Happy Reading!!
***
Pagi ini Nara awali dengan senyuman. Benar kata Alrich, ia harus bangkit. Ia tidak boleh kalah dalam permainan ini. Lagi pula apa yang harus ia takutkan? Ia memiliki sahabat-sahabat yang akan selalu mendukungnya. Itu sudah lebih dari cukup untuk memacu semangatnya.
Senyumnya luntur begitu saja ketika pintu kamarnya tiba-tiba di buka dengan paksa.
Brak!
Nara tampak mengerutkan dahinya mencoba mengingat sesuatu. Tapi bukankah belum ada sepekan orangtuanya berada di puncak? Lalu mengapa mereka pulang lebih cepat?
Plak!
Baru saja Nara hendak membuka suara, namun Agatha justru langsung melemparkan beberapa lembar foto tepat di wajah ayu Nara.
"A-ada apa, Ma?" tanya Nara kaget.
Agatha menatap tajam putri sulungnya. Ia sudah sangat muak dengan wajah sok polos itu.
"Jangan pura-pura tidak tau kamu! Lihat foto-foto itu, sungguh memalukan!" Agatha yang sudah dirundung kabut emosi tak segan-segan membentak Nara.
Nara yang masih bingung segera mengambil foto itu lantas melihatnya. Ia kaget ada foto Alrich yang menggendong dirinya juga Alrich yang menemani Nara berbaring di ranjangnya. Semua kejadian malam itu tercetak jelas dalam foto-foto tersebut. Nara semakin di buat bingung, siapa yang mengambil gambar itu?
"Ma, Nara bisa jelasin sem-"
"Sudah jangan banyak bicara! Sekarang ikut saya ke bawah!" potong Agatha cepat.
Wanita itu menyeret Nara dengan paksa hingga jatuh tersimpuh di lantai. Nara mengabaikan lututnya yang nyeri. Ia mendongak, terlihat jelas raut Bagas yang sudah murka. Sudah dapat di pastikan papanya pun juga salah paham padanya.
"Pa, Ma, ini tidak seperti yang Mama dan Papa pikirkan. Semuanya salah paham. Nara bisa jelaskan," ucap Nara mencoba meyakinkan kedua orangtuanya.
Baik Bagas maupun Agatha hanya menatapnya dengan acuh. Mereka sudah termakan oleh gosip itu. Entah siapa yang sudah memberikan informasi ngawur pada mereka.
"Papa benar-benar kecewa sama kamu Nara. Bisa-bisanya kamu membawa laki-laki kerumah ini saat kami tidak di rumah sampai kamu bawa ke kamarmu. Kamu ini kenapa Nara? Papa tidak habis pikir dengan apa yang kamu lakukan!" hentak Bagas.
Nara hanya mampu menangis. Hanya untuk membela dirinya sendiri pun ia tidak mampu. Lidah nya terlalu kelu untuk mengucapkan kebenarannya. Kedua orangtuanya hanya mampu melontarkan hardikan untuk dirinya. Tidak bisakah mereka menanyakan terlebih dahulu apa yang terjadi pada dirinya? Apa mereka tau yang selama ini Nara alami? Semua penderitaan yang Nara pikul apa mereka memahaminya?
"Kamu ini semakin besar bukannya semakin dewasa, ingat Nara Papa tidak pernah mengajarkan kamu untuk seperti ini!"
Karna Papa memang tidak pernah mengajarkan apapun pada Nara!
"Kelakuan kamu ini sudah keterlaluan, apa kamu mau jadi jalang hah?!" kini Agatha pun ikut memojokkan Nara.
Nara tersentak mendengar apa yang mamanya katakan. Bagai ada seribu belati yang menancap tepat di ulu hantinya, mengapa mamanya menyamakan ia dengan jalang? Sehina itukah dirinya?
"Ma-mah... Nara bukan jalang," lirih Nara.
Agatha terkekeh mendengar ucapan putrinya. "Seorang gadis membawa laki-laki masuk ke kamarnya, apa namanya kalau bukan jalang hm? Dari mana kamu mendapatkan ajaran ini? Kamu ini menyalahgunakan kebebasan yang sudah kami beri sehingga pergaulan kamu ini semakin rusak!"
KAMU SEDANG MEMBACA
HILANG [Segera Terbit]
Novela JuvenilBUDAYAKAN FOLLOW DULU SEBELUM MEMBACA:) (Completed) "Tuhan mengizinkan kita untuk merasakan luka, tetapi Ia juga akan memberikan penawarnya." Ada pada ketidakadaan. Sepi di tengah keramaian. Bagaimana jika kita di tempatkan dalam keadaan tersebut? T...
![HILANG [Segera Terbit]](https://img.wattpad.com/cover/233017588-64-k469491.jpg)