaran tidak diperbolehkan membawa bekal makanan oleh Mama nya.

PLAK

"DASAR ANAK TIDAK TAU DIRI KAMU. ANAK MANJA. DI BERI TUGAS SEDIKIT SAJA TIDAK BACUS!"

Manja? Coba tolong jelaskan, Ma dimana letak manjanya Nara? Selama ini Nara apa-apa sendiri bahkan sejak kecil. Apa itu masih bisa dibilang manja, Ma?

Nara hanya bisa menjerit di dalam hatinya. Baru kali ini ia di bentak dan di caci maki oleh Mamanya, bahkan ditampar. Bibirnya seolah kelu tak mampu mengeluarkan sepatah kata pun. Hanya air mata lah yang mampu menggambarkan kehancurannya.

"GARA-GARA KETELEDORAN KAMU IREN HARUS MASUK RUMAH SAKIT! DENGAR INI BAIK-BAIK NARA! KEJADIAN INI ADALAH HAL YANG PERTAMA DAN TERAKHIR, KALAU SAMPAI TERJADI SESUATU DENGAN IREN LAGI SAYA GA AKAN SEGAN-SEGAN UNTUK USIR KAMU DARI RUMAH INI, CAMKAN ITU!"

Nara memejamkan matanya, meredam semua rasa sakit itu. Ucapan Agatha terus terngiang-ngiang dalam pikiran Nara. Ia benci ingatan itu, ingatan yang membuat luka itu kembali menganga lebar. Nara menghapus air matanya kasar. Ia mencoba mengabaikan itu semua dan kembali melangkahkan kakinya di bawah teriknya matahari. Perutnya terasa sangat perih lantaran ia belum makan apapun sejak pagi. Keringat dingin mulai bercucuran. Tubuhnya mulai kehilangan keseimbangan.

"Semangat Nar! Lo harus kuat, lo gaboleh lemah!"

"Sebentar lagi sampe!"

"Lo pasti bis-"

"KEYNARA!"

BRUK

***

Hari ini SMA Bakti Nusa mengadakan rapat rutin yang diadakan setiap bulannya. Hal ini membuat seluruh siswa dipulangkan lebih awal dari biasanya.

"Bjir! selo dong mba, takut amat ga kebagian gerbang. Noh abisin aja noh gerbang gaada yang doyan," sewot Kenzo ketika tak sengaja ditabrak oleh salah satu siswi.

Eh tunggu, dari belakang kok kek kenal ye.

"EMANG GUE SENGAJA!" sungut cewek itu tak kalah sewot.

"Eh, Baby Bianca. Kirain tadi siapa, gapapa dah babang Kenzo rela kok nyusruk demi Baby Bianca," ucap Kenzo sambil mengerlingkan matanya.

"APA LO BILANG?! ISHHH ALERGI GUE DI
PANGGIL GITU SAMA LO. MATI AJA SANA!" pekik Bianca seraya mendorong Kenzo.

Alrich dan Kevin yang sedari tadi hanya menjadi penonton tak mampu menahan tawanya.

"Anjir, mamam noh selokan."

"Kasian gue sama lo, Ken. Pulang, Ken pulang nangis di pojokan sana."

HILANG [Segera Terbit]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang